Kesehatan

Udara Buruk Picu ADHD pada Anak

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 02 Maret 2023
Udara Buruk Picu ADHD pada Anak

dr Farhan Zubedi memaparkan bahayanya polusi udara terhadap perkembangan anak-anak. (foto: Merahputih.com/Kamila Putri)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KUALITAS udara menentukan kesehatan kita. Kualitas udara yang buruk bisa memicu berbagai permasalahan nan kompleks. Hal itu terungkap dalam bincang-bincang yang digelar dalam acara konferensi pers peluncuran Clean Air Zone di Mighty Minds Preschool, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (1/3).

Saat hadir sebagai pembicara, dr Farhan Zubedi, yang juga merupakan content creator di TikTok dan Instagram, berbagi pengetahuan tentang bahaya dari polusi udara PM2.5.

BACA JUGA:

Polusi Udara Tingkatkan Risiko Diabetes

PM2.5 adalah partikel udara yang memiliki ukuran sangat kecil yaitu kurang dari 2.5 mikrometer. Saking kecilnya, partikel ini dapat masuk ke alirah darah jika terhirup. “Kenapa PM2.5 sangat berbahaya? Ketika kita di luar ruangan, pembakaran dari kendaraan, dari pabrik, bahkan kadang-kadang kebakaran dari dalam rumah, misalnya asap dari kegiatan memasak atau bakar sampah, itu semua menghasilkan PM2.5 yang bisa menembus masker yang tidak tepat sehingga bisa masuk ke tubuh kita,” kata Farhan.

mighty minds
Ruangan dengan kualitas udar bersih mendukung tumbuh kembang anak. (foto: Merahputih.com/Kamila Putri)

Awalnya PM2.5 akan masuk dan mengganggu hidung hingga tenggorokan. Lama-kelamaan, partikel tersebut dapat turun sampai ke cabang bronkus. Untuk para pengidap asma, terkena paparan PM2.5 bisa memicu serangan asma atau sesak napas. Namun, untuk orang-orang yang tidak memiliki riwayat asma, efeknya terjadi dalam jangka waktu yang panjang.

“Hal-hal seperti ini bisa menyebabkan infeksi saluran napas. Itu terjadinya tidak dalam jangka waktu cepat. Jadi kalau misal kita terpapar hari ini, mungkin ada beberapa orang yang memang memiliki penyakit asma dari kecil bisa terpicu ketika menghirup polutan PM2.5. Merka bisa tiba-tiba sesak napas. Namun, bagi oang-orang yang tidak memiliki pre-condition terhadap kesehatan ini, ya panjang bisa sampai berpuluh-puluh tahun,” jelasnya.

Selain orang yang mengidap sesak napas, lansia, dan anak-anak, ibu hamil juga dikategorikan sebagai kelompok rentan. Pada anak-anak, mereka menjadi rentan karena mereka masih dalam tahap perkembangan yang artinya fungsi organ-organ dalam tubuh mereka, seperti otak, paru-paru, dan jantung juga belum sepenuhnya berkembang.

BACA JUGA:

Mighty Minds Preschool Terapkan Sekolah dengan Clean Air Zone

Terlebih lagi, anak-anak lebih pendek daripada orang dewasa. Hal itu menjadi salah satu faktor penting mereka rentan lantaran densitas polusi di bawah lebih banyak. “Anak-anak lebih dekat dengan permukaan. Meski polutan-polutan ini di udara, pada akhirnya akan jatuh juga ke bawah. Anak-anak lebih pendek, jadi mereka juga bisa menghirup udara yang ada di permukaan, yang tentunya densitas dari polutannya lebih banyak daripada yang di atas,” imbuhnya.

Anak-anak yang terpapar PM2.5 bukan hanya dapat mengidap asma, tetapi juga Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Kondisi ini menyebabkan anak tidak bisa fokus dan impulsif. “Jadi, ternyata ada sebuah penelitian terkait PM2.5 dengan ADHD. Anak tidak bisa fokus, tidak bisa diam, maunya bergerak terus, dan selalu impulsif. Ini kenapa berbahaya? Sebenarnya, berbahayanya di perkembangannya karena dia tidak bisa fokus sehingga dia akan terganggu pembelajarannya,” jelas Farhan.

Maka dari itu, penting bagi orangtua untuk memerhatikan lingkungan di sekitar anak. Penggunaan air purifier dapat membantu mengurangi polusi udara, tetapi Farhan menyarankan untuk melakukan gerakan preventif sebelum gerakan mengurangi.

polusi udara
dr Farhan Zubedi (kiri) kerap membagikan konten yang membahas dampak polusi udara. (foto: Merahputih.com/Kamila Putri)

“Pencegahannya, pertama tidak merokok di dalam rumah. Jadi orangtua yang merokok sangat berbahaya untuk anak-anak. Kalau memasak memang disarankan UNICEF itu pakai kompor elektrik atau liquefied petroleum gas, tetapi di Indonesia mahal dan listrik bisa bengkak. Jadi yang bisa kita lakukan ialah kalau memasak ada banyak asap, pastikan ventilasi cukup agar asap tidak ada di dalam ruangan, dan pastikan anak-anak tidak berada di dalam ruangan itu,” sarannya.

Lebih jauh Farhan memberi saran, ketika membawa anak ke luar rumah, orangtua bisa mencari tahu apakah itu merupakan waktu yang tepat untuk anak berada di luar. Pastikan apakah memang polutan di luar sudah baik atau belum. "Kalau unhealthy atau hazardous, lebih baik jangan dibawa ke luar dan kalau bisa jangan sampai dibawa ke jalan yang ramai kendaraan," tutupnya.(kmp)

BACA JUGA:

Perempuan Tertua di Dunia Bagikan Rahasia Umur Panjang

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Bagikan