MERAHPUTIH.COM - GREEN jobs tidak hanya berkutat pada sektor manufaktur, konstruksi, dan energi hijau, seperti energi terbarukan dan transisi energi. Peluang pekerjaan ini bisa dilakukan pekerja di semua sektor. Sebagai contoh, pekerja di perkantoran hijau (green office), usaha konstruksi hijau (green construction), serta gedung ramah lingkungan atau green building.
Manajer Riset dan Pengelolaan Pengetahuan Koaksi Indonesia Ridwan Arif mengatakan untuk beralih menekuni green jobs, banyak yang bisa dilakukan warga di kawasan urban, termasuk dengan pilihan gaya hidup ramah lingkungan dengan menggunakan transportasi publik. Cara lain jika tidak mau bergantung pada transportasi publik ialah penjejak green jobs bisa beralih menggunakan sepeda atau beragam moda kendaraan lain berbasis listrik.
Koaksi Indonesia menghitung kebutuhan tenaga kerja langsung di energi terbarukan berdasarkan kapasitas terpasang dalam target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Hasilnya, pada 2030, akan dibutuhkan lebih dari 430 ribu tenaga kerja langsung, yaitu tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proses pembangunan pembangkit untuk menghasilkan energi listrik dengan energi terbarukan.
Baca juga:
Kesadaran Cinta Lingkungan Meningkat, Green Jobs Jadi Tren Baru
Bidang kerja tersebut meliputi tenaga kerja untuk feasibility study, mendesain pembangkit, teknisi, petugas operation & maintenance, dan pekerja yang membangun. Dari pembangunan itu, tumbuh pekerjaan yang tidak langsung maupun yang terinduksi, seperti sales engineer, analis, legal, dan konsultan.
Sementara itu, pada 2050, diperkirakan ada lebih dari 1 juta green jobs yang tercipta dari sektor energi, baik itu pekerjaan langsung, pekerjaan tidak langsung maupun pekerjaan yang terpicu sektor usaha energi.
Sejalan, Bappena memetakan Okupasi Nasional Green Jobs. Hingga Agustus 2022, pemetaan okupasi ini telah mengidentifikasi 191 jenis green jobs. Sebanyak 70 di antaranya telah memiliki standar kompetensi.(*)
Baca juga: