CUACA dingin hujan lebat yang rutin terjadi di kawasan Bandara Internasional Silangit di Siborongborong, Tapanuli Utara, Sumatera Selatan akhir-akhir ini sekejap berubah menjadi cerah. Terik matahari mulai menyinari kawasan Pelabuhan Muara di tepi Danau Toba.
Di bawahnya, tampak ribuan orang berkumpul. Mereka terlihat rapi dalam barisan dengan selendang dan ikat kepala dari kain ulos. Ternyata orang-orang tersebut sedang mengadakan Pawai Budaya 1000 Ulos yang merupakan puncak dari rangkaian upacara adat Ulaon Matumona.
Di sela-sela keramaian, tampak seorang pria tua yang terlihat agak vokal. Ia sering dipanggil Opung Jafaris. Pada acara Ulaon Matumona kali ini, Jafaris boleh dibilang menjadi salah seorang yang bertanggung jawab atas terjadinya perbedaan cuaca nan kontras tersebut. Sebab ia bertindak sebagai dukun penjaga alam dalam rangkaian acara Ulaon Matumona tersebut.
Opung Jafaris pula lah yang mendampingi rombongan peserta Ulaon Matumona yang terdiri dari berbagai horja bius yang menetap di Kecamatan Muara bergerak dari Gereja HKBP Untemungkur menuju Lapangan SD Inpres Muara, tempat acara puncak Ulaon Matumona dilangsungkan.
1. Makna Upacara Adat Ulaon Matumona
Ulaon Matumona secara harafiah berarti kegiatan untuk berkumpul untuk memetik hasil produksi dan mengkonsumsinya secara bersama-sama dalam satu kecamatan, jelas Opung Jafaris.
"Kayak padi itu masih disabit, lalu padi tadi itu mau digiling, kita mau makan, patumona. Matumona itu mengambil, patumona itu memakan," jelasnya seperti dilansir Antara.
Sebagai seorang yang bertanggung jawab untuk memantapkan rangkaian acara supaya berkesesuaian dengan berbagai aturan adat dan tradisi masyarakat Batak, ia mengandalkan betul ingatannya pada upacara serupa yang ia saksikan saat ia masih remaja berusia 12 tahun.
Mengingat Opung Jafaris saat ini sudah menginjak usia 80 tahun, maka terakhir kali ia menyaksikan upacara Ulaon Matumona di Muara terjadi pada medio tahun 1950-an.