Tidur Siang Terlalu Lama Berisiko Obesitas-Hipertensi

Febrian AdiFebrian Adi - Senin, 01 Mei 2023
Tidur Siang Terlalu Lama Berisiko Obesitas-Hipertensi

Tidur siang baiknya sekitar 30 menit saja. (Unsplash/Becca)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

TIDUR siang bisa menjadi waktu istirahat yang baik untuk tubuh. Namun tahukah kamu bila tidur siang terlalu lama atau dalam durasi lebih dari 30 menit, kemungkinan lebih memiliki risiko obesitas dan hipertensi atau tekanan darah tinggi yang meningkat.

Dikutip dari Medical News Today pada Jumat (28/4), temuan itu ditunjukkan dari hasil studi yang diterbitkan di jurnal Obesity belum lama ini. Menurut studi tersebut, orang yang tidur siang dengan durasi 30 menit atau lebih cenderung memiliki indeks massa tubuh dan tekanan darah yang lebih tinggi, serta terkait dengan risiko diabetes dan penyakit jantung.

Baca Juga:

Tidur Setelah Makan Siang Ternyata Juga Ada Manfaatnya

Tidur siang sebentar, cenderung tidak menunjukkan peningkatan tekanan darah sistolik. (Unsplash/Gregory)

Sementara orang yang tidur siang sebentar, cenderung tidak menunjukkan peningkatan tekanan darah sistolik dibandingkan dengan orang yang tidak tidur siang.

Studi tentang tidur siang tersebut dilakukan terhadap 3.275 responden orang dewasa di Mediterania, Spanyol. Para peneliti membagi subjek ke dalam tiga kategori yaitu tidak tidur siang, tidur siang lebih pendek dari 30 menit, dan tidur siang lebih lama dari 30 menit.

Responden yang tidur siang lebih lama memiliki indeks massa tubuh yang lebih tinggi dan lebih mungkin berisiko mengalami sindrom metabolik dibandingkan mereka yang tidak tidur siang. Orang yang tidur siang lebih panjang juga memiliki angka lingkar pinggang, kadar glukosa puasa, tekanan darah sistolik, dan tekanan darah diastolik yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang tanpa tidur siang.

Menanggapi penelitian tersebut, profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Virginia Becca Krukowski, PhD, mengatakan bahwa penelitian tentang tidur yang terkait dengan obesitas memang sudah banyak dilakukan.

Baca Juga:

Tidur Siang Baik untuk Kesehatan, Asal...

Terlalu banyak tidur siang berisiko untuk kesehatan. (Unsplash/Anne)

Studi baru tersebut menambah pengetahuan dalam konteks budaya di wilayah Mediterania, tidur siang cenderung biasa dilakukan oleh banyak orang. Di sisi lain, Krukowski justru berpendapat bahwa tidur siang yang lebih lama kemungkinan merupakan akibat dari masalah kesehatan, bukan sebaliknya.

"Ada kemungkinan bahwa orang dengan obesitas kurang tidur di malam hari dan karenanya membutuhkan tidur siang yang lebih lama," ujar Krukowski.

Para peneliti pun mendorong untuk dilakukannya penelitian lebih lanjut oleh pihak lain di masa mendatang. Apakah tidur siang yang singkat lebih menguntungkan dibandingkan dengan tidur siang yang lama? Terutama bagi orang-orang yang memiliki gaya hidup tidak sehat. (far)

Baca juga:

Manfaat Tidur Siang untuk Kecantikan

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Febrian Adi

part-time music enthusiast. full-time human.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan