Stigma Jadi Penghalang Orang untuk Datang ke Psikolog
Jangan sungkan untuk pergi ke psikolog. (Foto: Pexels/cotton bro)
PSIKOLOG punya pengaruh penting ketika seseorang sedang mengalami kesehatan mental atau masalah lainnya. Sayangnya, stigma di masyarakat masih memengaruhi sebagian besar orang untuk pergi ke psikolog.
Hal tersebut disampaikan oleh CEO HatiPlong Farah Djalal. Menurutnya, selama pandemi ini sebenarnya semakin banyak orang yang membutuhkan tenaga ahli untuk kesehatan mental.
"Mereka tahu mereka membutuhkan, mereka punya masalah kesehatan mental. Tapi yang mereka lakukan kemudian adalah mengatasi dengan cara mereka sendiri. Tapi mereka pun sadar itu belum menyelesaikan keseluruhan masalahnya. Tapi karena stigma masih kuat, banyak yang belum mengambil tindakan untuk ke psikolog," ujarnya mengutip laman ANTARA, Rabu (19/1).
Stigma negatif yang masih ada di masyarakat, menurut Farah, adalah pergi ke psikolog jika memiliki masalah yang besar. Padahal, Farah menegaskan sebaiknya seseorang bisa pergi ke psikolog meskipun tidak memiliki masalah yang besar.
Baca juga:
Sering Keliru! Ketahui Perbedaan Antara Psikolog, Psikiater, dan Pekerja Sosial
"Jangan datang ke psikolog ketika masalah sudah besar. Itu salah satu stigmanya bahwa orang kalau ke psikolog meskipun tidak memiliki masalah yang besar," kata Farah.
"Sebenarnya itu salah. Sama seperti kalau luka fisik. Ada luka nih, ah obatin dulu sebentar. Tapi lama-lama luka itu jadi luka bernanah, tambah luas, baru datang ke dokter dan sudah telat," lanjutnya.
Farah mengatakan bahwa waktu yang tepat untuk datang ke psikolog adalah saat seseorang meraskan hal yang mengganjal dalam dirinya. Sebaiknya, pergi ke psikolog pun juga dilakukan sebelum masalah dapat mengganggu keseharian orang tersebut.
Baca juga:
"Jadi, sebenarnya begitu kamu merasa bahwa ada sesuatu yang menggganjal yang bikin hidup enggak plong, apalagi jangan tunggu mengganggu keseharian kita. Datang saja ke psikolog. Enggak perlu bawa masalah besar. Ceritain saja. Curhat saja layaknya curhat ke teman," kata Farah.
Farah juga memberikan sedikit tips untuk meringankan kesehatan mental seperti stres, depresi, atau rasa cemas.
"Sebenarnya kalau menurut banyak penelitian, kesehatan mental seperti stres, depresi, dan anxiety salah satu cara meringkannya adalah rajin berolahraga. Misalnya seperti depresi, orang yang depresi itu biasanya mereka enggak mau bergerak. Jadi psikolog pun memberikan konseling, terapi yang dilakukan juga exercise, mulai dari berjalan, bergerak, bahkan berlari," tutupnya. (and)
Baca juga:
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Hai Remaja! Ini Kata Psikolog Pentingnya Kendalikan Emosi Buat Masa Depan
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Ibu Negara Prancis Brigitte Macron Disebut Kena Gangguan Kecemasan karena Dituduh sebagai Laki-Laki
YouTube Kini Punya 'P3K Digital', Solusi Bagi Remaja yang Depresi Hingga Anxiety
Self-Care Menjadi Ruang Ekspresi dan Refleksi bagi Perempuan, Penting untuk Jaga Kesehatan Mental
The Everyday Escape, 15 Menit Bergerak untuk Tingkatkan Suasana Hati
Smart Posyandu Difokuskan untuk Kesehatan Jiwa Ibu setelah Melahirkan