Simak! Inilah 4 Kekecewaan Novel Baswedan Terhadap Polri yang Menyidik Kasusnya
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menunjukkan sketsa wajah terduga pelaku penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (31/7).
MerahPutih.com - Polri menunjukkan komitmennya untuk terus mendalami kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Korps baju cokelat itu baru saja memintai keterangan Novel di Singapura, Senin (14/8). Namun, siapa sangka, salah satu penyidik andalan KPK itu malah menyatakan kekecewaanya terhadap proses penyidikan yang dilakukan Polri.
Hal tersebut disampaikan Haris Azhar yang merupakan anggota Tim Advokasi Novel melalui keterangan tertulisnya. Berikut 4 kekecewaan Novel Baswedan:
1. Foto yang pernah diserahkan anggota Densus 88
Salah satu yang membuat Novel kecewa adalah soal foto terduga pelaku pelaku yang pernah diberikan ke Irjen Pol M Iriawan yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya.
Haris menyampaikan bahwa Novel pernah diberitahu oleh seorang anggota Densus 88 yang melakukan investigasi dan menemukan indikasi pelaku bahwa foto pria yang diduga pelaku tersebut dikirimkan kepadanya.
Setelah mendapat foto tersebut dari anggota Densus 88, Novel mengirimkan foto tersebut ke adiknya untuk kemudian diperlihatkan kepada orang di sekitar kejadian. “Tujuannya untuk mengetahui apakah mereka mengenali foto tersebut,” kata Haris.
Hasilnya, banyak orang yang mengenali foto tersebut. Bahkan mereka yakin orang di foto itu adalah pelaku . Baik pengintai ataupun eksekutor. “Foto tersebut kemudian saya berikan kepada Kapolda (M Iriawan) dan Rudy (Dirkrimum Polda Metro Jaya). Kejadian sekitar tanggal 19 April 2017," imbuh Haris. Namun, hingga kini tidak ada perkembangan berarti dari foto tersebut.
2 Saksi kunci yang dipublikasikan
Selain itu, Novel juga kecewa karena para saksi kunci dipublikasi oleh polisi. Haris mengatakan, Novel beranggapan sejatinya polisi haris melindungi dan menjaga para saksi kunci, supaya memberi keterangan dengan baik dan secara aman. Menurut Novel, penyidik terlalu terburu-buru membuat kesimpulan sendiri dan mempublikasikan kesimpulan tersebut. Jadi, kesannya menutupi pihak-pihak tertentu.
3. Misteri si mata elang dan pria pembeli gamis
Hal lain yang membuat Novel kecewa adalah soal penyebutan polisi bahwa orang yang memata-matai rumahnya adalah kelompok mata elang alias debt collector yang bertugas mencari kendaraan gagal bayar.
Kata Haris, banyak orang di sekitar rumah Novel menceritakan tidak demikian. “Bahkan di antara orang yang mengintai itu ada yang berupaya masuk ke rumah Novel dengan berpura-pura hendak membeli pakaian gamis laki-laki,” kata dia.
4. Sidik jari di cangkir yang hilang
Selain itu, Novel juga kecewa lantaran tidak diketemukannya sidik jari pada cangkir yang digunakan untuk menyiramnya dengan air keras. Padahal, itu merupakan bukti yang penting.
Novel juga menilai penyidik menjaga jarak dengan keluarganya dan tidak pernah menyampaikan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) sejak pertama kali perkara diusut. (*)
Bagikan
Thomas Kukuh
Berita Terkait
Novel Baswedan: TWK KPK Manipulatif, Pimpinan Baru Jangan Lanjutkan Kebijakan Firli
Novel Baswedan Ditunjuk Jadi Wakil Kepala Satgassus Optimalisasi Penerimaan Negara
Novel Baswedan Soroti Pencalonan Nurul Ghufron sebagai Hakim Agung: Harusnya Gagal Administrasi
Semua Pelaku Penyiraman Air Keras ke Anggota Polres Tangsel Tak Lebih dari 20 Tahun
Gengster Tangsel ‘SCBD’ yang Serang Polisi Pakai Air Keras Punya Ribuan Follower di Medsos
Bahaya Air Keras yang Disiram ke Anggota Polres Tangsel, Bisa Sebabkan Kebutaan sampai Kematian
Viral Cewek Bekasi Naik Motor Disiram Air Keras, Begini Kronologisnya Versi Polisi
MK Mulai Sidangkan Gugatan Novel Baswedan Terkait Syarat Usia Capim KPK
Muncul ke Publik, Faisal Halim Fokus pada Pemulihan dan Rehabilitasi