MerahPutih.com - Pusat Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Puspomau) menetapkan empat prajurit sebagai tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap prajurit TNI AU Serda Ahmad Muzammul Farisa yang meninggal dunia.
Danpuspom AU Marsekal Muda TNI Daan Sulfi mengatakan keempat tersangka merupakan anggota TNI Angkatan Udara.
"Yaitu Serda MTS, Serda MAD, Serda JM, Serda AH. Dan seluruhnya adalah anggota TNI Angkatan Udara," kata Daan Sulfi saat jumpa pers di Kantor Puspom AU, Jakarta Timur, Rabu (16/9).
Baca juga:
Tim Advokasi Minta MK Segera Putus Uji UU TNI demi Supremasi Sipil
Tiga Prajurit Jadi Korban
Daan Sulfi mengatakan terdapat tiga korban dalam perkara tersebut. Namun, hanya Serda Ahmad yang meninggal dunia.
Dua korban lainnya yakni Serda ZN dan Serda RP.
“Dan Serda ZN, dan Serda RP," imbuhnya.
Menurut Daan, Serda Ahmad mengalami penganiayaan yang dilakukan seniornya di mess milik TNI AU.
Peristiwa tersebut disebut terjadi pada Rabu (9/9) sekitar pukul 21.05 WIB.
Kejadiannya adalah di Mess Galaksi, yaitu adalah mess-nya Dispsi AU, Jalan Kopatdara, Lanud Halim Perdanakusuma,
Danpuspom AU Marsekal Muda TNI, Daan Sulfi.
Ayah Korban Sebut Ada Luka di Wajah dan Dada
Sebelumnya, Prajurit TNI AU Serda Ahmad Muzammul Farisa diduga meninggal secara tidak wajar.
Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo, mengatakan anaknya mengalami luka pada bagian wajah dan dada. Ia mengetahui kondisi jasad anak pertamanya tersebut melalui kiriman file foto.
Pada Kamis (10/9) malam sekitar pukul 22.00 WIB, jenazah Serda Ahmad disebut belum tiba di rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan.
Baca juga:
Dua Prajurit TNI Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Batal Dipecat, Hukuman Dipangkas
Toni mengatakan putranya diduga meninggal setelah menjadi korban penganiayaan yang dilakukan sekitar empat orang senior saat berada di asrama.
Menurut Toni, dugaan penganiayaan tersebut terjadi pada Kamis (10/9) pagi sekitar pukul 03.00 WIB.
Toni mengaku sempat menerima kabar yang berbeda-beda mengenai penyebab meninggalnya Serda Ahmad.
Informasi tersebut kemudian berkembang hingga keluarga menduga putranya menjadi korban penganiayaan oleh seniornya. (Knu)