MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami fluktuasi setelah kondisi ekonomi global kian penuh tekanan.
Rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin sore di tengah meningkatnya tekanan eksternal akibat lonjakan harga minyak dunia dan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Rupiah ditutup melemah 24 poin ke level Rp 16.949 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya Rp16.925 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat melemah hingga 70 poin.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen eksternal dan internal, terutama lonjakan harga minyak dunia yang kini telah menyentuh level sekitar 92 dolar AS per barel, tertinggi sejak 2020.
Baca juga:
Harga tersebut jauh melampaui asumsi makro dalam APBN 2026 yang mematok harga minyak di kisaran 70 dolar AS per barel. Kondisi ini berpotensi meningkatkan defisit anggaran negara hingga Rp 6,8 triliun.
"Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui 100 dolar AS per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen," kata Ibrahim.
Lonjakan harga minyak dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah serangan udara Israel dan Amerika Serikat yang menargetkan fasilitas minyak Iran.
Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap sejumlah fasilitas minyak di kawasan tersebut.
Dari faktor eksternal, situasi kian memanas setelah Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal di jalur pelayaran Selat Hormuz, jalur strategis yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Potensi gangguan pada jalur tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global. (*)