MerahPutih.com - Nilai tukar Rupiah terhadap berbagai mata uang dunia dan regional terseok dan melemah. Hal sama juga terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami koreksi tajam pada perdagangan Kamis (4/6) ini.
Pada awal perdagangan penurunan lebih dari 4 persen. IHSG tercatat melemah 246,14 poin atau 4,14 persen ke level 5.694,91. Dan rupiah tertekan 0,27 persen hingga menembus Rp 18.015 per dolar AS
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai koreksi tajam IHSG menunjukkan pasar sedang menghadapi krisis kepercayaan yang cukup serius.
Koreksi tajam IHSG hingga menembus level psikologis 6.000 dan ditutup di 5.941 pada perdagangan 3 Juni 2026 menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengalami krisis kepercayaan yang cukup serius,
kata Hendra di Jakarta, Kamis (4/6).
Baca juga:
Rupiah Makin Melemah, Sudah Tembus Rp 18.015 per Dolar AS di Kamis (4/6) Pagi
Menurut dia, pelemahan pasar saham tidak hanya dipengaruhi sentimen eksternal, namun juga diperparah oleh sejumlah faktor domestik.
Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta berlanjutnya arus keluar dana asing yang menjadi faktor yang mendorong investor mengurangi investasinya pada aset berisiko di Indonesia.
Hendra memandang kondisi itu terlihat kontras karena sebagian besar bursa saham Asia justru bergerak menguat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal dibandingkan eksternal,
jelasnya.
Ia mengatakan pasar cenderung bergerak berdasarkan persepsi terhadap risiko dan prospek ke depan, bukan semata-mata dipengaruhi pernyataan optimistis mengenai kondisi ekonomi.
Ketika pemerintah menyampaikan fundamental ekonomi masih kuat, namun di saat yang sama rupiah terus melemah, IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk secara global tahun ini.
Kepercayaan investor merupakan aset yang sangat mahal nilainya. Ketika kepastian kebijakan berkurang dan pelaku pasar kesulitan memproyeksikan arah ekonomi ke depan, investor cenderung memilih menunggu atau bahkan memindahkan dananya ke negara lain yang dianggap lebih stabil,
jelas Hendra.
Dari sisi arus modal, Hendra mencatat investor asing kembali membukukan penjualan bersih (net sell) sekitar Rp 864 miliar pada perdagangan hari ini. Sementara secara akumulatif sejak awal tahun, dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia mencapai sekitar Rp 67 triliun.
Besarnya arus keluar modal tersebut menjelaskan tekanan jual yang terus terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama indeks.