Produksi Minyak Dikurangi, Amerika Serikat Sebut OPEC Plus Picik

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Kamis, 06 Oktober 2022
Produksi Minyak Dikurangi, Amerika Serikat Sebut OPEC Plus Picik

Kilang minyak. (Foto: Antara)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Negara negara penghasil minyak atau OPEC+ (Plus) telah menyetujui pengurangan produksi minyak yang tajam pada Rabu (5/10). Pemimpin de facto OPEC Arab Saudi mengatakan pemotongan produksi 2 juta barel per hari (bph), atau sama dengan 2,0 persen dari pasokan global.

Kondisi yang membatasi pasokan di pasar yang sudah ketat ini membuat Amerika Serikat bereaksi dan mengungkapkan rasa kecewanya.

Baca Juga:

Harga Minyak Dunia Kembali di Bawah USD 90 Per Barel

Gedung Putih mengatakan Presiden Joe Biden akan terus menilai apakah akan merilis cadangan minyak strategis lebih lanjut untuk menurunkan harga.

"Presiden kecewa dengan keputusan picik OPEC+ untuk memangkas kuota produksi sementara ekonomi global menghadapi dampak negatif lanjutan dari invasi (Presiden Rusia Vladimir) Putin ke Ukraina," kata Gedung Putih.

Biden menghadapi peringkat persetujuan yang rendah menjelang pemilihan paruh waktu karena inflasi yang melonjak dan telah meminta Arab Saudi, sekutu lama AS, untuk membantu menurunkan harga.

Para pejabat AS mengatakan sebagian alasan Washington menginginkan harga minyak yang lebih rendah adalah untuk menghilangkan pendapatan minyak Moskow. Biden melakukan perjalanan ke Riyadh tahun ini tetapi gagal mendapatkan komitmen kerja sama yang kuat tentang energi. Hubungan semakin tegang karena Arab Saudi tidak mengutuk tindakan Moskow di Ukraina.

Pengurangan pasokan minyak yang diputuskan di Wina pada Rabu (5/10) dapat memacu pemulihan harga minyak yang telah turun menjadi sekitar 90 dolar AS dari 120 dolar AS tiga bulan lalu di tengah kekhawatiran resesi ekonomi global, kenaikan suku bunga AS dan dolar yang lebih kuat.

Menteri Energi Saudi Abdulaziz bin Salman mengatakan OPEC+ perlu proaktif karena bank sentral di seluruh dunia bergerak untuk mengatasi inflasi yang melonjak dengan suku bunga yang lebih tinggi.

Pemotongan produksi Rabu (5/10/2022) sebesar 2 juta barel per hari didasarkan pada angka-angka dasar yang ada, yang berarti pemotongan tersebut tidak akan terlalu dalam karena produksi OPEC+ turun sekitar 3,6 juta barel per hari dari target produksinya pada Agustus.

Kurangnya produksi terjadi karena sanksi Barat terhadap negara-negara seperti Rusia, Venezuela dan Iran dan masalah produksi dengan produsen seperti Nigeria dan Angola. Pangeran Abdulaziz mengatakan pemotongan sebenarnya adalah 1,0-1,1 juta barel per hari.

Arab Saudi menolak kritik bahwa mereka berkolusi dengan Rusia, yang termasuk dalam kelompok OPEC+, untuk mendorong harga lebih tinggi dan mengatakan Barat sering didorong "arogansi kekayaan" ketika mengkritik kelompok tersebut.

Baca Juga:

Inflasi di AS Meningkat, Harga Minyak Turun

#Harga Minyak Dunia #OPEC
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Alwan Ridha Ramdani

Alwan Ridha Ramdanu adalah Jurnalis kelahiran di Bandung, Jawa Barat. Sudah 20 tahun menjadi jurnalis dengan mayoritas fokus pada liputan atau menulis terkait ekonomi makro. Selain jurnalis, Alwan juga adalah pendamping petani sawit swadaya dan juga berpengalaman dalam communication dan community terkait isu keberlanjutan dan lingkungan hidup.
Show More

Berita Terkait

Indonesia
Ada Ketidakpastian Suplai, Harga Minyak Indonesia Melonjak ke USD 112,81 dari USD 89,43
Ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan (supply disruption risk).
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 12 Oktober 2026
Ada Ketidakpastian Suplai, Harga Minyak Indonesia Melonjak ke USD 112,81 dari USD 89,43
Indonesia
Harga BBM Capai Rekor Tertinggi, Prancis Gelontorlan Cadangan Minyak Nasional 10 Juta Barel ke Pasar
Langkah tersebut akan memungkinkan harga bahan bakar di stasiun pengisian turun sebesar 12-18 sen euro per liter.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 08 Oktober 2026
Harga BBM Capai Rekor Tertinggi, Prancis Gelontorlan Cadangan Minyak Nasional 10 Juta Barel ke Pasar
Dunia
G7 Lepas Cadangan Minyak Darurat, Dilakukan Terkoordinasi selama 4 Bulan
Dilakukan sebagai tanggapan atas melonjaknya harga dan meningkatnya volatilitas di pasar energi global.
Dwi Astarini - Sabtu, 03 Oktober 2026
G7 Lepas Cadangan Minyak Darurat, Dilakukan Terkoordinasi selama 4 Bulan
Indonesia
Harga Pertalite-Biosolar Aman Minyak Dunia Tembus US$ 107 per Barel, Tumbalnya Pertamax Cs
Harga minyak dunia meroket tembus US$ 107 per barel akibat konflik AS-Iran. Pemerintah pastikan Pertalite tidak naik, namun BBM nonsubsidi bakal disesuaikan!
Wisnu Cipto - Selasa, 29 September 2026
Harga Pertalite-Biosolar Aman Minyak Dunia Tembus US$ 107 per Barel, Tumbalnya Pertamax Cs
Indonesia
Harga Minyak Naik, Ekspor Diharapkan Meningkat Buat Tutup Defisit Neraca Perdagangan
Salah satu upaya perluasan pasar ekspor adalah melalui Trade Expo Indonesia 2026 yang akan digelar pada 14-18 Oktober.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 22 September 2026
Harga Minyak Naik, Ekspor Diharapkan Meningkat Buat Tutup Defisit Neraca Perdagangan
Indonesia
RAPBN 2027: Pemerintah Patok Harga Minyak USD 75 per Barel, Lifting Minyak 610 Ribu Barel per Hari
Pemerintah mematok asumsi harga minyak mentah Indonesia USD75 per barel dalam RAPBN 2027. Lifting minyak ditargetkan 610 ribu barel per hari.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 14 Agustus 2026
RAPBN 2027: Pemerintah Patok Harga Minyak USD 75 per Barel, Lifting Minyak 610 Ribu Barel per Hari
Indonesia
Bahlil Ungkap Instruksi Prabowo agar Harga BBM Subsidi Ditahan, Non-Subsidi Menyesuaikan Pasar
Bahlil menjelaskan bahwa dinamika pasar energi global menjadi perhatian utama pemerintah
Angga Yudha Pratama - Selasa, 04 Agustus 2026
Bahlil Ungkap Instruksi Prabowo agar Harga BBM Subsidi Ditahan, Non-Subsidi Menyesuaikan Pasar
Dunia
IRGC Kembali Blokade Total Selat Hormuz dan Tembak Kapal Pelanggar, Rute Kapal Tanker Dunia Berubah Total
IRGC menuduh sejumlah kapal asing sengaja melintasi zona terlarang serta mengabaikan instruksi navigasi internasional
Angga Yudha Pratama - Minggu, 12 Juli 2026
IRGC Kembali Blokade Total Selat Hormuz dan Tembak Kapal Pelanggar, Rute Kapal Tanker Dunia Berubah Total
Indonesia
Kabar Baik! Menkeu Purbaya Sebut Harga Pertamax Berpeluang Turun
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan, bahwa harga Pertamax berpotensi turun. Hal itu dikarenakan pergerakan harga minyak dunia.
Soffi Amira - Selasa, 23 Juni 2026
Kabar Baik! Menkeu Purbaya Sebut Harga Pertamax Berpeluang Turun
Dunia
AS dan Iran Capai Kesepakatan, Harga Minyak Tergelincir
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan harga minyak dunia, turun 4,8 persen menjadi USD 83,18 (sekitar Rp 1,36 juta) per barel.
Dwi Astarini - Senin, 15 Juni 2026
 AS dan Iran Capai Kesepakatan, Harga Minyak Tergelincir
Bagikan