MerahPutih.com - Konflik di Timur Tengah bergolak sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil serta pemimpin Iran.
Eskalasi lanjutanya adalah blockade Selat Hormuz baik oleh Iran maupun Amerika Serikat yang membuat Harga minyak melambung tinggi dan membuat krisis di berbagai negara yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan tersebut.
Komisioner Iklim Uni Eropa Wopke Hoekstra memperingatkan bahwa blok Eropa harus bersiap menghadapi guncangan energi dan ekonomi dalam beberapa bulan ke depan, bahkan jika konflik di Timur Tengah berakhir hari ini.
“Tidak ada yang bisa memastikan bagaimana masa depan ekonomi akan terbentuk, tetapi kita kemungkinan menghadapi gejolak lebih lanjut," kata Hoekstra saat tiba di pertemuan Dewan Urusan Ekonomi dan Keuangan (ECOFIN) di Brussel, Selasa (5/5).
Baca juga:
Terminal Minyak Karimun Masuk Daftar Sanksi Uni Eropa, Rusia Tetap Siap Kirim Minyak ke Indonesia
"Jika melihat berbagai skenario energi dan ekonomi yang terkait, bahkan dalam kondisi terbaik sekalipun — meski tembak-menembak di Timur Tengah berhenti total hari ini — dampaknya akan tetap terasa selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Karena itu, kita harus benar-benar mengencangkan sabuk pengaman dan mengantisipasi kemungkinan situasi yang lebih buruk."
AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April, namun pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Presiden AS Donald Trump memperpanjang penghentian serangan untuk memberi waktu bagi Iran menyusun “proposal terpadu.”