MerahPutih.com - Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan mengapa hilangnya ribuan triliun rupiah kekayaan negara selama bertahun-tahun tidak mendapat banyak sorotan maupun protes dari berbagai pihak.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7).
“Ribuan triliun yang menguap, yang pergi dari bumi Indonesia, tiap tahun selama 34 tahun tidak ada komentar, tidak ada pakar yang protes, tidak ada investigasi,” ujar Prabowo.
Baca juga:
Prabowo Evaluasi Kabinet Jelang Dua Tahun Pemerintahan, 108 Masalah Telah Diselesaikan
Prabowo: Program MBG Justru Banyak Dikritik
Di sisi lain, Prabowo menyoroti bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang bertujuan memenuhi kebutuhan pangan dan gizi masyarakat, justru menjadi sasaran kritik.
Menurutnya, kebijakan yang ditujukan untuk membantu anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia tersebut dianggap sebagai bentuk pemborosan.
Saudara-saudara, saya diserang karena ingin memberi makan bergizi untuk anak-anak Indonesia, untuk ibu-ibu hamil, untuk orang-orang lansia. Dianggap pemborosan,
Presiden RI, Prabowo Subianto.
Tegaskan MBG untuk Atasi Persoalan Gizi Anak
Prabowo kembali menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan langkah pemerintah untuk mengatasi persoalan gizi yang masih dihadapi anak-anak Indonesia.
Ia menyinggung masih tingginya angka stunting serta kondisi sebagian anak yang belum memperoleh asupan makanan yang memadai.
"Kita mau beri makan kepada anak-anak yang jelas-jelas minimal seperempat anak-anak kita stunting, sebagian besar juga banyak yang tidak makan. Kita dituduh pemborosan, kita dibilang ekonomi mau kolaps, harga saham akan ambruk, mata uang akan melemah. Alasannya karena boros,” ucapnya.
Baca juga:
Minta Perhatian Tertuju pada Persoalan Pangan dan Petani
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menilai perhatian publik juga perlu diarahkan pada persoalan-persoalan mendasar yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Ia menyebut pengendalian harga pangan, ketersediaan pupuk bagi petani, serta pemenuhan gizi anak-anak di sekolah sebagai isu yang seharusnya menjadi fokus bersama.
"Kita bertanya sekarang apakah harga pangan terkendali, apakah pupuk tersedia untuk rakyat, untuk petani dan harganya terjangkau, apakah anak-anak sekolah memperoleh makanan bergizi di sekolah,” tutupnya. (Pon)

