Pohon Tertua di Dunia Ditemukan di Chili
Di kawasan Santiago, Chile terdapat pohon tertua di dunia. (Unsplash/Agustín Ljosmyndun)
KOKOH berdiri dengan batang besarnya, membuat pohon itu terlihat tua dibandingkan pohon sekitarnya. Lumut yang tumbuh dengan sehat dan membungkusnya seakan pohon itu menjadi hunian paling nyaman. Meski terlihat tua, daun yang tumbuh pun masih terlihat segar.
Pohon dengan jenis pinus disebut tua memang benar adanya. Bahkan peneliti menyebutnya sebagai ‘kakek buyut’ dari pohon lainnya, sekaligus menjadi pohon tertua di dunia. Dituliskan di laman Bangkok Post, pohon itu ditemukan di hutan Santiago, Chili.
Baca Juga:
'Pohon' Besi dengan Kanopi Panel Surya akan Jadi Charger Mobil Listrik
Peneliti yang menemukan tumbuhan raksasa ini mengungkapkan pohon pinus ini telah berusia lebih dari lima ribu tahun, dan telah melihat semua yang terjadi di dunia ini. Pohon ini selamat dari perubahan iklim, bencana, dan perubahan tatanan dunia.
"Dia selamat, tidak ada orang lain yang memiliki kesempatan untuk hidup begitu lama," kata Antonio Lara peneliti di Universitas Austral dan pusat ilmu iklim dan ketahanan di Chili, sekaligus bagian dari tim yang mengukur usia pohon.
Petugas taman Anibal Henriquez menemukan pohon itu saat berpatroli di hutan pada tahun 1972. Dia meninggal karena serangan jantung 16 tahun kemudian saat berpatroli di hutan yang sama dengan menunggang kuda. “Dia tidak ingin orang dan turis tahu (di mana itu) karena dia tahu itu sangat berharga,” ujar anak perempuan Henriquez.
Baca Juga:
Ayo Menanam Pohon, Agar Terus Memberikan Manfaat pada Lingkungan
Karena ketenarannya yang semakin meningkat, badan kehutanan nasional harus menambah jumlah penjaga taman dan membatasi akses untuk melindungi si Kakek Buyut. Pohon yang dikenal sebagai cemara Patagonian ini hidup berdampingan dengan spesies pohon lain, seperti coigue, pinus prem dan tepa, katak Darwin, kadal, dan burung seperti chucao tapaculo dan elang Chili.
Pada tahun 2020, Barichivich dan Lara berhasil mengekstraksi sampel dari pohon ‘Kakek buyut’ menggunakan bor manual terpanjang yang ada, sayangnya mereka tidak dapat mencapai pusatnya.
“Pohon-pohon purba memiliki gen dan sejarah yang sangat istimewa karena merupakan simbol perlawanan dan adaptasi. Mereka adalah atlet alam terbaik. Jika pohon-pohon ini hilang, maka kunci penting tentang bagaimana kehidupan beradaptasi dengan perubahan di planet ini juga akan hilang," tutup Barichivich. (mro)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Syahbandar Larang Kapal Wisata Labuan Bajo Berlayar Malam Hari
Kereta Panoramic Jadi Favorit Wisata Nataru 2025-2026, Pelanggan Capai 11.819 Orang
Cirebon Jadi Tujuan Pariwisata Baru saat Nataru 2026, KAI Catat 274 Ribu Penumpang Kereta Api Turun dan Naik
Penumpang KA Panoramic Tembus 150 Ribu Orang per Tahun, Bukti Naik Kereta Jadi Tren Baru Berlibur
Menikmati Keindahan Senja di Pantai Pattaya, Wajah Lain Wisata Alam Thailand
Teater Bintang Planetarium Buka Sampai April 2026, Fasilitas Canggih Siap Bikin Pemuda Jakarta Pintar
Setelah Kemalingan, Museum Louvre Alami Kebocoran yang Merusak Koleksi Buku
Ketok Harga Bikin Orang Kapok Liburan di Banten, DPRD Desak Regulasi Tarif Wisata
Wisatawan Indonesia Andalkan Fitur AI untuk Rekomendasi dan Layanan Hotel
10 Rekomendasi Tempat Wisata Purwokerto Terbaik 2025, Harga Terjangkau!