MerahPutih.com - Direktur Indonesia Political Opinion Dedi Kurnia Syah Putra mengatakan, seharusnya Presiden Jokowi tak hanya fokus pada kalangan milenial untuk menjadi staf khususnya, tapi juga penting melibatkan kelompok yang sudah mapan.
Menurut dia, ditunjuknya orang yang berpengalaman bertujuan sebagai penyaring ide atau gagasan dari anak-anak muda tersebut.
Baca Juga
Fahri Hamzah: Penunjukan Staf Khusus Milenial Mundurkan Sektor Riil
"Makanya hal yang paling baik selain ada kelompok-kelompok milenial, Pak Jokowi tetap memperhatikan kelompok- kelompok yang lebih mapan secara psikologis, agar apa yang dicetuskan oleh anak-anak muda ini tersaring lebih dahulu," kata Dedi saat acara diskusi bertajuk 'Efek Melenial Di Lingkaran Istana' di Hotel Ibis, Jakarta Pusat, Sabtu (23/11).
Dedi menilai, ada plus minus dari keputusan Jokowi mengangkat tujuh Staf Khusus Presiden dari kalangan anak muda. Sisi plusnya, kaum milenial bisa memahami betul bahwa Indonesia menghadapi bonus demografi sehingga penting untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul sejak dini.
"Ini kan persoalannya adalah Pak Jokowi memahami betul bahwa Indonesia sekarang sedang mengalami yang namanya bonus demografi, kemudian banyaknya anak-anak muda di Indonesia yang inginnya Pak Jokowi adalah semua harus produktif," paparnya.
"Nah untuk membuat produktivitas anak-anak muda itu tentu perlu kebijakan-kebijakan yang punya sentuhan dengan milenial dan mau tidak mau karena Pak Jokowi bukan kelompok milenial maka beliau rekrutlah kelompok-kelompok millenial yang dianggap dekat dengan psikologis anak muda," sambungnya.
Baca Juga
Staf Khusus Didominasi Kaum Milenial, Presiden Jokowi Ingin Pertajam Inovasi
Hal inilah disebut Dedi sebagai sisi baik dari keputusan Presiden menunjuk tujuh staf khusunya dari kalangan milenial.
"Di satu sisi ini baik sekali. Artinya apa? Pak Jokowi memahami betul bahwa pembangunan kita harus sesuai dengan arus kondisi yang ada, dan kondisi milenial itu yang sekarang sedang momentumnya," paparnya.
Sementara sisi minusnya, ia berpendapat bila dikemudian hari anak-anak muda itu tidak mampu mengemban amanah yang diberikan, maka bisa terjadi bentrok dengan apa yang diinginkan oleh Jokowi.
"Yang kedua tentu ada sisi yang kurang baik sisi yang kurang baik itu adalah anak-anak muda ini terlalu besar diberikan peluang, diberikan kepercayaan kemudian kapasitas mereka tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Jokowi tentu ini akan terjadi clash," tutup Dedi.
Seperti diketahui, Presiden Jokowi baru saja menunjuk tujuh Staf Khusus Presiden dari kalangan milenial. Ketujuh stafsus Jokowi itu yakni;
1. CEO Amartha; Andi Taufan Garuda Putra
2. Perumus Gerakan Sabang Merauke; Ayu Kartika Dewi
3. Pendiri Ruang Guru; Adamas Belva Syah Devara
4. Peraih beasiswa kuliah di Oxford; Billy Gracia Yosaphat Mambrasar
5. CEO dan Founder Creativepreneur; Putri Indahsari Tanjung
6. Pendiri Thisable Enterprise; Angkie Yudistia
7. Mantan Ketua PMII; Aminuddin Maruf.
"Tugas khususnya adalah mengembangkan inovasi di berbagai bidang," ujar Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta.
Baca Juga
Cerita Presiden Jokowi yang Ingin Angkat Staf Khusus Disabilitas
Jokowi menyampaikan, tujuh anak muda ini akan menjadi teman diskusinya. "Akan memberikan gagasan inovatif sehingga bisa mencari cara baru yang out of the box untuk mengejar kemajuan kita," ucapnya (Asp).