Catatan Akhir Tahun 2021

Pilpres 2024 Masih Jauh, Relawan Mulai Genit Usung Capres

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Rabu, 29 Desember 2021
Pilpres 2024 Masih Jauh, Relawan Mulai Genit Usung Capres

Deklarasi relawan usung capres. (Foto: Antara)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Aroma Pemilihan Presiden (Pilpres) mulai menguat meski kontestasi demokrasi lima tahunan itu baru akan dihelat pada 2024. Sepanjang 2021, sejumlah kelompok relawan bermunculan untuk mendukung tokoh tertentu menjadi calon presiden (capres).

Adapun tokoh-tokoh yang didukung oleh relawan tersebut mulai dari kepala daerah hingga pejabat di level pusat. Misalnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo; Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan; Ketua DPR RI Puan Maharani; Menparekraf Sandiaga Uno; Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri BUMN Erick Thohir.

Baca Juga:

Jadwal Pemilu Berlarut-larut, Tendensi Kepentingan Pemerintah Dinilai Sangat Kuat

Ganjar Pranowo

Jokowi Mania (Joman), relawan pendukung Jokowi sudah memastikan mendukung Ganjar Pranowo untuk Pilpres 2024 mendatang. Bahkan Joman telah mengeluarkan tagline "Ganjar The Next Jokowi".

"Kami dukung Ganjar Pranowo pengganti Jokowi di 2024," kata Ketua Joman, Imanuel Ebenezer.

Pria yang karib disapa Noel ini membeberkan alasan pihaknya mendukung Ganjar. Menurutnya, Ganjar memiliki integritas, sosok pekerja, dan memiliki komitmen untuk kebinekaan.

Anies Baswedan

Relawan Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (ANIES) juga telah mendeklarasikan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sebagai capres pada Pemilu 2024. La Ode menuturkan, kelompok relawan ini dibentuk dari berbagai komponen masyarakat.

Koordinator ANIES, La Ode Basir, yakin Anies bisa mengikuti jejak Jokowi yang saat ini menjadi Presiden RI, setelah sebelumnya menjabat sebagai Gubernur DKI.

"Apalagi Pak Anies, yang lebih tuntas 5 tahun bekerja di Jakarta. Jokowi saja yang hanya hampir 2 tahun memimpin Jakarta, apalagi Pak Anies. Saya rasa akan jauh lebih baik," kata La Ode.

Puan Maharani

Relawan yang menamakan diri Gema Puan mendeklarasikan Puan Maharani sebagai capres 2024 di Semarang, Jawa Tengah. Puan dianggap sebagai sosok yang pantas menjadi Ratu Adil.

Ketua Umum Gema Puan, Ridwan, mengatakan deklarasi Puan capres 2024 merupakan masukan bagi Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri selaku sosok penentu capres dari PDIP.

"Gema Puan ini ingin beri keyakinan ke Bu Mega bahwa jangan takut digertak dengan alasan elektabilitas," kata Ridwan.

Sandiaga Uno

Sandiaga Uno juga sudah dideklarasikan sebagai capres 2024 oleh Ratusan emak-emak yang tergabung dalam Relawan Kawan Sandi (RKS) Cimahi, Jawa Barat.

Menurut koordinator RKS Cimahi Dewi Trinawati, Sandiaga adalah sosok pekerja keras dan merangkul semua kalangan. Dewi mengatakan dukungan terhadap Sandiaga berasal dari lintas kalangan di antaranya para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), milenial, budayawan, hingga tokoh agama.

"Kita akan mengadakan bakti sosial dan program lain untuk mengangkat perekonomian rakyat, para pelaku UMKM, maupun kaki lima, kita ingin mengangkat rakyat kecil biar sejahtera," kata Dewi.

Luhut Panjaitan

Sahabat Luhut for Presiden RI 2024 juga telah dideklarasikan di Kota Medan. Relawan mendorong Luhut untuk maju menjadi calon presiden 2024

Ketua Deklarasi Sahabat Luhut for Presiden RI 2024, Toni Togatorop mengatakan, dukungan itu diberikan secara spontanitas karena melihat rekam jejaknya.

"Melihat jejak rekam LBP, Pak Luhut di pemerintahan jokowi kita kagum. Beberapa kebijakan strategis dan pendekatan persuasif familiar terhadap rakyat," kata Toni.

Erick Thohir

Relawan Indonesia Moeda mendukung Erick Thohir menjadi capres di Pilpres 2024 mendatang. Menurut Koordinator Nasional Relawan Indonesia Moeda, Bambang Priakusuma, deklarasi Erick Thohir for Presiden 2024 dilakukan karena menilai Menteri BUMN itu mempunyai rekam jejak kinerja yang baik.

"Tokoh yang banyak berkiprah saat ini adalah Pak Erick Thohir baik dari sudut pandang pengusaha, profesional, maupun praktisi," kata Bambang.

Simulasi TPS. (Foto: Antara)
Simulasi TPS. (Foto: Antara)

Seiring dengan munculnya figur-figur capres yang didukung para relawan tersebut, rivalitas antarmasyarakat pun mulai terasa. Mereka kerap terlibat perseteruan di media sosial. Padahal, kepastian siapa yang akan menjadi capres masih sangat jauh.

Fenomena munculnya relawan ini, menurut pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati, bisa dilihat dari tiga aspek. Pertama, relawan sebagai bentuk "counter movement" terhadap parpol.

"Munculnya relawan sebagai gerakan "counter movement" ini didasari pada makin skeptisnya pemilih dengan parpol karena makin elitis dan oligarkis," ujarnya kepada MerahPutih.com, Sabtu (25/12).

Wasis, sapaan akrab Wasisto, menyebut faktor tersebut mendorong banyak orang berinisiatif mencalonkan figur tertentu sebagai calon alternatif. Sifat relawan yang non partisan menjadikan mereka mampu menyasar ke berbagai kelompok pemilih.

"Hal itulah yang menjadikan popularitas figur tertentu makin hari makin naik karena kerja relawan di akar rumput," ujarnya.

Kondisi ini pula, kata Wasis, yang menjadi semacam "alat tawar politik" bagi kandidat yang diusung relawan untuk mendapat tiket nominasi dari parpol dengan mengonversi dukungan relawan juga dukungan terhadap parpol tertentu.

Aspek kedua, relawan sebagai varian mutakhir dari tim sukses. Wasis menjelaskan, ini bisa diartikan bahwa pola kerja tim sukses kini cenderung makin terorganisir dan memiliki tujuan jangka panjang dengan mendukung kandidat tertentu.

Baca Juga:

Pembahasan Jadwal Pemilu Bakal Dilakukan di Awal 2022

Padahal, sebelumnya kerja tim sukses hanya berlangsung selama kampanye dan hanya berharap keuntungan material jika kandidat yang didukung tersebut menang.

"Hal itu ditujukan untuk bisa mengamankan jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan seandainya kandidat itu menang," ujarnya.

Sedangkan aspek ketiga, relawan sebagai bentuk jalan pintas nominasi kandidat karena faktor kharismatik kandidat. Menurut Wasis, munculnya para kelompok relawan capres ini seperti mengulang kembali nominasi Jokowi ketika bertarung di PilGub DKI 2012 maupin PilPres 2014.

"Nominasi akar rumput melalui berbagai kelompok relawan ini merupakan bagian cara pengkultusan figur sebagai "ratu adil" yang dipercaya mampu memerintah adil dan membawa kesejahteraan," ujarnya.

Pengkultusan figur oleh relawan, lanjut Wasis, lazim juga dikenal sebagai personalisasi politik di mana kharisma personal itu memiliki kekuatan elektabiltas yang lebih tinggi daripada parpol.

"Persepsi inilah yang menjadikan suatu pemahaman baru bahwa semakin banyak relawan, maka semakin besar peluang elektabilitas dan nominasinya," kata Wasis. (Pon)

Baca Juga:

Komisi II Belum Terima Hasil Konsolidasi Kemendagri-KPU Soal Jadwal Pemilu

#Pilpres #Pemilu #Capres 2024
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Dunia
Lula da Silva Menangkan Masa Jabatan Presiden Brasil ke-4
Kemenangan tersebut memberi Lula masa jabatan presiden keempat yang tidak berurutan, setelah menang pada 2002, 2006, dan 2022.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 26 Oktober 2026
Lula da Silva Menangkan Masa Jabatan Presiden Brasil ke-4
Indonesia
10 Isu Strategis Dalam Rancangan Undang-Undang Pemilu
Isu-isu strategis yang akan dibahas itu menjadi dasar bagi panja untuk mengundang pihak-pihak terkait guna menyampaikan saran dan masukannya terhadap sistem Pemilu.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 05 Oktober 2026
10 Isu Strategis Dalam Rancangan Undang-Undang Pemilu
Dunia
Pilpres Brazil 2 Putaran, Petahana Dikalahkan Oposisi
Calon presiden Flavio Bolsonari memperoleh suara 47,23 persen. Kemudian, Lula da Silva memperoleh suara 44,93 persen.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 05 Oktober 2026
Pilpres Brazil 2 Putaran, Petahana Dikalahkan Oposisi
Indonesia
Legislator Golkar Komentari Usul Dapil Nasional: Menarik, tapi jangan Bikin Bingung
Sistem tersebut menarik karena partai politik memiliki peran dalam menentukan calon yang memperoleh mandat rakyat.
Dwi Astarini - Rabu, 23 September 2026
Legislator Golkar Komentari Usul Dapil Nasional: Menarik, tapi jangan Bikin Bingung
Indonesia
Punya 2 Juta Suara Terbuang, Demokrat Usul Dapil Nasional
Pembahasan mengenai mekanisme tersebut, masih terus dilakukan id antara partai politik sebagai bagian dari penyusunan revisi Undang-Undang Pemilu.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 23 September 2026
Punya 2 Juta Suara Terbuang, Demokrat Usul Dapil Nasional
Indonesia
Puan Pastikan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Pilpres Masih Wacana
Wacana-wacana itu masih merupakan perbincangan di antara partai politik dan belum masuk tahapan pembahasan di DPR RI.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 22 September 2026
Puan Pastikan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Pilpres Masih Wacana
Indonesia
PDIP Tunggu Naskah Akademik Capres-Cawapres Harus Diusung 2 Fraksi DPR
Deddy meminta pembahasan mengenai mekanisme tersebut dilakukan setelah dokumen resmi revisi UU Pemilu tersedia.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 21 September 2026
PDIP Tunggu Naskah Akademik Capres-Cawapres Harus Diusung 2 Fraksi DPR
Indonesia
PDIP Buka Opsi Parliamentary Threshold 5-7 Persen untuk Efektivitas Kerja Parlemen
Penaikan PT diperlukan untuk mendorong efektivitas kerja parlemen.
Dwi Astarini - Minggu, 20 September 2026
PDIP Buka Opsi Parliamentary Threshold 5-7 Persen untuk Efektivitas Kerja Parlemen
Indonesia
Demokrat Usul Dapil Nasional di Tengah Wacana Parliamentary Threshold 7 Persen
Demokrat lebih menyoroti potensi banyaknya suara rakyat yang hangus akibat penerapan PT.
Dwi Astarini - Minggu, 20 September 2026
Demokrat Usul Dapil Nasional di Tengah Wacana Parliamentary Threshold 7 Persen
Indonesia
Ketum Partai Disebut Sepakat Ambang Batas Parlemen 4 Sampai 5 Persen.
Komisi II DPR juga tetap memperhatikan sejumlah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal pemilu hingga masukan-masukan dari akademisi dan masyarakat sipil.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 15 September 2026
Ketum Partai Disebut Sepakat Ambang Batas Parlemen 4 Sampai 5 Persen.
Bagikan