MerahPutih.com - Putaran ketiga perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan, karena kedua pihak belum mencapai konsensus terkait isu-isu utama, menurut Wall Street Journal, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Selama perundingan tersebut, para pejabat AS menuntut agar Iran menghancurkan fasilitas nuklirnya di Fordow, Natanz, dan Isfahan, serta mentransfer semua uranium yang diperkaya sisanya ke AS, kata sumber tersebut.
Iran menolak gagasan memindahkan cadangan uraniumnya ke luar negeri dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap penghentian operasi pengayaan uranium, pembongkaran fasilitas nuklir, dan pemberlakuan pembatasan pada programnya, menurut laporan surat kabar tersebut.
Presiden AS Donald Trump telah menerima pengarahan tentang berbagai opsi militer yang bisa diambil terhadap Iran dari Laksamana Madya Brad Cooper, Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM).
Baca juga:
Ikuti Perjanjian Tarif Trump, RUU Ketenagakerjaan Bakal Masukan PKWT dan Alih Daya
Mengutip sumber internal Gedung Putih, menyebutkan bahwa Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan sekaligus penasihat militer tertinggi presiden, juga hadir dalam pertemuan tersebut.
Pengarahan itu disampaikan di tengah putaran ketiga perundingan tak langsung antara delegasi AS dan Iran di Jenewa, Swiss, yang membahas program nuklir dan rudal balistik Iran.
Usai perundingan, Menteri Luar Negeri (Menlu) Oman Badr al-Busaidi, yang bertindak sebagai mediator, melaporkan adanya "kemajuan signifikan" dalam negosiasi tersebut.
Menlu Iran Abbas Araghchi menyatakan kedua pihak menunjukkan keseriusan dan semakin dekat menuju kesepakatan pada isu-isu tertentu.
Perundingan tingkat teknis akan berlangsung di Wina, Austria, pekan depan.
Sumber ABC News, sejumlah politisi Partai Republik dan pejabat pemerintahan Trump secara tertutup menyarankan agar Israel saja yang memimpin serangan ke Iran.
Hingga Kamis, belum jelas apakah Trump menyetujui usulan tersebut. Namun, Trump dilaporkan semakin frustrasi karena Iran menolak tuntutannya untuk membatasi pengayaan uranium dan aktivitas rudal balistik mereka.
"Media bisa terus berspekulasi tentang apa yang dipikirkan presiden sesuka mereka, tetapi hanya Presiden Trump yang tahu apa yang mungkin atau tidak mungkin ia lakukan," kata wakil juru bicara Gedung Putih Anna Kelly.