Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Tidak Dirasakan Dunia Usaha, Malah Tekanan Biaya Meningkat

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Tidak Dirasakan Dunia Usaha, Malah Tekanan Biaya Meningkat

PT Sritex jadi pemasok seragam militer untuk 27 negara. (Foto: PT Sri Rejeki Isman Tbk)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan I 2026, sementara secara triwulanan (quarter-to-quarter/qtq) terkontraksi 0,77 persen.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang utama dengan kontribusi sebesar 2,94 persen, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 1,79 persen, serta konsumsi pemerintah 1,26 persen.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyoroti dampak pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen (yoy) terhadap dunia usaha.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 belum sepenuhnya dirasakan oleh dunia usaha di tengah meningkatnya tekanan biaya.

Baca juga:

Mendag Budi Santoso Dorong Pertumbuhan Ekonomi lewat Hobi Burung Kicau

Pertumbuhan ini sebenarnya menunjukkan resiliensi ekonomi domestik yang cukup kuat. Namun bagi dunia usaha, yang menjadi perhatian adalah bagaimana pertumbuhan tersebut ditransmisikan ke aktivitas bisnis riil.

“Dunia usaha menghadapi situasi yang disebut sebagai asymmetric impact of growth, di mana pertumbuhan tetap terjadi, tetapi manfaatnya belum terdistribusi secara merata, sementara tekanan biaya meningkat,” kata Shinta di Jakarta, Rabu.

Shinta menjelaskan, dunia usaha saat ini menghadapi apa yang disebut sebagai asymmetric impact of growth, yakni kondisi ketika pertumbuhan ekonomi tetap terjadi, tetapi manfaatnya tidak terdistribusi merata, sementara tekanan biaya terus meningkat.

Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor utama yang menekan kinerja usaha, terutama bagi sektor yang bergantung pada bahan baku impor.

Depresiasi rupiah dari kisaran Rp16.800 per dolar AS pada awal tahun hingga mendekati Rp17.400 per dolar AS pada akhir triwulan I 2026 telah meningkatkan biaya produksi dan menekan margin usaha.

Bagi sektor usaha yang bergantung pada impor, pelemahan rupiah ini secara langsung meningkatkan biaya produksi, menekan keuntungan (margin), hingga dalam banyak kasus membatasi adanya ekspansi usaha.

Adapun berdasarkan struktur pertumbuhan, sektor-sektor yang paling diuntungkan dari capaian pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 adalah sektor yang berbasis konsumsi domestik dan terdorong oleh momentum musiman.

Sektor dengan pertumbuhan tertinggi antara lain penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14 persen, transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 7,62 persen, serta perdagangan besar dan eceran tumbuh 6,26 persen.

"Sektor-sektor ini jelas mendapatkan manfaat dari demand-driven expansion, khususnya karena lonjakan mobilitas dan konsumsi masyarakat selama periode libur panjang," tutur dia.

Namun di sisi lain, sektor manufaktur turut terkontraksi 1,01 persen. Padahal, sektor manufaktur merupakan salah satu tulang punggung industri nasional yang berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Shinta menambahkan, kondisi tersebut menunjukkan, meski secara agregat data produk domestik bruto (PDB) mencerminkan pertumbuhan yang solid, di tingkat mikro banyak pelaku usaha masih menghadapi tekanan, terutama dalam bentuk penyusutan margin keuntungan (margin compression).

"Ke depan diperlukan upaya untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga lebih merata dan berkelanjutan bagi seluruh sektor usaha," katanya. Shinta.

#Pertumbuhan Ekonomi #Ekonomi Indonesia # Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Alwan Ridha Ramdani

Alwan Ridha Ramdanu adalah Jurnalis kelahiran di Bandung, Jawa Barat. Sudah 20 tahun menjadi jurnalis dengan mayoritas fokus pada liputan atau menulis terkait ekonomi makro. Selain jurnalis, Alwan juga adalah pendamping petani sawit swadaya dan juga berpengalaman dalam communication dan community terkait isu keberlanjutan dan lingkungan hidup.
Show More

Berita Terkait

Indonesia
Apindo Minta Masukan Perluasan Kesempatan Kerja di RUU Pelindungan Ketenagakerjaan
Agar RUU Pelindungan Ketenagakerjaan disempurnakan nomenklatur menjadi RUU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Perluasan Kesempatan Kerja.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
 Apindo Minta Masukan Perluasan Kesempatan Kerja di RUU Pelindungan Ketenagakerjaan
Indonesia
Presiden Prabowo Bicara Ambisi Ekonomi RI, Target Masuk 4 Besar Dunia pada 2050
Prospek tersebut berkaitan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilainya tetap kuat.
Dwi Astarini - Kamis, 17 September 2026
Presiden Prabowo Bicara Ambisi Ekonomi RI, Target Masuk 4 Besar Dunia pada 2050
Indonesia
Prabowo Ungkap Investasi Rp 1.010 Triliun dan 1,4 Juta Lapangan Kerja Baru, Singgung MBG dan Kopdes Merah Putih
Prabowo menyebut investasi Indonesia mencapai Rp 1.010 triliun hingga Juni 2026 dan berkontribusi membuka sekitar 1,4 juta lapangan kerja.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 17 September 2026
Prabowo Ungkap Investasi Rp 1.010 Triliun dan 1,4 Juta Lapangan Kerja Baru, Singgung MBG dan Kopdes Merah Putih
Indonesia
Prabowo Soroti Inflasi 2,92 Persen dan Investasi Rp1.010 Triliun, Optimistis Ekonomi Indonesia
Presiden Prabowo Subianto optimistis Indonesia bisa masuk 5 besar ekonomi dunia pada 2050. Ia menyoroti inflasi 2,92 persen dan investasi Rp 1.010 triliun.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 17 September 2026
Prabowo Soroti Inflasi 2,92 Persen dan Investasi Rp1.010 Triliun, Optimistis Ekonomi Indonesia
Indonesia
Begini Permintaan Pengusaha Soal Isi Revisi UU Ketenagakerjaa di Tengah Perubahan Dunia Kerja
Keberhasilan reformasi ketenagakerjaan, tidak cukup diukur dari lahirnya undang-undang baru, tetapi dari bertambahnya pekerjaan formal dan berkualitas
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 26 Agustus 2026
Begini Permintaan Pengusaha Soal Isi Revisi UU Ketenagakerjaa di Tengah Perubahan Dunia Kerja
Indonesia
PHK Meningkat, Apindo Ingin Pemerintah Selesaikan Berbagai Hambatan Investasi
Persoalan bahan baku dan gas industri perlu segera diselesaikan karena bisa memengaruhi keberlangsungan operasional industri yang pada akhirnya berdampak terhadap kondisi tenaga kerja.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 21 Agustus 2026
PHK Meningkat, Apindo Ingin Pemerintah Selesaikan Berbagai Hambatan Investasi
Berita Foto
DBS Indonesia Dorong Pembiayaan untuk Lima Sektor Berkelanjutan
Peluncuran Riset: The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 20 Agustus 2026
DBS Indonesia Dorong Pembiayaan untuk Lima Sektor Berkelanjutan
Indonesia
Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi dalam 13 Tahun, Mengapa Prabowo Patok Target Luar Biasa di 2027?
Sepanjang semester I 2026, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,45 persen (yoy)
Angga Yudha Pratama - Jumat, 14 Agustus 2026
Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi dalam 13 Tahun, Mengapa Prabowo Patok Target Luar Biasa di 2027?
Indonesia
Prabowo Ungkap Ekonomi Indonesia Tetap Berdiri Tegak, Pertumbuhan Semester I 2026 Tertinggi dalam 13 Tahun
Prabowo menyebut ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh pada level tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Pendapatan negara hingga Juli tumbuh 21,3%.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 14 Agustus 2026
Prabowo Ungkap Ekonomi Indonesia Tetap Berdiri Tegak, Pertumbuhan Semester I 2026 Tertinggi dalam 13 Tahun
Indonesia
Eddy Soeparno Harap Pidato Kenegaraan Prabowo Tegaskan Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, berharap pidato kenegaraan Presiden RI, Prabowo Subianto, tegaskan pertumbuhan ekonomi.
Soffi Amira - Jumat, 14 Agustus 2026
Eddy Soeparno Harap Pidato Kenegaraan Prabowo Tegaskan Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Bagikan