MerahPutih.com - Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan bahwa akhir pandemi COVID-19 sudah ada di depan mata pada Rabu (14/9) lalu. Sementara di tanah air, Satgas menyatakan penyebaran COVID-19 relatif stabil.
Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono meminta semua pihak untuk menjadikan ucapan WHO sebagai semangat nyata mengakhiri pandemi COVID-19.
“Menurut saya di depan mata itu bisa jauh, bisa dekat. Betul, kesannya memberi semangat saja,” kata Miko di Jakarta, Kamis (22/9).
Baca Juga:
Industri Penerbangan Tanah Air Mulai Bangkit Setelah Hantaman Hebat Pandemi
Menanggapi pernyataan Dirjen WHO, Miko menyatakan bahwa ucapan terkait “akhir pandemi di depan mata” itu hanyalah sebuah seruan diplomasi semata.
Sebab, WHO tidak menyebutkan secara pasti kapan atau berapa lama lagi, status pandemi COVID-19 benar-benar akan berakhir.
Menurut Miko seharusnya WHO bahkan tidak membuat pernyataan yang multi intepretatif. Dikhawatirkan semangat yang WHO justru diartikan berbeda seperti membebaskan orang untuk melakukan protokol kesehatan.
“Sudah dekat itu (berapa lama?) habisnya kurang setahun atau dua tahun? Harusnya sebutkan saja, jangan diplomatis begitu,” katanya, seperti dikutip Antara.
Baca Juga:
Pandemi COVID-19 Diprediksi Berakhir Paling Lambat Pertengahan 2023
Oleh karenanya, ia meminta supaya masyarakat Indonesia lebih bersabar dalam menghadapi pandemi COVID-19. Jadikan pernyataan WHO itu sebagai semangat untuk bangkit lebih cepat dan pulih lebih kuat.
Ia juga berharap masyarakat tak bosan mengikuti perkembangan COVID-19 berserta varian-varian barunya, karena varian Omicron seperti BA.4 dan BA.5 yang kini sedang mendominasi di Tanah Air dan harus mendapatkan perhatian penuh.
Kemudian Miko juga meminta supaya pemerintah bersikap tegas untuk menentukan arah mana yang akan dituju oleh Indonesia. Dalam hal tersebut yang dimaksud adalah mendeklarasikan diir untuk bebas protokol kesehatan atau menganggap COVID-19 menjadi common cold.
“Apakah kita akan mengambil sikap yang sama dengan Thailand yang menagnggap COVID-19 itu common cold, jadi artinya biasa saja atau kita berhati-hati melihat gelombang berikutnya?,” ujarnya. (*)
Baca Juga:
Pandemi Terkendali, Masyarakat Masih Penting Gunakan Masker