Pentingnya Pembelajaran Moralitas pada Anak

P Suryo RP Suryo R - Senin, 24 Juli 2023
Pentingnya Pembelajaran Moralitas pada Anak

Anak-anak juga harus diberikan konsekuensi yang sesuai dengan perilaku yang tidak pantas. (Pexels/Archie Binamira)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KONSELOR dan dokter anak berbagi pengalamannya mengenai pemahaman moral pada remaja saat ini. Ia mengakui bahwa remaja saat ini memiliki pemahaman moral yang buruk. Moralitas dapat diartikan sebagai keyakinan bahwa beberapa perilaku benar yang dapat diterima dan yang salah. Prinsip moral telah menjadi sebuah sistem yang dapat diterima secara umum oleh masyarakat atau orang tertentu untuk menjaga ketertiban masyarakat.

“Orang tua dan pengasuhnya menjadi guru moralitas pertama bagi anak-anak,” tulis konselor dan dokter anak Ran D. Anbar MD yang diambil dari Psychology Today. Beberapa kalangan masyarakat, pendidikan formal di masa kanak-kanak yang disediakan oleh pemerintah atau lembaga swasta telah menambah pengetahuan moral kepada anak.

Baca Juga:

Sorry Sindrome, Ketika Seseorang Terus Minta Maaf

adab
Anak-anak harus didorong untuk memberikan solusi. (freepik/jcomp)

Ran menuliskan ada beberapa cara penyampaian moralitas kepada anak. Anak-anak akan belajar perilaku moral seperti yang dicontohkan oleh orang tua di rumah dan melalui cerita yang diterima anak-anak, seperti film, fabel, atau cerita fiksi. Anak-anak harus didorong untuk memberikan solusi dan pengasuhnya harus memberikan umpan balik mengenai pemikiran mereka.

Salah satu tugas anak-anak adalah mengubah pemikiran egois ke pertimbangan perasaan orang lain. Mengajar anak-anak untuk memikirkan orang lain dapat mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang prinsip moral. Selain itu, anak-anak juga harus diberikan konsekuensi yang sesuai dengan perilaku yang tidak pantas agar membantu mereka membuat pilihan yang lebih baik di masa mendatang.

“Di Amerika abad ke-21, agama menjadi semakin tidak relevan bagi banyak penduduk dan undang-undang yang berbasis pemerintah sering tidak dihargai karena berbagai alasan,” tulis Ran.

Banyak anggota masyarakat yang percaya bahwa aturan yang diumumkan oleh pemimpin agama atau politik bias mendukung agenda pemimpin daripada kesejahteraan individu.

Sebaliknya, banyak orang Amerika telah memilih untuk mematuhi moralitas yang terkandung dalam Deklarasi Kemerdekaan yang menempatkan hak individu di pusat kehidupan politik. Seperti “Semua manusia diciptakan sama…” dengan hak untuk “hidup, bebas, dan mengejar kebahagiaan.”

Baca Juga:

Begini Cara Flexing Versi Low Key

adab
Anak-anak akan belajar perilaku moral seperti yang dicontohkan oleh orang tua di rumah. (Pexels/August de Richelieu)

Moralitas ini mendorong individu untuk memilih hidup sesuai keinginannya selama tidak mengganggu kehidupan orang lain secara signifikan. Namun, Ran bertanya-tanya apakah kekompakan kita sebagai masyarakat dapat terkikis tanpa adanya otoritas moral selain yang diberikan oleh individualisme kita?

Selain itu, tantangan pada abad ke-21 juga melibatkan campur tangan internet dalam kehidupan manusia. Manusia tidak lagi hidup dalam masyarakat yang menerima pendidikan moral hanya dari pengaruh lokal. Sebagian besar dari manusia sekarang dihadapkan pada pemikiran global melalui media sosial. Beberapa tantangan dalam mengajarkan moralitas kepada anak karena isu yang terjadi pada abad ke 21.

Anak-anak Amerika yang telah tumbuh dewasa saat ini telah menyaksikan orang tua atau pengasuhnya membuat pilihan yang egois seperti menggunakan obat-obatan atau makan berlebihan untuk merasa lebih nyaman. Anak-anak mulai mengamati bahwa perilaku merendahkan orang lain saat kita yakin mereka salah adalah hal yang dapat diterima.

Ran mempercayai bahwa perubahan yang dijelaskan masyarakat Amerika selama awal abad ke-21 akan menyebabkan penurunan yang signifikan dalam penalaran moral dan perilaku masyarakat yang signifikan selama beberapa dekade mendatang. (vca)

Baca Juga:

Gangguan pada Mata Pangkal Sakit Kepala Anak

#Kesehatan Mental
Bagikan
Ditulis Oleh

P Suryo R

Stay stoned on your love

Berita Terkait

ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Indonesia
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Kemenkes membuka layanan healing 119.id bagi warga yang mengalami stres, depresi atau memiliki keinginan bunuh diri.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Indonesia
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Tercatat, ada sekitar 20 juta rakyat Indonesia didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental dari data pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang dilakukan.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Bagikan