MerahPutih.com - Fenomena dentuman erupsi Gunung Anak Krakatau yang terdengar jelas hingga Bandung Raya yang jaraknya mencapai 700 Kilometer (KM) memunculkan pertanyaan publik.
Padahal, warga Ibu Kota DKI Jakarta yang jaraknya jauh lebih dekat dengan Anak Krakatau tidak ikut mendengar suara dentuam keras.
Baca juga:
Gunung Anak Krakatau Terus Erupsi, BNPB Imbau Masyarakat Tetap Tenang dan Waspada
Kepada media, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena unik ini.
“Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama,” katanya, di Bandung, Sabtu (5/9).
Gelombang Suara Frekuensi Rendah Tempuh Ratusan Kilometer
Menurut Lana, dentuman erupsi Anak Krakatau terdengar hingga Bandung disebabkan ekspansi cepat pelepasan gas vulkanik serta turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di konduit (lubang kepundan).
Fenomena ini, lanjut dia, terjadi karena gelombang suara frekuensi rendah dapat merambat ratusan kilometer.
Lahan menambahkan lapisan atmosfer, angin, serta perbedaan suhu dan tekanan udara di ketinggian bisa membelokkan jalur suara, sehingga dentuman justru terdengar lebih jauh.
Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun beberapa wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas,
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria
Status Anak Krakatau Level III Siaga
Di Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Banten, suara gemuruh terdengar jelas, meski dentuman tidak sekuat yang dirasakan masyarakat di Bandung.
PVMBG sendiri mencatat erupsi berlangsung sejak pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB dengan semburan merah menyala menyerupai lava fountain.
Baca juga:
Mau Liburan ke Lampung? Pahami Dulu Aturan Zona Aman Wisata Gunung Anak Krakatau Terbaru
Meski tinggi kolom erupsi belum dapat dipastikan, fenomena ini berpotensi menghasilkan aliran lava dan lontaran material pijar yang memicu suara dentuman keras di udara.
Saat ini, tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga), yang telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026. (*)