MERAHPUTIH.COM - TINGGINYA nilai tukar mata uang dolar terhadap rupiah berimbas terhadap pengusaha rumahan produksi tempe. Hal itu lantaran biji kedelai merupakan produk impor dari luar negeri. Pengusaha Tempe, Ciswanto, mengatakan, selama dua bulan ke belakang, harga biji kedelai mengalami kenaikan. Saat ini, harga per kilonya mencapai Rp 11 ribu
"Sekarang harganya di Rp 11 ribu. Namun, kalau melihat dua tiga bulan lalu, harganya masih di Rp 9.000," kata dia saat ditemui di Pasar Kebayoran, Jakarta Selatan, Kamis (16/7) malam.
Ciswanto yang telah menjalani bisnis usaha tempe selama 25 tahun itu mengatakan harga biji kedelasi merangkak naik terus karena suplainya dari luar negeri.
"Saya usaha dari 2001-2006. Saya melihat harga kacang Rp 2.900- Rp 3.000 sampai sekarang diharga Rp 10 ribu - Rp12 ribu per kilo. Kacang mentah ini dapat dari impor dari Amerika," katanya.
Baca juga:
Selain karena nilai tukar dolar, kenaikan harga biji kedelai juga dipengaruhi suplai biji kedelainya serta situasi perjalanan pengiriman biji kedelai sampai di Indonesia. "Kadang bisa naik kembali bisa turun kembali tergantung situasi panen raya di sana, dan situasi perjalanan pengiriman," katanya.
Pelanggan Mengeluhkan Produk Tempe
Ciswanto mengatakan kenaikan harga bahan baku membuat tempe sangat berpengaruh terhadap produksi dan daya beli masyarakat. Ia mencontohkan kerap menemui pelanggan dan pembelinya yang mengeluh saat hendak membeli produknya. Saat menghadapi hal tersebut, Ciswanto tidak bisa menaikkan harga, tapi mengurasi gramasi tempe per bungkusnya.
"Keluhan pasti ada. Pelanggan tahu semua bahan sembako enggak ada yang enggak naik. Jadi kalau begitu, ukurannya kecil, gramasinya tidak seperti biasa. Akibatnya, jadi hal yang wajar daripada menaikan harga, karena saat ini cari duit susah," ujarnya sambil meringis.
Ciswanto mengatakan saat ini ia mengurangi kapasitas produksi. Akibatnya, kapasitas produksi diperkiraankan hanya 100-150 kilogram kedelai untuk tempe per hari. Padahal, dulu bisa sampai 200 kilogram.
"Penjualan pemasukan berkurang. Modal bertambah omset tetep, jadi tetap kurang. Bukan diimbangi omset bertambah. Omset tetap, modal bertambah, akhirnya pendapatan kita berkurang," katanya.(Tka)
Baca juga:
Rupiah Melemah, Perajin Tahu-Tempe Kelabakan Hadapi Lonjakan Harga Kedelai

