Pengamat: Pemilu 2019 Jadi Pemilu yang Paling Mematikan

Zaimul Haq Elfan HabibZaimul Haq Elfan Habib - Selasa, 23 April 2019
Pengamat: Pemilu 2019 Jadi Pemilu yang Paling Mematikan

Ilustrasi Surat Suara untuk DPR di Pemilu 2019 (Foto: antaranews)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Lamanya proses persiapan hingga penyelenggaraan Pemilu serentak 2019 membuat Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) kewalahan. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang meninggal dunia.

Dari data terakhir yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), sebanyak 91 petugas gugur dan 374 orang jatuh sakit. Melihat hal itu, Pengamat politik, Wempy Hadir menyebut pemilu kali ini sebagai pemilu yang mematikan.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar para eksekutif dan legislatif untuk menimbang kembali pengadaan pilpres dan pileg secara serentak.

Wempy Hadir. (Foto/wempyhadir.wordpress.com)
Wempy Hadir. (Foto/wempyhadir.wordpress.com)

"Sebab jumlah korban jiwa tentu tidak bisa kita bandingkan dengan materi. Nyawa manusia merupakan di atas segalanya," kata Wempy kepada Merahputih.com, Senin (22/4).

Direktur Indo Polling Network ini menambahka, pelaksanaan pileg dan pilpres serentak sangat perlu dilakukan evaluasi sehingga pada pemilu yang akan datang tidak terjadi korban jiwa lagi.

"Misalnya pemilu presiden di dahulukan, kemudian dilanjutkan dengan pemilihan legislatif. Dengan demikian kita bisa mencegah terjadinya korban jiwa," jelasnya.

Wempy berharap, secepatnya agar anggota DPR RI dan Presiden yang terpilih segera memikirkan perubahan terkait penyelenggaraan pemilu serentak atau revisi undang-undang pemilu.

"Kita jangan hanya mengejar agar biaya pemilu lebih efisien, tapi yang paling penting adalah kita menjaga nyawa setiap penyelenggara pemilu," paparnya.

Presiden petahana, Joko Widodo, lanjut Wempy mesti segera menyampaikan kepada publik bahwa akan diberikan santunan kepada korban jiwa dan yang sedang dirawat akan dibebaskan biaya perawatan.

"Dengan demikian, publik merasa terbantu dengan perhatian dari pemerintah terhadap penyelenggara pemilu kita," ungkap Wempy. (Knu)

Baca Juga: Bahas Nasib KPPS, KPU Akan Gelar Pertemuan dengan Kemenkeu

#Pemilu 2019 #Pilpres 2019 #Pengamat Politik
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Polemik Ijazah Gibran Masih Berlanjut, Pengamat Tekankan Pentingnya Kepastian Hukum
Polemik ijazah Wapres RI, Gibran Rakabuming Raka, kini belum mereda. Direktur P3S, Jerry Massie, menilai setiap calon pejabat negara harus memenuhi persyaratan.
Soffi Amira - Jumat, 09 Oktober 2026
Polemik Ijazah Gibran Masih Berlanjut, Pengamat Tekankan Pentingnya Kepastian Hukum
Indonesia
Pengamat Sebut Polemik Ijazah Gibran Belum Tertutup, Ada Peluang Pembahasan di DPR
Polemik ijazah Wapres RI, Gibran Rakabuming Raka, kemungkinan berlanjut ke DPR. Hal itu diungkapkan Direktur P3S, Jerry Massie.
Soffi Amira - Jumat, 09 Oktober 2026
Pengamat Sebut Polemik Ijazah Gibran Belum Tertutup, Ada Peluang Pembahasan di DPR
Indonesia
Polemik Ijazah Gibran Berpotensi Pengaruhi Elektabilitas di Pilpres 2029, ini Kata Pengamat
Polemik ijazah Gibran Rakabuming Raka bisa memengaruhi elektabilitas di Pilpres 2029. Pengamat pun mengungkap dampaknya.
Soffi Amira - Rabu, 07 Oktober 2026
Polemik Ijazah Gibran Berpotensi Pengaruhi Elektabilitas di Pilpres 2029, ini Kata Pengamat
Indonesia
Indonesia Menuju Kapitalisme Negara atau Welfare State? ini Pandangan Para Ekonom
Indonesia diperkirakan menuju kapitalisme negara atau welfare state. Ekonom mengungkapkan risikonya.
Soffi Amira - Jumat, 04 September 2026
Indonesia Menuju Kapitalisme Negara atau Welfare State? ini Pandangan Para Ekonom
Indonesia
Pengamat Curiga Ada Oknum Lain di Kejagung, Minta Febrie Adriansyah Bongkar Pemilik Emas dan Uang Sitaan
Pengamat Politik, Fernando Emas, mencurigai ada oknum lain di Kejagung dalam kasus korupsi eks Jampidsus, Febrie Adriansyah.
Soffi Amira - Kamis, 16 Juli 2026
Pengamat Curiga Ada Oknum Lain di Kejagung, Minta Febrie Adriansyah Bongkar Pemilik Emas dan Uang Sitaan
Indonesia
Kasus Febrie Adriansyah Dinilai tak Berdiri Sendiri, Pengamat: Bongkar Semua yang Terlibat
Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, meminta semua nama yang terlibat dalam kasus Febrie Adriansyah dibongkar.
Soffi Amira - Selasa, 14 Juli 2026
Kasus Febrie Adriansyah Dinilai tak Berdiri Sendiri, Pengamat: Bongkar Semua yang Terlibat
Indonesia
Pengamat: Pola Komunikasi Pemerintahan Prabowo Kini Makin Terpusat di Lingkaran Inti Presiden
Direktur Eksekutif Citra Institute Yusak Farchan menilai pola komunikasi pemerintahan Prabowo semakin terpusat pada figur-figur di lingkaran inti Presiden.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Pengamat: Pola Komunikasi Pemerintahan Prabowo Kini Makin Terpusat di Lingkaran Inti Presiden
Indonesia
DPR Soroti Fenomena 'Inflasi Pengamat', Kritik Dinilai Bisa Jadi Propaganda
DPR menilai fenomena 'inflasi pengamat' relevan. Habiburokhman menyebut sebagian kritik bersifat provokatif hingga berpotensi jadi propaganda politik.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 13 April 2026
DPR Soroti Fenomena 'Inflasi Pengamat', Kritik Dinilai Bisa Jadi Propaganda
Indonesia
Perang AS-Israel vs Iran, Pengamat Minta Indonesia Tetap Netral dan Dorong Perdamaian
Perang AS-Israel vs Iran kini makin memanas. Pengamat pun meminta Indonesia agar tetap netral dan mendorong perdamaian.
Soffi Amira - Jumat, 06 Maret 2026
Perang AS-Israel vs Iran, Pengamat Minta Indonesia Tetap Netral dan Dorong Perdamaian
Indonesia
Pengamat Sebut Konflik AS-Israel vs Iran Berpotensi Jadi Krisis Global, jika Rusia dan China Terlibat
Perang antara AS-Israel vs Iran bisa menjadi krisis global, jika Rusia dan China ikut terlibat.
Soffi Amira - Kamis, 05 Maret 2026
Pengamat Sebut Konflik AS-Israel vs Iran Berpotensi Jadi Krisis Global, jika Rusia dan China Terlibat
Bagikan