Orang dengan Tekanan Psikologis Cenderung Terpapar COVID-19 dengan Gejala Berat
Orang dengan tekanan psikologis cenderung terpapar COVID-19 (Sumber: Pexels/Inzmam Khan)
DI masa pandemi, orang-orang dengan protokol kesehatan lemah rentan terpapar COVID-19. Selain mereka, orang-oramg dengan tekanan psikologis tinggi juga rentan terpapar COVID-19. Sebuah studi longitudinal yang dilakukan selama pandemi telah menemukan bukti bahwa orang dengan tekanan psikologis yang lebih besar tidak hanya lebih mungkin terinfeksi COVID-19, tetapi lebih mungkin mengalami gejala yang parah. Demikian temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Behavioral Medicine.
Banyak temuan ilmiah menunjukkan hubungan yang rumit antara kesehatan mental dan fisik. Misalnya, penelitian tentang virus COVID-19 varian sebelumnya memaparkan sukarelawan sehat memiliki gejala lebih ringan dibandingkan sukarelawan yang memiliki tekanan psikologis.
Penulis studi Kavita Vedhara dan rekan-rekannya mengungkapkan bahwa pandemi COVID-19 menjadi kesempatan ia untuk mengeksplorasi kembali hubungan antara tekanan psikologis dan kerentanan terhadap penyakit.
"Virus corona tampaknya bermanifestasi dengan cara berbeda pada orang yang berbeda. Ia juga hanya menginfeksi beberapa orang dan bukan yang lain. Untuk itu kami mengusulkan bahwa variabel psikologis mungkin bisa menjelaskan variabilitas yang membingungkan ini," ujar Vedhara.
Baca juga:
Kenali Faktor Penyebab Hasil Tes COVID-19 Bisa Beda dalam Sehari
"Saya selalu tertarik pada apakah (dan bagaimana) faktor psikologis memengaruhi kesehatan. Khususnya, apakah ada efeknya pada kesehatan secara klinis. Apakah mereka memengaruhi siapa yang terkena penyakit dan/atau bagaimana kita merespons penyakit,” jelas Vedhara yang juga seorang profesor psikologi kesehatan di Universitas Nottingham.
Selama pandemi virus corona, para peneliti mengumpulkan tiga gelombang data dai warga Inggris. Data tersebut termasuk penilaian depresi, stres, kecemasan, dan suasana hati yang positif. Survei dilakukan pada April 2020, antara Juli dan September 2020, serta pada November dan Desember 2020. Sebanyak 1.087 peserta merespons baik pada gelombang pertama maupun terakhir.
Para responden melaporkan apakah mereka pernah dites positif COVID-19. Mereka juga melaporkan apakah mereka yakin pernah tertular COVID-19 terlepas dari pernah atau tidak pernah mengikuti tes. Responden juga melaporkan gejala COVID-19 mana yang mereka alami dan seberapa parah gejalanya.
Para peneliti melakukan berbagai analisis regresi untuk mengeksplorasi apakah tekanan psikologis (depresi, kecemasan, dan stres yang lebih tinggi) akan memprediksi infeksi COVID-19 dan keparahan gejala yang dilaporkan.
BACA JUGA:
Bahaya di Balik Makanan Ultra Processed Food untuk Si Kecil
Hasilnya mengungkapkan bahwa peserta yang melaporkan keparahan lebih besar terjadi pada periode April 2020. Selain itu, mereka juga melaporkan lebih banyak gejala lebih parah yang terjadi. Pola temuan yang sama terjadi ketika para peneliti menggunakan ukuran agregat tekanan psikologis yang dialami pada bulan April dan pada musim panas 2020.
“Kita semua tahu dampak pandemi bagi kesehatan emosional kita sangat brutal. Tetapi temuan ini menunjukkan bahwa, seperti yang telah diamati berkali-kali sebelumnya dalam konteks virus lain, kesusahan itu bukan hanya konsekuensi hidup dengan risiko COVID-19, tetapi juga dapat menjadi faktor risiko untuk siapa yang mendapatkannya dan seberapa parah penyakitnya,” kata Vedhara dikutip dari PsyPost.
Para peneliti berteori kemungkinan alasan mengapa tekanan psikologis terkait dengan hasil COVID-19. Di satu sisi, tekanan psikologis mungkin berdampak pada perilaku kesehatan, seperti asupan alkohol dan kualitas tidur yang pada gilirannya memengaruhi kerentanan terhadap infeksi. Atau tekanan psikologis dapat memicu pelepasan kortisol, yang dapat menekan sistem kekebalan dan meningkatkan risiko tertular COVID-19. Para penulis mencatat bahwa ini hanya spekulasi berdasarkan bukti yang menunjukkan peningkatan kadar kortisol pada orang yang terinfeksi COVID-19.
Temuan ini terbatas karena penelitian dilakukan secara independen. Mereka lebih lanjut menyarankan pekerjaan di masa depan yang berfokus pada penilaian laboratorium tidak hanya memeriksa antibodi terhadap SARS-CoV-2 tetapi juga perlu menelisik tekanan emosi yang dialami.
“Jadi langkah selanjutnya dalam pekerjaan ini adalah untuk melihat apakah hubungan yang telah kita lihat dengan infeksi yang dilaporkan sendiri direplikasi ketika kita melihat infeksi yang diverifikasi,” tukasnya.
Baca juga:
Bagikan
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya