Pemanasan Global Naikkan Potensi Terjangan Badai Intens

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 05 November 2024
Pemanasan Global Naikkan Potensi Terjangan Badai Intens

Badai Milton menghantam Florida pada Rabu (9/10/2024), menyebabkan jutaan orang tanpa listrik dan menelan korban jiwa di pesisir timur negara bagian tersebut, menurut laporan media lokal. /ANTARA/Anad

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - BADAI teramat intens dan berbahaya menerjang beberapa belahan dunia. Bencana terkini terjadi di Spanyol bagian timur dan tenggara. Para ahli menyebut pemanasan global menaikkan potensi terjadinya badai intens.

"Fenomena ini selalu ada. Namun, dengan adanya pemanasan global, peningkatan kuantitas uap air yang mengalami evaporasi dari Mediterania dapat menyebabkan peristiwa-peristiwa yang sangat intens dan berbahaya di masa mendatang," ujar Javier Martin-Vide, seorang ahli iklim sekaligus profesor geografi fisik di Universitas Barcelona, Spanyol, dikutip ANTARA.

Banjir dahsyat baru-baru ini di daerah Valencia, Castilla-La Mancha, dan Andalusia telah merenggut nyawa lebih dari 200 orang, dengan ratusan lainnya masih berstatus hilang. Badai itu dipicu fenomena badai yang dikenal sebagai depresi terisolasi pada level tinggi (DANA).

"Badai-badai DANA tidak seperti topan yang memiliki lintasan yang dapat diprediksi," papar Martin-Vide. Ia menjelaskan badai DANA memiliki tingkat ketidakpastian atau ketidakteraturan dalam hal lokasi badai akan menerjang dengan intensitas maksimum.

Baca juga:

Korban Banjir Bandang Spanyol Bertambah, 95 Orang Tewas



Badai-badai ini terjadi saat cold front melintasi perairan Mediterania yang hangat. Hal itu menyebabkan udara yang lebih panas naik dengan cepat dan membentuk awan yang pekat dan persisten. Ia memperingatkan bahwa pemanasan global dapat mengintensifkan proses ini. “Seolah-olah sistem iklim itu memiliki lebih banyak energi,” imbuhnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan sangat penting untuk beradaptasi dengan realitas iklim baru ini, seraya menekankan perlunya menyesuaikan diri dengan frekuensi dan intensitas yang lebih tinggi terkait dengan peristiwa cuaca ekstrem tersebut demi melindungi nyawa.

Martin-Vide mengatakan tingginya korban jiwa dan kerusakan yang meluas itu sebagian disebabkan kurangnya kesiapan penduduk dan otoritas lokal untuk menangani cuaca ekstrem.

"Kita perlu mengurangi kerentanan penduduk dengan memberikan edukasi kepada warga tentang cara merespons fenomena tersebut. Kita juga membutuhkan perencanaan wilayah yang matang, yang merupakan cara yang paling efisien dan hemat biaya untuk memangkas kerugian ekonomi dan korban jiwa," saran ahli iklim itu.(*)

Baca juga:

Topan Kong-rey Mengamuk di Taiwan, Tewaskan 3 Orang

#Pemanasan Global
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Cuaca Panas Ekstrem Bahayakan Ibu Hamil dan Newborn
suhu panas ekstrem yang terjadi selama kehamilan makin terikat dengan kelahiran prematur, bayi lahir mati, berat rendah, serta komplikasi maternal pada ibu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
  Cuaca Panas Ekstrem Bahayakan Ibu Hamil dan Newborn
Dunia
15 Pulau Anyar Muncul Kawasan Arktik Akibat Pemanasan Global
Pemanasan global menyebabkan bagian depan gletser, yang dikenal sebagai gletser outlet, mengalami penyusutan
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
15 Pulau Anyar Muncul Kawasan Arktik Akibat Pemanasan Global
Dunia
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Pemanasan global telah merusak stabilitas ekologi Himalaya yang rapuh, melelehkan permafrost serta gletser, dan mempercepat timbulnya berbagai bahaya.
Dwi Astarini - Jumat, 25 September 2026
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Dunia
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya
Sebanyak 12,5 triliun ton es kutub mencair sejak 1970-an akibat pemanasan global. Simak data satelit terbaru dan dampak mengerikan kenaikan permukaan laut di sini
Angga Yudha Pratama - Kamis, 24 September 2026
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya
Indonesia
Politisi AS dan Uni Eropa Siapkan Teknologi Rekayasa Iklim
Para aktivis lingkungan menentang keras penggunaan teknologi tersebut karena berisiko merusak lapisan ozon pelindung bumi
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
Politisi AS dan Uni Eropa Siapkan Teknologi Rekayasa Iklim
Dunia
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Terjadi persis seperti yang telah diperkirakan para ilmuwan sejak puluhan tahun lalu.
Dwi Astarini - Jumat, 11 September 2026
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Dunia
2025, Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah
Catatan ini mencerminkan percepatan laju perubahan iklim.
Dwi Astarini - Rabu, 10 Desember 2025
2025, Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah
Fun
Nyamuk Pertama Ditemukan di Islandia: Tanda Pemanasan Global Kian Nyata
Untuk pertama kalinya, nyamuk ditemukan di Islandia. Rekor panas dan perubahan iklim diduga jadi penyebab utama munculnya spesies ini di negeri es.
ImanK - Jumat, 24 Oktober 2025
Nyamuk Pertama Ditemukan di Islandia: Tanda Pemanasan Global Kian Nyata
Dunia
Pemanasan Global makin Nyata, Agustus Tercatat sebagai Bulan Terpanas Ketiga secara Global
Panas ekstrem telah menyulut kebakaran hutan dan gelombang panas di berbagai negara.
Dwi Astarini - Jumat, 12 September 2025
Pemanasan Global makin Nyata, Agustus Tercatat sebagai Bulan Terpanas Ketiga secara Global
Bagikan