Pelajaran dari Tragedi Itaewon, Kenali Tanda Bahaya di Kerumunan
Festival Halloween di Itaewon,Seoul, Korea Selatan, berujung maut, Sabtu (29/10). (ANTARA/REUTERS/Kim Hong-ji/tm)
PESTA Halloween nan meriah menjelma horor di Itaewon, Korea Selatan, Sabtu (29/10). Kerumunan yang mencapai 100 ribu orang memenuhi gang sempit di salah satu sudut Itaewon.
Di tengah lautan manusia tersebut, pada suatu titik, disebut CNN, sekelompok orang tampaknya berusaha meninggalkan lokasi. Petugas menyatakan tak ada kejadian kebakaran ataupun kebocoran gas di lokasi kala laporan kegawatdaruratan tentang orang terjebak dalam kerumunan masuk. Mereka terimpit kerumunan nan membludak. Akibatnya, banyak pengunjung yang mengalami sesak napas serta henti jantung. Kepanikan terjadi. Dari sinilah tragedi dimulai. Secara total 154 orang meninggal dalam desak-desakan di kerumunan pesta Halloween tersebut.
BACA JUGA:
Belajar dari Insiden Halloween di Itaewon, Ketahui Langkah Aman di Tengah Kerumunan
Ahli majanemen bencana yang juga analis keamanan nasional Juliette Kayyem mengatakan kepada CNN bahwa kepadatan di area itu memegang peran penting terjadinya insiden memilukan ini. Situasi panik ditambah gang nan sempit buntu, jelasnya, sudah pasti bisa mematikan. Namun, fakta bahwa warga Seoul terbiasa beraktivitas di tengah kerumunan juga menjadi faktor penting. “Mereka mungkin tak melihat kerumunan besar ini menjadi sebuah masalah yang berpotensi bencana,” jelas Kayyem.
Lebih jauh ia menerangkan bahwa kepanikan yang terjadi bisa memicu korban jiwa. “Saat kepanikan terjadi dan kamu tak tahu harus ke mana, amat mungkin kamu akan terinjak atau terhimpit,” jelasnya.
Melihat tanda bahaya dalam kerumunan
Orang Korea mungkin terbiasa dengan kerumunan di suatu tempat. Dengan begitu, mereka tak melihat kerumunan sebagai hal yang mengancam nyawa. Faktanya, banyak orang berpikiran sama. Kerumunan sering kali hanya dianggap sebagai kondisi penuh sesak nan tak berbahaya.
Meski demikian, kerumunan yang teralampau padat bisa teramat bahaya. Agar tak menjadi korban, kamu harus bisa membaca tanda bahaya dalam kerumunan nan padat. Profesor tamu ilmu kerumunan di Universitas Suffolk, G Keith Still, seperti dilansir CNN, mengatakan jika kamu berada di kerumunan dan orang lain terlalu dekat hingga menabrak atau bersentuhan denganmu, itu menandakan kondisi kelewat padat.
Stiil, yang juga merupakan kepala di lembaga konsultan yang mengedukasi penyelenggara acara dalam mengenali bahaya—GKStill International, menegaskan penyelenggara bisa membantu dalam mencegah terjadinya insiden terimpit di kerumunan. Menurut ahli keamanan dan perilaku kerumunan yang telah berpengalaman 30 tahun ini, penyelenggara acara bisa melakukan mitigasi dengan mengamati kerumunan secara langsung dan mengatur arus orang di venue.
Kerapatan kerumunan bisa dihitung dengan melihat jumlah orang dalam setiap meter persegi. Kendati kerapatan bisa bergantung dari ukuran orang yang ada, secara garis besar, Still memberikan perhitungan. Satu hingga empat orang dalam 1 meter persegi masih terbilang nyaman. Namun, begitu ada lima orang di area ukuran itu, keadaan menjadi tak nyaman. Setelahnya, jika ada lebih dari lima orang dalam 1 meter persegi, kerumunan bisa menjadi berbahaya.
“Saat tubuh bersentuhan, energi yang besar dan kepadatan bisa membuat dorongan meningkat sehingga membuat kerumunan kolaps,” katanya. Salah satu penanda nan jelas terlihat saat kerumunan terlalu padat dan berbahaya, sebut Still, ialah ketika orang-orang terlihat seperti ladang gandum. Orang-orang bergoyang, terombang-ambing. Ia mencontohkan konser Oasis di Manchester, Inggris, pada 2005. Tanda itu terlihat tepat sebelum gelombang manusia bergerak ke arah panggung.
BACA JUGA:
Belajar dari Tragedi Itaewon, Wajib Tahu Cara CPR untuk Pertolongan Henti Jantung
Kewaspadaan kunci keselamatan
Menjaga diri dan orang lain selamat dalam kerumunan berarti mampu melihat saat kepadatan mulai meningkat. Hal itu bisa amat mengecoh. Tergantung pada sudut pandang yang digunakan: dari atas panggung ataukah hellikopter.
Meski demikian, menurut Still, penyelenggara bisa mencegah bencana terimpit kerumunan dengan selalu mengawasi kepadatan orang. Saat kerumunan menjadi terlalu padat, penyelenggara bisa menyetop orang masuk ke area. Akan amat sulit mengurangi kerumunan saat menjadi terlampau padat. Oleh karena itu, Still juga menyebut penampil bisa ikut andil. “Penampil atau artis harus berhenti sejenak dan meminta setiap orang untuk mundur,” jelasnya.
Bagi kamu, saat berada di kerumunan, Still menyarankan untuk mengawasi area yang amat mungkin jadi paling ramai. Hal itu bisa membuatmu aman dan menyelamatkan nyawa. “Keluarlah dari kerumunan saat ruang pribadi makin sempit,” saran Still.
Senada, produser festival dan acara yang juga senior vice president pada Deep South Entertainment Amy Cox memberikan tips agar aman di kerumunan. “Aturanku, secara pribadi, ialah selalu mengecek apakah aku bisa menempatkan tanganku di pinggangku dengan nyaman tanpa menyentuh orang lain di sekitarku. Itulah jarak aman,” katanya.(dwi)
BACA JUGA:
Bagikan
Berita Terkait
BPJS Kesehatan Sebut Peserta yang Dinonaktifkan sudah tak Masuk Golongan Syarat Kategori Miskin
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Duet Drum PM Jepang dan Presiden Korea Selatan, Diplomasi K-Pop untuk Hubungan Rumit
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol Dituntut Hukuman Mati, Sidang Putusan Dijadwalkan 19 Februari