Pecandu Medsos Lebih Mungkin Muncul Sebagai Pelaku Perundungan di Dunia Nyata
Terdapat persepsi miring dari medsos. (Foto: Unsplash/Morgan Basham)
SISI negatif dari media sosial bisa menjadi sarana pemecah belah justru di saat orang lagi “baek-baek aja.” Makanya, tidaklah aneh untuk melihat orang-orang yang suka mempermalukan atau bikin naik pitam orang lain. Ini yang biasanya dilakukan oleh mereka-mereka yang mungkin kecanduan media.
Peneliti di Michigan State University dan California State University di Fullerton ini layak dicatat bahwa menunjukkan jika medsos memberikan persepsi yang miring tentang kemanusiaan.
Baca juga:
Tujuh Cara Bijak Bermedia Sosial, Salah Satunya Mengerti Sisi Hukum
Dengan kata lain, orang yang kejam lebih cenderung terlibat dengan media sosial dan lebih lama. Ini artinya mereka menghasilkan lebih banyak konten. Jadi, jika kamu merasa sedih ketika membaca semua komentar argumentatif sarat amarah secara daring, ingatlah, mereka sedang tidak mewakili rasa perikemanusiaan secara keseluruhan.
Para peneliti di balik studi ini melacak 472 mahasiswa di Snapchat dan Facebook. FastCompany membeberkan kalau Snapchat rata-rata digunakan 2,64 jam per hari oleh remaja berusia 18 hingga 24 tahun. Sementara Facebook digunakan rata-rata 2,28 jam per hari.
Para peneliti menemukan bahwa pengguna yang menampilkan perilaku adiktif lebih cenderung menunjukkan perilaku yang kejam dan ‘tegaan’ terhadap pengguna medsos lainnya.
Baca juga:
Penyedia media sosial tanpa disadari melayani orang-orang yang mencari imbalan dengan menjadi pribadi yang kejam. Seperti cyberbullying atau berbagai perilaku daring yang agresif, adanya korelasi antara psikopati, narsisme, dan kecanduan internet.
"Hasil kami menunjukkan bahwa individu yang memiliki preferensi lebih besar untuk jenis imbalan ini, menampilkan penggunaan kedua platform dengan masalah yang lebih besar," mereka melanjutkan.
Sebagai catatan tambahan, melansir laman Intersting Engineering, penelitian ini juga menemukan pengguna dengan perilaku yang lebih bikin ketagihan. Menghabiskan lebih banyak waktu di Snapchat dan berusaha cukup sering menggunakan Facebook.
Pada akhirnya, para peneliti berharap bahwa studi mereka akan terbukti bermanfaat dalam mengobati orang-orang dengan kecanduan internet. Karena hal itu akan memberi wawasan kepada para dokter lebih banyak tentang imbalan sosial dan lingkaran umpan balik yang mungkin memotivasi perilaku mereka.
Secara keseluruhan, hal ini menunjukkan kepada kita bahwa mungkin sebagian besar konten media sosial dibuat oleh orang-orang yang menunjukkan perilaku kejam dalam kehidupan sehari-hari mereka. (lgi)
Baca juga:
Sekitar 218 Akun Medsos Layak Ditakedown Karena Sebar Hoaks dan Ujaran Kebencian
Bagikan
Leonard
Berita Terkait
Akun X Bruno Fernandes Kena Hack, Manchester United Langsung Angkat Bicara
Grok AI Belum Punya Filter Pornografi, DPR Tuntut Langkah Proaktif Kemkomdigi
Kumpulan Ucapan Natal Cocok untuk WhatsApp dan Media Sosial
Imbas Konten Pornografi, X Harus Bayar Denda Rp 80 Juta ke Pemerintah
Polda Jabar Bakal Selidiki YouTuber Resbob Terkait Dugaan Ujaran Kebencian
DPR Usul Buzzer Bisa Langsung Diusut Tanpa Aduan, Revisi UU ITE Kembali Diungkapkan
Indonesia Resmi Atur Anak di Ruang Digital, Sanksi Bagi Platform Tengah Dirumuskan
Menkomdigi Tegaskan Batas Usia Pengguna Medsos Wajib Dipatuhi, PSE Siap Kena Sanksi
Larangan Medsos di Australia, Meta Mulai Keluarkan Anak-Anak dari Instagram dan Facebook
Buntut Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Pramono Kaji Pembatasan Medsos Bagi Siswa