Kesehatan

Omicron Jadi Variant of Concern, ini Alasannya

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 30 November 2021
Omicron Jadi Variant of Concern, ini Alasannya

Varian Omicron memiliki jumlah mutasi yang luar biasa tinggi, dengan lebih dari 30 mutasi. (iStock/Oleksandra Klestova)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

VARIAN baru virus corona, Omicron, mungkin mendorong kembalinya protokol kesehatan yang lebih ketat untuk pencegahan COVID-19. Terlebih ketika tidak cukup banyak orang yang divaksinasi. Demikian diungkapkan para ahli kesehatan.

Saat ini Omicron atau strain B.1.1.529 dari virus corona itu telah memicu larangan perjalanan internasional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyebutnya sebagai variant of concern pada Jumat (26/11).

Lalu, mengapa Omicron 'terlihat berbeda' dari varian lain sehingga masuk kategori variant of concern?

BACA JUGA:

Temuan Penerima Nobel Kimia 2021 akan Berpengaruh Besar pada Dunia Pengobatan

Ketika coronavirus terus menyebar, mutasi baru dan varian baru sudah pasti akan terus bermunculan. "Kami telah melihat banyak varian muncul selama lima, enam bulan terakhir, dan kebanyakan dari mutasi itu tidak berbahaya. Ini terlihat berbeda," kata Dr Ashish Jha, dekan Brown University School of Public Health seperti diberitakan CNN (29/11).

"Varian Omicron memiliki jumlah mutasi yang luar biasa tinggi, dengan lebih dari 30 mutasi pada protein spike saja," kata ilmuwan genom Afrika Selatan, pekan lalu. Protein spike adalah struktur yang digunakan virus untuk masuk ke sel yang diserangnya.

"Ada 10 atau lebih dari mutasi berada pada domain pengikatan reseptor, yang mengikat ke sel-sel di faring hidung dan di paru-paru," kata Dr Anthony Fauci kepada NBC, Minggu (28/11).

Dengan kata lain, kata Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases AS itu, profil mutasi sangat menunjukkan varian itu akan memiliki keunggulan dalam penularan.

Ketika para ahli melihat varian lain, kata Jha, biasanya dibutuhkan beberapa bulan agar strain tersebut menjadi dominan atau jenis virus yang paling umum menyebar di satu area.

"Yang ini menjadi dominan dengan sangat cepat di Afrika Selatan di wilayah varian ini ditemukan. Hanya dalam hitungan hari hingga minggu, bukan bulan," kata Jha.

"Sekarang, jumlah kasus di Afrika Selatan cukup rendah, jadi bisa juga karena alasan lain, bukan hanya karena lebih mudah menular. Namun, kecepatan penyebarannya benar-benar tidak seperti yang pernah kita lihat sebelumnya," imbuhnya menambahkan.

Menunggu penelitian lebih lanjut

varian omicron
Saat ini Omicron telah memicu larangan perjalanan internasional dari Afrika Selatan. (iStock/Paul Kane)

Sementara itu, Direktur Institusi Kesehatan Nasional Dr Francis Collins mengatakan belum jelas apakah varian Omicron lebih menular daripada varian Delta.

"Ini tentu menunjukkan tanda-tanda bisa menyebar dengan cepat," katanya. Meski demikian, ia tidak tahu apakah itu bisa menyaingi Delta. "Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah varian Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah," kata Collins.

"Masih banyak yang tidak kita ketahui tentang Omicron," kata ahli epidemiologi dan penyakit menular Dr Celine Gounder. Ia mengaku para ilmuwan masih belajar. Menurutnya, pandemi bukan tentang kepanikan. Ini tentang kebijakan, protokol, dan praktik. "Dalam hal ini, itu berarti melakukan pekerjaan untuk mengarakterisasi virus," kata Gounder, Minggu (28/11).

Moderna mengatakan sedang menguji kemampuan vaksin COVID-19 untuk menetralisasi Omicron. Datanya diharapkan tersedia dalam beberapa minggu mendatang.

Perusahaan tersebut mengatakan sedang menguji booster dosis lebih besar dan booster khusus Omicron jika vaksin dan booster saat ini tidak cukup bekerja melawan varian baru.

Jika dibutuhkan, para ilmuwan akan menentukan dosis vaksin khusus Omicron diperlukan. "Kami pikir dalam beberapa minggu hingga mungkin dua hingga tiga bulan, kami akan dapat memiliki booster vaksin khusus Omicron yang tersedia untuk pengujian," ujar Chief Medical Officer Moderna Dr Paul Burton, Minggu (28/11).

BioNTech, perusahaan Jerman yang bermitra dengan Pfizer untuk membuat vaksin COVID-19, juga sedang menyelidiki dampak Omicron pada vaksin mereka dengan data yang diharapkan dalam beberapa minggu mendatang. Pihak Johnson & Johnson juga mengatakan pihaknya juga menguji efektivitas vaksin mereka terhadap Omicron.

Sementara itu, Moderna mengatakan varian Omicron bisa menjadi tantangan. "Kombinasi mutasi mewakili potensi risiko yang signifikan untuk mempercepat memudarnya kekebalan alami dan yang diinduksi vaksin," kata perusahaan itu Jumat (26/11).

Namun, Jha mengatakan dia tidak berpikir varian baru berarti vaksin tidak akan berguna. "Saya pikir itu sangat tidak mungkin. Pertanyaannya ialah apakah ada pukulan kecil untuk kemanjuran vaksin atau adakah pukulan besar?" katanya.

Perlu waktu beberapa minggu

varian omicron
Belum jelas apakah varian Omicron lebih menular daripada varian Delta, masih perlu penelitian lebih lanjut. (pixabay/FrankundFrei)


Sebelum para ilmuwan dapat mengatakan seberapa besar vaksin saat ini dapat bekerja melawan Omicron. "Kita harus melalui beberapa minggu dalam ketidakpastian," kata Burton.

"Ada tiga pertanyaan yang sangat kami butuhkan jawaban: seberapa menularkan varian ini? Seberapa parah? Apakah antibodi yang dihasilkan sebagai respons terhadap vaksin saat ini (akan) efektif? Kita tidak akan tahu jawaban pertanyaan terakhir selama beberapa minggu," kata Burton kepada CNN, Minggu (28/11).

“Namun, yang kami tahu adalah bahwa perlindungan terbaik ialah dengan divaksinasi. Jika kamu belum divaksinasi, dapatkan vaksinasi. Saat ini, semua orang di atas 18 tahun di negara ini setidaknya memenuhi syarat untuk booster. Jadi, jika kamu sekarang memenuhi syarat untuk booster, dapatkan booster juga," katanya.

Burton mengatakan, dengan melakukan itu, setidaknya kamu akan mendapatkan perlindungan kritis lini pertama. Selain itu, ia mengingatkan ada hal-hal lain yang lebih sederhana yang dapat kamu lakukan, seperti mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker sebagaimana mestinya. "Sampai kita tahu persis apa yang terjadi, akan menjadi sangat penting untuk tetap berada dalam garis pertahanan," tegas Burton.(aru)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Presiden Prabowo Perintahkan Persingkat Antrean Layanan BPJS
Selain itu tidak boleh ada lagi diskriminasi pelayanan antara peserta BPJS Kesehatan dan pasien non-BPJS.
Dwi Astarini - 2 jam, 16 menit lalu
Presiden Prabowo Perintahkan Persingkat Antrean Layanan BPJS
Indonesia
Program Ambulans Udara Mulai Diujicobakan Pakai Helikopter
Pemerintah telah melakukan uji coba melalui latihan evakuasi medis menggunakan helikopter di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 28 September 2026
Program Ambulans Udara Mulai Diujicobakan Pakai Helikopter
Tekno
Risiko Jantung Mengintai di Balik Maraknya Fenomena 'Mendadak Atlet'
Tren olahraga ekstrem seperti lari dan Hyrox kian marak, namun fenomena mendadak atlet tanpa cek kesehatan justru memicu risiko fatal henti jantung!
Wisnu Cipto - Jumat, 25 September 2026
Risiko Jantung Mengintai di Balik Maraknya Fenomena 'Mendadak Atlet'
Kuliner
Belajar Trik Makan Mi Instan Sehat ala Gen Z Korea, Dobel Manfaat sebagai Pereda Pengar
Mi instan sebagian besar terdiri dari karbohidrat olahan, tapi rendah serat.
Dwi Astarini - Rabu, 23 September 2026
Belajar Trik Makan Mi Instan Sehat ala Gen Z Korea, Dobel Manfaat sebagai Pereda Pengar
Olahraga
Joanna Wietrzyk Alami Inkontinensia Feses di Tengah Lomba HYROX, Tetap Finis dan Jadi Juara
Atlet HYROX asal Australia Joanna Wietrzyk mengalami inkontinensia feses saat lomba di Beijing, tetapi tetap bertanding hingga keluar sebagai juara.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 17 September 2026
Joanna Wietrzyk Alami Inkontinensia Feses di Tengah Lomba HYROX, Tetap Finis dan Jadi Juara
Dunia
Rekor Baru Jepang! Warga Berusia 100 Tahun Tembus 100 Ribu, 87,6% Perempuan
umlah lansia berusia 100 tahun ke atas di Jepang tembus 107.677 orang per September 2026. Sebanyak 87,6% di antaranya adalah wanita. Simak data lengkapnya!
Wisnu Cipto - Selasa, 15 September 2026
Rekor Baru Jepang! Warga Berusia 100 Tahun Tembus 100 Ribu, 87,6% Perempuan
Indonesia
Menkes Butuh USD 27 Miliar Buat Meningkatan Usia Harapan Hidup Jadi 76 Tahun
Untuk memenuhi itu, katanya, pihaknya pun berupaya membangun kepercayaan dari para mitra global dan filantropis.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 15 September 2026
Menkes Butuh USD 27 Miliar Buat Meningkatan Usia Harapan Hidup Jadi 76 Tahun
Indonesia
Pemerintah Klaim Program CKG Telah Jangkau 130 Juta Jiwa
Program ini difokuskan untuk memperkuat deteksi dini penyakit sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.
Dwi Astarini - Sabtu, 12 September 2026
Pemerintah Klaim Program CKG Telah Jangkau 130 Juta Jiwa
Berita Foto
Hadapi Era Ageing Population, Alita-Fujitsu Hadirkan Teknologi AI Human Motion Analytics
Pengunjung memukul bola golf lewat teknologi AI Human Motion Analytics dalam ajang Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 11 September 2026
Hadapi Era Ageing Population, Alita-Fujitsu Hadirkan Teknologi AI Human Motion Analytics
Lifestyle
Hujan Abu Vulkanis Menempel di Rambut dan Pakaian, Ini Alasan Harus Segera Bersih-bersih
Abu vulkanis dapat menempel pada kulit, rambut, pakaian, dan sepatu. Simak alasan pentingnya mandi dan mengganti pakaian setelah terpapar abu.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 11 September 2026
Hujan Abu Vulkanis Menempel di Rambut dan Pakaian, Ini Alasan Harus Segera Bersih-bersih
Bagikan