Murderabilia, Ketika Barang Bukti Kasus Pembunuhan Jadi Koleksi

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Selasa, 17 Mei 2022
Murderabilia, Ketika Barang Bukti Kasus Pembunuhan Jadi Koleksi

Melestarikan sepotong sejarah kriminal menjadi salah satu motivasi mengoleksi barang dari kasus pembunuhan. (Foto: freepik/freepik)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SEBUAH halaman surat dari Profesor Psikologi Forensik di DeSales University, Pennsylvania, AS, Katherine Ramsland, PhD untuk pembunuh 'BTK' (bind, torture, kill) Dennis Rader dijual seharga 200 USD atau sekitar Rp 2,9 juta.

Surat itu berisi penjelasan ide untuk pembuatan cerita 'Confession of a Serial Killer'. Inisial Rader pada bagian atas surat meningkatkan nilai penjualan. Artinya, dia benar memegangnya dan seseorang rela membayar untuk memilikinya.

Aura yang sama melekat pada barang-barang lain yang terkait dengan pembunuh berantai dan pembunuh massal, dengan beberapa harga yang sangat tinggi. Dari museum hingga situs web hingga pameran berskala besar, para kolektor dapat menemukan hampir semua hal yang mereka inginkan. Namun, kenapa? Apa yang mendorong mereka mengoleksi barang dari kasus pembunuhan sebagai murderabilia?

Baca juga:

Museum di Ukraina Berjuang Selamatkan Koleksi Seni Rusia

"Saya mengumpulkan killabilia untuk melestarikan bagian-bagian sejarah yang gelap, dari surat hingga karya seni hingga ID penjara, yang telah saya kumpulkan selama bertahun-tahun dari berbagai pelanggar hukum, serta membeli barang-barang itu untuk koleksi saya. Meskipun killabilia adalah subjek yang tabu, itu memberikan wawasan tentang jiwa dan dunia penjahat," Andrew Dodge, seorang kolektor dan pembawa acara podcast Unforbidden Truth, menjelaskan.

Killabilia kemudian diubah menjadi murderabilia oleh advokat korban Andy Kahan. Istilah itu dimaksudkan untuk menghina, menjadi label yang diterima untuk perdagangan yang tidak wajar ini. Profesor Inggris David Schmid memandang kombinasi selebritas dan kematian sebagai kekuatannya, yang muncul dari beragam sisi dalam budaya Amerika: narasi yang disetujui secara sosial bahwa pembunuh itu jahat, dikontradiksikan dengan narasi yang 'ditolak' secara umum bahwa para penjahat itu menarik.

Murderabilia, Ketika Barang Bukti Kasus Pembunuhan Jadi Koleksi
Para kolektor dapat menemukan hampir semua hal yang mereka inginkan sebagai murderabilia. (Foto: freepik/rawpixel)

Adanya kontradiksi itu membuat pembunuh menjadi diminati, terutama secara sembunyi-sembunyi. Semakin banyak eksposur yang dicapai sosok tertentu melalui cerita yang menarik perhatian penonton, semakin besar daya pikat mereka untuk menjadi selebritas.

Pakar kejahatan sejati Harold Schechter menyatakan, mengumpulkan barang-barang yang telah disentuh atau dimiliki pembunuh berakar pada takhayul. Benda-benda itu dipercaya sebagai jimat keberuntungan yang dapat melindungi. Dari mereka yang mencelupkan saputangan ke dalam luka berdarah gangster John Dillinger hingga mereka yang telah membeli mobil Ted Bundy atau nisan Ed Gein, akan selalu ada orang yang ingin memiliki barang-barang yang terkait dengan kekerasan dan kematian.

"Pasar killabilia menggemakan daya tarik medan perang, olahraga ekstrem, film horor, dan bahkan peristiwa cuaca berbahaya yang tidak dapat ditolak. Adanya sedikit ketenaran dan 'efek menular' dari memiliki benda yang telah disentuh pembunuh," kata Ramsland dalam tulisannya di Psychology Today.

Dia menambahkan, TKP dan pengadilan pembunuhan telah menarik perhatian sejak tahun 1800-an, dan jangkauan internet telah meningkatkan visibilitas dan akses secara signifikan. Itu juga menyediakan komunitas kolektor yang berpikiran sama. Tabu sebagai praktiknya, tapi ada banyak dukungan.

"Melestarikan sepotong sejarah kriminal adalah salah satu motivasi, tetapi untuk beberapa kolektor, benda-benda ini juga mengandung vitalitas terselubung," dia menjelaskan. Orang yang menerima surat atau gambar dari Dennis Rader, misalnya, mengatakan betapa hal itu menyenangkan, bahkan menakutkan.

"Orang-orang seperti itu telah menolak kerangka sosial dari perilaku yang sah untuk melepaskan kemarahan, nafsu, keputusasaan, atau emosi lain yang mengilhami pembunuhan. Mereka sedekat mungkin dengan jurang pemisah antara hidup dan mati," ujarnya.

Baca juga:

Selebgram Ini Raih Miliaran Rupiah karena Jual Gas 'Alami' di Toples

Energi yang menentang batas

Murderabilia, Ketika Barang Bukti Kasus Pembunuhan Jadi Koleksi
Secara psikologis, seorang kolektor dapat merasakan aura pembunuh dari jarak yang aman. (Foto: freepik/freepik)

Ketertarikan dengan barang-barang yang berhubungan dengan pembunuhan mengungkapkan ketertarikan pada energi yang menentang batas-batas. Jadi, ada pasar untuk mendapatkannya. Dan itu dimulai dengan kriminolog yang berharap untuk mendidik.

Teori positivis selama akhir abad kesembilan belas mengilhami museum kriminologi pertama sebagai lembaga pengajaran. Ketika kriminolog Austria Hans Gross membuktikan seberapa cepat pengetahuan tentang kejahatan menjadi usang, pengembang museum memutuskan untuk membangun sejarah visual. Di museum-museum ini, pengunjung dapat menemukan tengkorak, topeng kematian, instrumen eksekusi, senjata, racun, alat kejahatan, sampel tulisan tangan, penyamaran kriminal, dan bahkan jasad manusia.

Dalam pasar murderabilia, masyarakat menuntut lebih, sehingga penjual menambah produk. Setelah pasar makin kuat, isinya tidak mungkin untuk dikendalikan. Pembeli menentukan nilainya, termasuk tingkat kekejaman dan kebejatan yang menyertainya. Penjual hanya mengikuti pasar.

Psikolog Michael Apter mengatakan, begitu sesuatu diberi label 'berbahaya' itu memberikan daya tarik magis karena emosinya yang meningkat. "Untuk mengurangi kecemasan saat mendekatinya, dikembangkan 'bingkai pelindung', yaitu, narasi yang menguatkan: Monster itu mengancam kita, tetapi kita dapat membunuh atau mengurungnya. Dengan demikian, kita dapat dengan aman mengalami sensasi ketakutan atas apa yang telah dia lakukan," Ramsland menguraikan.

Konsep penguatan itu berlaku dalam transfer yang dirasakan dari esensi pembunuh melalui benda yang terkait. Makna yang disampaikan ke objek menciptakan bingkai, yang mempertahankan rasa ancaman. Namun si pembunuh tidak benar-benar ada di sana. Secara psikologis, seorang kolektor dapat merasakan aura pembunuh dari jarak yang aman.

Saat ini, seseorang dapat menemukan banyak situs lelang dan penjualan daring. Kamu mungkin menemukan catatan tulisan tangan dari Ted Bundy, kotoran dari tempat pembuangan mayat sejumlah pembunuh, barang-barang yang digunakan dalam pembunuhan, cetakan tangan yang ditandatangani, dan beberapa karya seni, termasuk potret diri. (aru)

Baca juga:

Ilmuwan Punya Ide Menjadikan Mars Sebagai Rumah

#Unik #Kasus Pembunuhan #Kriminal
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Kasus Kematian Eks ART Mantan Jampidsus Naik Penyidikan, Polisi Siapkan Ekshumasi
Polda Metro Jaya meningkatkan kasus kematian eks ART mantan Jampidsus Febrie Adriansyah ke tahap penyidikan. Polisi akan melakukan ekshumasi jenazah S.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 10 Agustus 2026
Kasus Kematian Eks ART Mantan Jampidsus Naik Penyidikan, Polisi Siapkan Ekshumasi
Indonesia
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf, Polisi Tetap Usut meski Laporan Dicabut
Korban diduga dibawa paksa lima pria tak dikenal saat perayaan ulang tahun neneknya di sebuah restoran di kawasan Mangga Besar, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Dwi Astarini - Selasa, 21 Juli 2026
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf, Polisi Tetap Usut meski Laporan Dicabut
Fun
Unik! Bayi Asal Wonosobo Diberi Nama Muhammad MBG Subianto, Begini Kisahnya
Bayi bernama Muhammad MBG Subianto viral di media sosial. Namanya dinilai unik dan akrab di telinga masyarakat.
Soffi Amira - Rabu, 15 Juli 2026
Unik! Bayi Asal Wonosobo Diberi Nama Muhammad MBG Subianto, Begini Kisahnya
Indonesia
Polri Gencarkan Perburuan Bandar Narkoba di Kalteng Usai 3 Anggota Gugur saat Penggerebekan
Polri menggencarkan perburuan bandar narkoba di Katingan, Kalimantan Tengah, setelah tiga anggota gugur saat operasi penggerebekan. Bareskrim meminta dukungan masyarakat.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 06 Juli 2026
Polri Gencarkan Perburuan Bandar Narkoba di Kalteng Usai 3 Anggota Gugur saat Penggerebekan
Indonesia
Taufik Hidayat Ganti Gaya Rambut Saat Ditangkap Polisi, Begini Tampang Terbarunya
Foto terkini pascapenangkapan yang didapat Merahputih.com memperlihatkan perubahan mencolok pada penampilan fisik Taufik
Angga Yudha Pratama - Selasa, 23 Juni 2026
Taufik Hidayat Ganti Gaya Rambut Saat Ditangkap Polisi, Begini Tampang Terbarunya
Indonesia
Polresta Solo Tangkap 3 Pelaku Teror Pocong, Minta Maaf Telah Bikin Gaduh
Sebelumnya, viral video teror pocong berdurasi 30 detik gegerkan warga Solo.
Dwi Astarini - Selasa, 09 Juni 2026
Polresta Solo Tangkap 3 Pelaku Teror Pocong, Minta Maaf Telah Bikin Gaduh
Indonesia
Komisi III DPR Minta Woodyrman Pembunuh WN Brunei Segera Dideportasi dan Dicekal Masuk Indonesia
Menurut Sahroni, proses deportasi perlu segera dilakukan agar pelaku dapat diproses hukum di negara asalnya.
Frengky Aruan - Jumat, 29 Mei 2026
Komisi III DPR Minta Woodyrman Pembunuh WN Brunei Segera Dideportasi dan Dicekal Masuk Indonesia
Indonesia
Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan Perempuan di Bogor Usai Kejar-kejaran Dramatis di Tol
Pelaku pembunuhan perempuan di Bogor berhasil ditangkap polisi setelah aksi kejar-kejaran dramatis di jalan tol. Mobil pelaku sempat terguling saat mencoba kabur.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 23 Mei 2026
Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan Perempuan di Bogor Usai Kejar-kejaran Dramatis di Tol
Indonesia
Begal Marak di Jakarta, Pemprov DKI Harus Ikut Bertindak
Masalah begal ini menyangkut banyak hal, mulai dari keamanan masyarakat sampai dengan citra Jakarta yang berambisi menjadi kota global.
Dwi Astarini - Senin, 18 Mei 2026
Begal Marak di Jakarta, Pemprov DKI Harus Ikut Bertindak
Lifestyle
Jaksa Tuduh D4vd Tikam Korban, Beli Alat-Alat Pembunuhan secara Daring
Jaksa mengatakan D4vd memiliki hubungan seksual yang berlangsung lama dengan Celeste Rivas Hernandez.
Dwi Astarini - Jumat, 01 Mei 2026
Jaksa Tuduh D4vd Tikam Korban, Beli Alat-Alat Pembunuhan secara Daring
Bagikan