Kontraterorisme

MUI: Yang Waras Tak Boleh Ngalah, Kaum Waras Harus Bekerja Aktif Pengaruhi Opini Publik

Eddy FloEddy Flo - Rabu, 16 Mei 2018
MUI: Yang Waras Tak Boleh Ngalah, Kaum Waras Harus Bekerja Aktif Pengaruhi Opini Publik

Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdul Moqsith Ghazali (MP/Ponco Sulaksono)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdul Moqsith Ghazali mengungkapkan, bahwa radikalisme agama di Indonesia memang memiliki jejak yang cukup panjang.

Karena memiliki jejak masa lalu yang cukup panjang, kata Moqsith, maka kelompok radikal ini tidak pernah benar-benar bisa dihancurkan. Pasalnya, sebagai sebuah ideologi radikalisme akan tetap hidup.

Hal tersebut disampaikan Moqsith dalam diskusi bertajuk “Setelah Mako Brimob dan Bom Surabaya” yang digelar Wahid Foundation di Aula Rumah Pergerakan Gusdur, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta Pusat, Selasa (15/5).

"Problemnya adalah kalau radikalisme berujung pada terorisme. Kalau sudah menjadi terorisme maka dia akan menggrogoti persendian negara. Kalau negara ini hancur kita semua menjadi rugi indonesia terancam menjadi negara gagal," kata Moqsith.

Diskusi di Wahid Foundation
Peserta diskusi bertajuk “Setelah Mako Brimob dan Bom Surabaya” yang digelar Wahid Foundation di Aula Rumah Pergerakan Gusdur (MP/Ponco Sulaksono)

Moqsith lantas mencontohkan, mayoritas negara-negara di Timur Tengah menjadi negara gagal karena tidak mampu mengelola keanekaragaman di dalam masyarakatnya.

"Afganistan negara yang seluruh penduduknya beragama Islam, hanya ada 7 suku tapi karena tidak mampu mengakomodasi keragaman pandangan, yang terjadi adalah egoisme sektoral primordial," ujarnya.

Indonesia, lanjut dia, beruntung karena memiliki akar pluralisme yang juga cukup panjang. Meski merupakan negara yang tergolong majemuk, Indonesia mampu mengelola keanekaragaman dengan baik.

"Organisasi-organisasi besar keagamaan bukan hanya ikut merawat negara Indonesia tapi ikut mendirikan negara Indonesia," ungkapnya.

Bahkan dalam konteks Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, kedua organisasi ini bukan hanya merawat tetapi juga ikut mendirikan negara Indonesia, merumuskan dasar negara dan merumuskan UUD 1945.

"Jadi negara ini jangan dianggap negara Thogut karena para ulama Islam sendiri terlibat di dalam proses perumusan dasar negara dan konstitusi," tegasnya.

Ibu Sinta Nuriah dan para panelis diskusi
Ibu Sinta Nuriah hadir dalam diskusi di Wahid Foundation (MP/Ponco Sulaksono)

Menurut Moqsith, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang toleran. Namun sayangnya, kelompok radikal lebih vokal dan lebih aktif melakukan gerakan-gerakan sehingga mengaburkan kelompok mayoritas yang moderat dan toleran.

"Kita berharap adagium lama yang menyatakan yang waras ngalah itu harus diubah. Yang waras tidak boleh ngalah, yang waras harus bekerja aktif mempengaruhi wacana publik," terang Moqsith.

Karena itu, dia berpendapat, saat ini yang penting dilakukan adalah mempengaruhi wacana publik. Sebab, diskursus percakapan masyarakat diruang publik sudah sangat buruk dan kotor lantaran sudah dipenuhi oleh ujaran kebencian.

"NU dalam Munas kemarin sudah mengeluarkan fatwa mengenai haramnya ujaran kebencian dan para pelaku ujaran kebencian harus ditindak secara hukum," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Wahid Foundation Yenny Wahid berpendapat, upaya menanggulangi terorisme tak dapat dilakukan oleh pemerintah saja. Menurut dia, masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah aksi terorisme.

Yenny Wahid
Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid. (Foto Ist)

"Hasil riset Wahid Foundation mendapati, radikalisme berkaitan dengan intoleransi dan bisa berujung pada salah satu bentuk radikalisme yang ekstrem, yaitu terorisme yang kini masih jadi ancaman bagi bangsa," kata Yenny Wahid.

Karena itu, lanjut dia, Wahid Foundation mendorong peningkatan dukungan dan partisipasi masyarakat sipil, seperti ormas keagamaan, NGO, komunitas lokal, komunitas lainnya, dan sektor swasta dalam merespons radikalisme dan terorisme.

"Pemerintah dan masyarakat harus serius dalam upaya mengurangi peredaran materi-materi berisi kebencian," tuturnya.

Menurut Yenny, berdasarkan hasil survei Wahid Foundation materi berisi kebencian berkorelasi langsung dengan radikalisme. Karena itu, ia mendesak pengelola stasiun televisi, ormas-ormas keagamaan, dan para pengelola rumah ibadah untuk tidak memberi tempat bagi para penceramah yang sering menyampaikan materi-materi berisi kebencian.

"Kami juga menyampaikan desakan agar penyedia layanan platform konten online mendedikasikan upaya untuk mengatasi peredaran konten-konten sosmed yang berisi ujaran kebencian," ujarnya.

Lebih lanjut puteri dari Presiden RI ke 4 Abdurahman Wahid (Gus Dur) ini mengimbau kepada masyarakat agar tidak memberi tempat dan lingkungan yang nyaman bagi pihak-pihak yang mendukung ujaran kebencian dan aksi-aksi intoleransi.

"Kami mendesak partai politik dan para politisi untuk tidak menjadikan sentimen agama atau keyakinan sebagai alat politik yang dampaknya berbahaya bagi kehidupan dan persatuan bangsa Indonesia," pungkasnya.(Pon)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Gus Mus Ajak Umat Islam Indonesia Perbanyak Istighfar

#Majelis Ulama Indonesia #Yenny Wahid #Toleransi #Radikalisme
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Fun
'Toleranshoes' Bawa Semangat Satu Langkah untuk Merawat Kerukunan, Hasil Kolaborasi 6 Pemuka Agama
Melalui kampanye ini, Aerostreet ingin menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menjadi penghalang untuk berjalan bersama.
Dwi Astarini - Kamis, 13 Agustus 2026
 'Toleranshoes' Bawa Semangat Satu Langkah untuk Merawat Kerukunan, Hasil Kolaborasi 6 Pemuka Agama
Indonesia
MUI Ingatkan Karnaval Agustusan Tak Disusupi Kampanye LGSP dan Judi
Muiz mengutip hadis riwayat Imam Bukhari yang menyebut larangan bagi laki-laki menyerupai perempuan maupun perempuan menyerupai laki-laki
Angga Yudha Pratama - Minggu, 09 Agustus 2026
MUI Ingatkan Karnaval Agustusan Tak Disusupi Kampanye LGSP dan Judi
Indonesia
Gereja Santa Theresia Berikan Sapi Kurban untuk Komunitas Muslim Tanah Abang dengan Semangat Toleransi
Pastor Kepala Paroki Santa Theresia, Romo Benny Beatus Wetty, SJ menyerahkan hewan kurban berupa dua ekor sapi kepada komunitas umat Muslim di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (26/5).
Frengky Aruan - Selasa, 26 Mei 2026
Gereja Santa Theresia Berikan Sapi Kurban untuk Komunitas Muslim Tanah Abang dengan Semangat Toleransi
Indonesia
Paham Radikal Menyebar Cepat, Kadensus 88 Minta Orangtua Lindungi Anak di Ruang Digital
Pendekatan terhadap anak yang terpapar persoalan di ruang digital mengedepankan perlindungan, rehabilitasi, dan pendampingan.
Dwi Astarini - Kamis, 21 Mei 2026
Paham Radikal Menyebar Cepat, Kadensus 88 Minta Orangtua Lindungi Anak di Ruang Digital
Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Indonesia
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Wakapolri mengungkap pola baru terorisme dan ekstremisme yang kini berkembang melalui ruang digital. Polri juga menyoroti ratusan anak terpapar radikalisme di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Indonesia
Solo Makin Jauh Dari Kota Paling Toleran, Wali Kota Siapkan Berbagai Festival
Pihaknya optimis dengan upaya-upaya ini dapat memperkuat citra Kota Solo sebagai daerah yang menjunjung tinggi keberagaman dan kerukunan antar umat beragama.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 25 April 2026
Solo Makin Jauh Dari Kota Paling Toleran, Wali Kota Siapkan Berbagai Festival
Indonesia
Simbol Toleransi, Kardinal Suharyo Gandeng Tangan Menteri Agama di Momen Idul Fitri
Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo menemui Menteri Agama Nasaruddin Umar di rumah dinasnya, mengucapkan selamat Idul Fitri di lebaran hari pertama.
Wisnu Cipto - Minggu, 22 Maret 2026
Simbol Toleransi, Kardinal Suharyo Gandeng Tangan Menteri Agama di Momen Idul Fitri
Tradisi
Tradisi Ngejot di Bali: Cara Warga Berbagi Makanan dan Menjaga Toleransi saat Ramadan
Tradisi Ngejot di Bali menjadi simbol toleransi antarumat beragama saat Ramadan. Warga berbagi makanan kepada tetangga sebagai bentuk silaturahmi dan kebersamaan.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 14 Maret 2026
Tradisi Ngejot di Bali: Cara Warga Berbagi Makanan dan Menjaga Toleransi saat Ramadan
Indonesia
Produk AS Masuk RI Wajib 2 Label Halal, Ini Penjelasan BPJPH
BPJPH pastikan produk AS tetap wajib dua label halal meski ada kesepakatan dagang RI-AS. Skema MRA jamin standar halal tetap aman.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 24 Februari 2026
Produk AS Masuk RI Wajib 2 Label Halal, Ini Penjelasan BPJPH
Bagikan