Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1
Secuplik Riwayat

Muhammad Saleh Werdisastro, Tokoh Muhammadiyah dan Bapak Pendidikan dari Sumenep

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Kamis, 15 Februari 2018
Muhammad Saleh Werdisastro, Tokoh Muhammadiyah dan Bapak Pendidikan dari Sumenep

Siswa-siswi Partikelir Hollandsch-Inlandsche School (PHIS) Sumekar Pangabru 1934. (wikivisually.com)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BAGI warga Muhammadiyah, Muhammad Saleh Werdisastro bukan hanya sekadar nama. Pengorbanannya ketika hidup, dijawab dengan keabadian dan keharuman sosoknya hingga kini. Bahkan, jasadnya yang penuh dengan perjuangan itu dimakamkan persis berdampingan dengan pendiri organisasi Muhammadiyah, KH Achmad Dahlan.

Muhammad Saleh Werdisastro lahir pada 15 Februari 1908 di Sumenep, Madura, Jawa Timur dari pasangan R Musaid Werdisastro dan R Ayu Aminatuszahra. Ayahnya merupakan seorang budayawan Madura yang berhasil menulis buku Babad Songenep (Sejarah Sumenep).

Tak banyak catatan sejarah yang menjelaskan bagaimana masa kecil Muhammad Saleh. Namun, ketika berusia 22 tahun, 15 Mei 1930, ia menyelesaikan pendidikannya di Hogere Kweek School (HKS) di Purworejo dan Malang.

Muhammad Saleh Werdisastro diangkat menjadi guru di sekolah dasar milik pemerintahan kolonial Belanda, Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Rembang, Jawa Tengah. Selama menjadi guru di sekolah bergengsi tersebut, justru tebersit dalam pikiran Muhammad Saleh untuk kembali ke Sumenep.

Setahun kemudian (1931), ia memutuskan pulang dan membesarkan tanah kelahirannya tersebut. Dengan segala permasalahan serta kekurangan yang terjadi pada saat itu, ia memberanikan diri mendirikan sekolah setaraf HIS untuk anak-anak dari kalangan bawah di Sumenep. Pada 31 Agustus 1931, sekolah Partikelir Hollandsch-Inlandsche School (PHIS) bernama Sumekar Pangabru pun diresmikan.

Pendidikan mulai dirasakan rakyat kecil. Tak hanya ilmu pengetahuan, rasa kebangsaan pun mulai tumbuh dalam setiap sanubari para murid. Bahkan, tak sedikit dari murid yang enggan menyanyikan lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus.

Akibatnya, Muhammad Saleh mendapat teguran dari Residen Madura saat itu. Nyali tak menciut, justru keberanian mencuat. Muhammad Saleh mengambil keputusan hebat dengan menghapus mata pelajaran menyanyi di sekolah PHIS.

Lebarkan Sayap Muhammadiyah di Yogyakarta

Pada 1 September 1941, setelah PHIS Sumekar Pangabru besar, Muhammad Saleh Werdisastro memutuskan hijrah ke Yogyakarta untuk membesarkan organisasi Muhammadiyah.

Demi mencukupi kebutuhan hidup, ia menjadi guru di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (sekolah menengah pertama) yang disokong oleh Gesubsidieerde Inheemse (subsidi pemerintah pribumi atau Kesultanan Yogyakarta).

Sampai pada akhirnya tentara Jepang menduduki Indonesia, pada 31 Agustus 1943, Muhammad Saleh Werdisastro mengawali karier di dunia militer dengan jabatan Daidanco (komandan batalyon) Dai Dang II Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta.

Namun, setelah Indonesia merdeka Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan tokoh masyarakat memilih Muhammad Saleh Werdisastro sebagai Komite Nasional Indonesia (KNI, sekarang DPRD) Yogyakarta.

Kemudian, pada 1 Februari 1950, Muhammad Saleh diangkat oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Wakil Wali Kota Yogyakarta, dan juga aktif di Majelis Tanwir Muhammadiyah Pusat di Yogyakarta. Dengan jabatan yang strategis itu, ia pun kemudian menginisiasi pendirian sebuah universitas ternama di Yogyakarta, Universitas Gajah Mada.

Setahun kemudian, persisnya tanggal 1 Agustus 1951, Muhammad Saleh dipilih menjadi Wali Kota Raja Kasunanan Surakarta (Solo) sampai 17 Februari 1958. Seperti halnya di Yogyakarta, dengan kuasa yang dipegang, Muhammad Saleh juga memelopori berdirinya Universitas Raja Kasunanan Surakarta dan aktif sebagai pengurus IKIP Muhammadiyah Surakarta.

Kariernya di dunia pemerintahan semakin cemerlang. Pada 29 Februari 1959, Muhammad Saleh Werdisastro diangkat menjadi Residen Kedu berkedudukan di Magelang. Untuk ketiga kalinya, ia kembali mendirikan sebuah perguruan tinggi yang bernama Universitas Magelang.

Pada tahun 1964, ia memutuskan untuk mengakhiri masa baktinya sebagai pamong praja. Namun sayang, bersamaan dengan itu, ia sempat jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Tentara Magelang. Menurut tim dokter yang diketuai Brigjen TNI Parsono, Muhammad Saleh Werdisastro menderita sakit kanker lever dan usianya diperkirakan tak lebih dari setahun.

Hingga pada akhirnya, pada tahun 1966, di usianya yang ke-58 tokoh besar Muhammadiyah itu wafat. Keranda Muhammad Saleh ditutup dengan kain berlambang Muhammadiyah.

Meski telah tiada, perjuangan serta pengabdiannya justru tak akan pernah padam. Pemikiran serta perjuangannya yang berbekas, menyentuh semua masyarakat Yogyakarta, tak hanya warga Muhammadiyah. Semangatnya dalam membebaskan serta membangun pendidikan bagi rakyat akan terus dikenang. (*)

#Secuplik Riwayat #Muhammadiyah #Pahlawan Kemerdekaan #Pahlawan Nasional #Sistem Pendidikan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Komunitas KucingMu Berdiri, Kucing Sekarang Bisa Punya KTA Muhammadiyah
: Muhammadiyah DIY meluncurkan Komunitas KucingMu sebagai wadah dakwah pecinta hewan. Uniknya, ada KTAM khusus kucing yang mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis.
Wisnu Cipto - Sabtu, 11 Juli 2026
Komunitas KucingMu Berdiri, Kucing Sekarang Bisa Punya KTA Muhammadiyah
Indonesia
Ketum PBNU dan PP Muhammadiyah Ikut ke Iran Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Delegasi Indonesia ke Iran tersebut merupakan perwakilan bangsa Indonesia yang diutus Presiden Prabowo Subianto untuk mengunjungi Iran, sebagai negara sahabat bagi Indonesia.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 09 Juli 2026
Ketum PBNU dan PP Muhammadiyah Ikut ke Iran Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Indonesia
Pujangga Besar Sutan Takdir Alisjahbana Masuk Bursa Pahlawan Nasional 2026, Mensos Harap Prabowo Setuju
Mensos Gus Ipul menegaskan warisan terbesar STA bagi bangsa ini adalah perjuangannya mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa modern.
Wisnu Cipto - Rabu, 01 Juli 2026
Pujangga Besar Sutan Takdir Alisjahbana Masuk Bursa Pahlawan Nasional 2026, Mensos Harap Prabowo Setuju
Indonesia
3 Kader Muhammadiyah Gugat Keabsahan Sidang Isbat Ramadan ke MK
Mahkamah Konstitusi menggelar sidang uji materiil UU Peradilan Agama terkait sidang isbat Ramadan. Kader Muhammadiyah menggugat Pasal 52A yang dianggap diskriminatif terhadap metode hisab.
Wisnu Cipto - Rabu, 10 Juni 2026
3 Kader Muhammadiyah Gugat Keabsahan Sidang Isbat Ramadan ke MK
Indonesia
Prabowo Subianto Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Koleksi Sepeda Onthel Hingga Ijazah Jadi Pengingat Perjuangan Sang Pahlawan Nasional
Kompleks Museum Pahlawan Nasional Marsinah berdiri di atas lahan seluas 938,6 meter persegi dan terdiri dari dua bangunan utama
Angga Yudha Pratama - Sabtu, 16 Mei 2026
Prabowo Subianto Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Koleksi Sepeda Onthel Hingga Ijazah Jadi Pengingat Perjuangan Sang Pahlawan Nasional
Indonesia
Gubernur Pramono Sebut Konsep Halalbihalal dari Muhammadiyah Relevan dengan Pembangunan Ibu Kota
Pramono berharap sinergi antara Pemprov DKI Jakarta dan Muhammadiyah terus diperkuat menjadi kemitraan yang kokoh dan berkelanjutan.
Dwi Astarini - Minggu, 05 April 2026
Gubernur Pramono Sebut Konsep Halalbihalal dari Muhammadiyah Relevan dengan Pembangunan Ibu Kota
Indonesia
Rayakan Hari Raya Lebaran Hari Jumat ini, PP Muhammadiyah: Tak Perlu Pertajam Perbedaan dan Mencari Kebenaran
Muhammadiyah sendiri melangsungkan perayaan Idul Fitri 1447 H pada Jumat (20/3) ini.
Frengky Aruan - Jumat, 20 Maret 2026
Rayakan Hari Raya Lebaran Hari Jumat ini, PP Muhammadiyah: Tak Perlu Pertajam Perbedaan dan Mencari Kebenaran
Berita Foto
Ribuan Umat Muslim Muhammadiyah Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H di Lapangan Sepak Bola Rempoa
Ribuan umat Muslim menunaikan ibadah Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H secara berjamaah di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (20/3/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 20 Maret 2026
Ribuan Umat Muslim Muhammadiyah Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H di Lapangan Sepak Bola Rempoa
Indonesia
Muhammadiyah Sikapi Ketegangan di Timur Tengah, Minta Sanksi Tegas dari PBB dan Imbau Organisasi Islam Solid
Muhammadiyah mengatakan pentingnya kepedulian internasional untuk meredam ketegangan yang dapat memicu kejahatan perang lebih besar di masa depan.
Dwi Astarini - Selasa, 03 Maret 2026
Muhammadiyah Sikapi Ketegangan di Timur Tengah, Minta Sanksi Tegas dari PBB dan Imbau Organisasi Islam Solid
Indonesia
Muhammadiyah Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Sebut Langgar HAM dan Hukum Internasional
Muhammadiyah mengecam serangan AS-Israel ke Iran. Muhammadiyah menyebut hal tersebut telah melanggar HAM dan hukum internasional.
Soffi Amira - Selasa, 03 Maret 2026
Muhammadiyah Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Sebut Langgar HAM dan Hukum Internasional
Bagikan