MerahPutih.com - Badan Intelijen Negara (BIN) mengungkapkan kelompok teroris menjadikan generasi milenial sebagai target utama perekrutan. Apalagi, kelompok-kelompok teroris menggunakan media sosial untuk menyebarluaskan paham mereka.
"Memang millennial ini menjadi target utama dari mereka," kata Deputi VII BIN, Wawan Purwanto dalam diskusi Polemik bertajuk "Bersatu Melawan Teror", Sabtu (3/4).
Baca Juga:
Faktor yang Bikin Terorisme Sulit Dihentikan Versi PP Muhammadiyah
Menurut Wawan, paham radikalisme menyusup kepada generasi milenial, terutama yang tidak kritis atau menelan setiap informasi yang diterimanya, termasuk ajaran sesat.
Untuk itu, BIN mendorong agar generasi milenial, maupun pihak lain yang berada di dekat kaum milenial baik orangtua, guru dan lainnya selalu melakukan memeriksa, memeriksa ulang dan memeriksa silang setiap informasi yang diperoleh.
"Serta juga tanyakan pada ahlinya dengan maksud supaya kajian ini komprehensif. Apakah asbabun nuzul, sebab turunnya mahzab itu cocok. Sebab mereka sering menyitir ayat-ayat di medan perang bukan ke medan damai," ujarnya.
Diketahui, serangan teror bom bunuh diri di Katedral Makassar pada Minggu (28/3) melibatkan pasangan suami istri berusia muda. Sementara, serangan ke Mabes Polri pada Rabu (31/3) dilakukan seorang wanita yang juga masih berusia 25 tahun.
Dengan kondisi tersebut, Wawan mengatakan, orangtua berperan penting untuk mengawasi anak-anak mereka. Hal ini lantaran orangtua mengetahui watak anak.
"Karena dia di drive di situ untuk melakukan apapun yang mereka bisa lakukan terkait dengan entah itu perakitan bom dan juga diisi dari pemikiran-pemikiran yang keliru dan juga pembenaran dari gerakannya itu," katanya.
BIN, kata Wawan juga terus melakukan patroli siber. Hal ini sebagai bagian mencegah penyebarluasan paham-paham radikal melalui dunia maya.
"Banyak juga yang kita ingatkan," tutup Wawan. (Pon)
Baca Juga:
Terorisme Dinilai Jadi Ancaman Serius Sektor Pariwisata