Mengolah Belalang Kayu Jadi Nugget, Pempek, dan Mie Instan

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Kamis, 11 Agustus 2022
Mengolah Belalang Kayu Jadi Nugget, Pempek, dan Mie Instan

Ketika masih muda, hewan ini berwarna kehijauan dan lebih senang menyendiri (Grasshoppers). (Unsplash/Bulbul Ahmed)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MASYARAKAT desa di Gunung Kidul, Yogyakarta, kesohor sebagai pemproduksi pangan berbahan belalang kayu (Valanga nigricornis). Hewan ini mudah diperoleh di lingkungan mereka, hidup di dahan jati dan semak belukar di perdesaan atau perkampungan.

Ketika masih muda, hewan ini berwarna kehijauan dan lebih senang menyendiri (Grasshoppers). Saat dewasa, warnanya berubah kekuningan dan senang berkumpul (Locust). Belalang pada fase inilah yang sering menjadi hama di persawahan.

Tapi masyarakat Gunung Kidul punya cara ampuh untuk mengurangi jumlah belalang. Mereka mengolahnya menjadi jajanan lezat dengan beragam rasa : gurih, pedas, dan manis.

"Ide dari pengolahan belalang ini muncul ketika beberapa warga Gunung Kidul mulai kesal dengan adanya belalang yang mereka anggap sebagai hama ini. Daripada diburu tidak beguna, akhirnya muncul ide untuk mengolahnya menjadi bahan makanan," catat Murdjiati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, dalam Kuliner Yogyakarta Pantas Dikenang Sepanjang Masa.

Food Agricultural Organization (FAO) telah menyatakan sejak 2013 bahwa lebih sejumlah spesies serangga layak santap dan mempunyai kandungan gizi tinggi yang baik bagi manusia. Termasuk belalang kayu.

"Lebih dari 1.900 spesies serangga telah didokumentasikan dalam literatur sebagai dapat dimakan, kebanyakan dari mereka hidup di negare tropis," tulis Arnold van Huis dkk dalam Edible Insects Future Prospect for Food and Feed Security yang diterbitkan FAO.

Baca juga:

Jangan Jijik, Ini Manfaat Konsumsi Serangga

belalang kayu
Hingga hari ini, masyarakat Gunung Kidul mengolah belalang kayu dengan cara digoreng. (Unsplash/Joshua Hoehne)

Hingga hari ini, masyarakat Gunung Kidul mengolah belalang kayu dengan cara digoreng. Beberapa peneliti di Indonesia telah mencoba berbagai inovasi pangan berbahan belalang kayu selain belalang yang langsung digoreng.

Ridho Andika Putra pernah mencoba mengolah belalang jadi nugget pada 2013. Saat itu dia masih mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Teknik Pertanian dan Biosistem UGM.

Pembuatan belalang nugget tak terlalu rumit. Langkah pertama adalah membersihkan belalang dan mengukusnya hingga setengah matang.

Setelah itu, belalang digiling kasar dan dicampur dengan bumbu yang terdiri dari bawang putih, lada garam, penyedap rasa, tepung sagu, air, dan telur.

Arkian campuran belalang dan bumbu itu dicetak di loyang dan dikukus selama 15 menit. Lalu tiriskan dan potong cetakan menjadi segi empat dengan melapisinya pakai putih telur atau tepung panir. Proses ini disebut breading. Setelah itu, belalang siap digoreng menjadi nugget.

"Saya berharap belalang yang diolah menjadi nugget ini bisa membuat masyarakat tertarik karena dari segi penyajian sangat praktis, dan selama ini kalau kita melihat olahan belalang umumnya hanya digoreng dengan tekstur masih kasar," kata Ridho, seperti dikutip ugm.ac.id.

Lain Ridho, lain pula Sessy Paramita Lirizka. Peneliti dari Program Studi Ilmu Gizi Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menjajal bikin pempek belalang kayu sebagai pangan selingan ibu hamil.

Sessy melatari eksperimennya karena melihat munculnya minat pada serangga sebagai sumber protein, vitamin, mineral, serat, dan asam lemak. Saat bersamaan, banyak ibu hamil di Indonesia masih mengalami masalah kekurangan asupan.

Sessy memilih belalang kayu karena hewan ini mengandung protein yang lebih tinggi dibandingkan telur dan ikan. "Belalang juga mengandung omega 3 dan 6, serta memiliki bau amis yang khas mirip dengan ikan," tulis Sessy dalam tesisnya, Pengembangan Produk Pempek Belalang Kayu (Valanga nigricornis) Sebagai Pangan Selingan Ibu Hamil.

Pembuatan pempek belalang kayu mirip dengan pempek berbahan ikan. Bahan utamanya adalah tepung tapioka dan belalang kayu, sedangkan bahan pendukungnya tepung terigu, telur ayam, bawang merah, bawang putih, daun bawang, garam, dan lada. Yang membedakan, pengolahannya menggunakan alat-alat khusus di laboratorium.

Baca juga:

Entomofagi, Praktek Menyantap Serangga di Berbagai Belahan Dunia

belalang kayu
Asthami memilih belalang kayu karena hewan ini memiliki potensi sebagai sumber protein non-konvensional. (Unsplash/Ed Van Duijn)

Hasilnya cukup moncer. Dari 70 responden, 92,8 persen menyatakan menerima rasa pempek belalang kayu. Padahal sebagian besar mereka justru menolak makan belalang kayu goreng. Terkait gizi, pempek belalang kayu sudah memadai sebagai pangan sumber protein dan tinggi serat.

Nurul Asthami, peneliti dari Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Brawijaya, tak kalah kreatif. Dia mengolah belalang kayu menjadi tepung dan mie instan. Dia melihat mie instan sebagai pangan populer rakyat Indonesia. Tapi kebanyakan mie kurang memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan.

Asthami memilih belalang kayu karena hewan ini memiliki potensi sebagai sumber protein non-konvensional. "Kandungan protein belalang yang cukup tinggi diharapkan dapat meningkatkan kandungan protein mie instan yang apabila dibandingkan dengan mie instan komersial yang beredar di pasaran," terang Asthami dalam laporannya, "Mie Instan Belalang Kayu (Melanoplus Cinereus) : KAJIAN PUSTAKA", termaktub dalam Jurnal Pangan dan Agroindustri Volume 4, Nomor 1, Januari 2016.

Pembuatan tepung belalang kayu mirip dengan penepungan pada umumnya. Bahan baku belalang kayu dibersihkan, dikeringkan, disangrai, dan dijemur di bawah sinar matahari. Selanjutnya bahan tersebut digiling dan dikayak untuk mendapatkan hasil tepung.

Pembuatan mienya pun mirip dengan mie konvensional. Begitu pula dengan bahan pendukungnya seperti tepung tapioka, telur, dan garam.

Hasil pengujian nilai gizi mie instan berbahan belalang kayu menunjukkan keunggulan protein daripada mie instan pasaran. Meski begitu, mie instan berbahan belalang kayu belum dikembangkan secara massal.

Dengan inovasi pangan ini, mungkin kamu mulai tertarik mencoba makan belalang kayu? (dru)

Baca juga:

Kaviar Serangga dari Meksiko

#Kuliner #Sains
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Hendaru Tri Hanggoro

Berkarier sebagai jurnalis sejak 2010 dan bertungkus-lumus dengan tema budaya populer, sejarah Indonesia, serta gaya hidup. Menekuni jurnalisme naratif, in-depth, dan feature. Menjadi narasumber di beberapa seminar kesejarahan dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan lembaga pemerintah dan swasta.
Show More

Berita Terkait

Kuliner
Jelajah Kuliner Nusantara di PRJ Kemayoran 2026, dari Kerak Telor hingga Soto Banjar
PRJ 2026 menghadirkan ragam kuliner Nusantara, mulai dari Kerak Telor, Ayam Betutu, Mie Aceh, hingga Soto Banjar dalam satu lokasi.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 03 Juli 2026
Jelajah Kuliner Nusantara di PRJ Kemayoran 2026, dari Kerak Telor hingga Soto Banjar
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Kuliner
BINTANG Arak Jeruk & Madu Perluas Kehadiran di Indonesia, Bikin Nongkrong Lebih Segar dan Seru
Sejak pertama kali diperkenalkan di Bali, BINTANG Arak Jeruk & Madu telah menarik perhatian konsumen.
Dwi Astarini - Sabtu, 27 Juni 2026
 BINTANG Arak Jeruk & Madu Perluas Kehadiran di Indonesia, Bikin Nongkrong Lebih Segar dan Seru
Fun
8 Jajanan Viral untuk Dicoba di Jakarta Fair Kemayoran 2026, dari Dubai Lava Cookies hingga Long Hotdakk
Jakarta Fair Kemayoran 2026 tak hanya menawarkan promo belanja, tetapi juga sederet kuliner viral yang ramai diburu.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 26 Juni 2026
8 Jajanan Viral untuk Dicoba di Jakarta Fair Kemayoran 2026, dari Dubai Lava Cookies hingga Long Hotdakk
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Fun
Jangan Lewatkan, Aktivitas Seru di Rumah Indofood Selama Jakarta Fair 2026
Tahun ini, Rumah Indofood hadir di Jakarta Fair dengan tema Semua Ada di Rumah Indofood.
Dwi Astarini - Rabu, 17 Juni 2026
  Jangan Lewatkan, Aktivitas Seru di Rumah Indofood Selama Jakarta Fair 2026
Dunia
Perang di Iran Bikin Camilan Tampil Hitam Putih
Langkah ini menjadi contoh terbaru bagaimana barang kebutuhan sehari-hari terdampak setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz.
Dwi Astarini - Rabu, 13 Mei 2026
  Perang di Iran Bikin Camilan Tampil Hitam Putih
Kuliner
Sate Lalat, Kuliner Unik Madura yang Bisa Jadi Inspirasi Olahan Daging Kurban
Sate lalat khas Madura bisa jadi inspirasi olahan daging kurban saat Idul Adha. Simak asal-usul nama, cara membuat, dan sejarah kuliner legendaris ini.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 13 Mei 2026
Sate Lalat, Kuliner Unik Madura yang Bisa Jadi Inspirasi Olahan Daging Kurban
Kuliner
Hennessy MyWay 2026 Buka Peluang Mixologist Indonesia Tampil di Panggung Global
Hennessy MyWay merupakan platform yang menantang para bartender mendefinisikan ulang seni meracik koktail melalui keberlanjutan, storytelling, dan pengalaman berbasis ritual.
Dwi Astarini - Selasa, 12 Mei 2026
Hennessy MyWay 2026 Buka Peluang Mixologist Indonesia Tampil di Panggung Global
Kuliner
Sake dari Luar Angkasa Terjual Rp 11 Miliar, Kemasannya cuma 100 Mililiter
Dassai bekerja sama dengan Mitsubishi Heavy Industries untuk melakukan fermentasi bahan sake di angkasa luar.
Dwi Astarini - Rabu, 06 Mei 2026
Sake dari Luar Angkasa Terjual Rp 11 Miliar, Kemasannya cuma 100 Mililiter
Bagikan