Kesehatan

Mengenal Lebih Jauh Kawasaki Disease

Leonard Leonard - Jumat, 05 Juni 2020
Mengenal Lebih Jauh Kawasaki Disease

Menjadi penyebab paling umum penyakit jantung pada anak (Foto: rtmagazine)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PENYAKIT Kawasaki (KD), atau sindrom kelenjar getah bening mukokutan ialah penyakit yang menyebabkan peradangan pada arteri, vena, dan kapiler. Ini juga mempengaruhi kelenjar getah bening kamu dan menyebabkan gejala di hidung, mulut, dan tenggorokan kamu. Penyakit ini juga penyebab paling umum penyakit jantung pada anak-anak.

The Kawasaki Disease Foundation (KDF) memperkirakan KD memengaruhi lebih dari 4.200 anak di Amerika Serikat setiap tahun. KD juga lebih umum pada anak laki-laki daripada perempuan dan anak-anak keturunan Asia dan Pasifik. Namun, KD dapat memengaruhi anak-anak dan remaja dari semua latar belakang ras dan etnis.

Baca juga:

Penyakit-Penyakit yang Meningkatkan Risiko Terkena COVID-19

Melansir laman Healthline, dalam kebanyakan kasus, anak-anak akan pulih dalam beberapa hari perawatan tanpa masalah serius. Perulangan jarang terjadi. Jika tidak diobati, KD dapat menyebabkan penyakit jantung yang serius.

KD terjadi secara bertahap disertai gejala dan tanda-tanda. Kondisi ini cenderung muncul selama akhir musim dingin dan musim semi. Di beberapa negara Asia, kasus-kasus KD memuncak pada pertengahan musim panas.

Gejala awal meliputi demam tinggi yang berlangsung selama lima hari atau lebih. Timbul ruam pada batang tubuh dan pangkal paha, mata merah, tanpa pengerasan, bibir bengkak, dan masih banyak lagi. Gejala ini dapat bertahan selama dua minggu.

Kemudian di tahap akhir gejala dimulai dalam dua minggu setelah demam. Kulit di tangan dan kaki akan mulai mengelupas dan terlepas. Beberapa anak mungkin juga mengalami artritis sementara atau nyeri sendi. Tanda dan gejala lain termasuk sakit perut, muntah, diare, kantong empedu yang membesar, dan gangguan pendengaran sementara.

Dianjurkan untuk menghubungi dokter jika anak menunjukkan gejala-gejala ini. Anak-anak yang berusia kurang dari satu tahun atau lebih dari lima tahun lebih mungkin untuk menunjukkan gejala yang tidak lengkap. Anak-anak ini merupakan 25 persen dari kasus KD yang berisiko tinggi mengalami komplikasi penyakit jantung.

Baca Juga:

Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi Virus Corona

1
Umumnya memuncak di negara Asia saat pertengahan musim panas (Foto: rcni)

Penyebab pasti penyakit Kawasaki masih belum diketahui. Para peneliti berspekulasi bahwa campuran genetika dan faktor lingkungan dapat menyebabkan KD. Ini mungkin disebabkan oleh fakta KD terjadi selama musim tertentu dan cenderung memengaruhi anak-anak keturunan Asia.

Penyakit Kawasaki paling sering terjadi pada anak-anak, terutama yang keturunan Asia. Menrut KDF sekitar 75 persen dari kasus KD adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun. Para peneliti tidak percaya bahwa kamu dapat mewarisi penyakit ini, tetapi faktor risiko cenderung meningkat dalam keluarga. Saudara kandung dari seseorang yang memiliki KD 10 kali lebih mungkin menderita penyakit ini.

Tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis penyakit Kawasaki. Dokter anak akan mempertimbangkan gejala anak dan menyingkirkan penyakit dengan gejala yang sama, seperti scarlet fever, infeksi bakteri yang menyebabkan demam, menggigil, sakit tenggorokan, dan juvenile rheumatoid arthritis, penyakit kronis yang menyebabkan nyeri sendi, dan beberapa gejala lainnya.

Dokter anak mungkin meminta melakukan tes tambahan untuk memeriksa bagaimana penyakit tersebut mempengaruhi jantung. Beberapa tes tambahan yang dilakukan seperti ekokardiograf, tes darah, rontgen dada, dan elektrokardiogram.

Penyakit ini harus dipertimbangkan kemungkinan pada bayi atau anak yang mengalami demam lebih dari lima hari. Ini terutama terjadi jika mereka menunjukkan gejala klasik lain dari penyakit seperti kulit yang terkelupas. Anak-anak yang didiagnosis KD harus segera memulai perawatan untuk mencegah kerusakan jantung.

1
Umumnya menyerang anak laki-laki (Foto: kbtx)

Pengobatan lini pertama untuk KD melibatkan infus antibodi (imunoglobulin intravena) selama 12 jam dalam 10 hari demam dan dosis aspirin harian selama empat hari berikutnya. Anak mungkin perlu terus mengambil dosis rendah aspirin selama 6-8 minggu setelah demam hilang untuk mencegah pembentukan gumpalan darah.

Satu studi juga menemukan bahwa penambahan prednisolon secara signifikan mengurangi potensi kerusakan jantung. Tetapi ini belum diuji di populasi lain.

Pengaturan waktu sangat penting untuk mencegah masalah jantung yang serius. Studi juga melaporkan tingkat resistensi yang lebih tinggi terhadap pengobatan ketika diberikan sebelum hari kelima demam. Sekitar 11 hingga 23 persen anak-anak dengan KD akan mengalami resistensi.

Beberapa anak mungkin memerlukan waktu perawatan lebih lama untuk mencegah penyumbatan arteri atau serangan jantung. Dalam kasus ini, pengobatan melibatkan dosis aspirin antiplatelet harian sampai mereka memiliki echocardiograph normal. Mungkin perlu 6-8 minggu untuk kelainan arteri koroner untuk pulih.

Komplikasi yang mungkin ditimbulkan oleh KD yaitu menyebabkan masalah jantung serius pada sekitar 25 persen anak-anak. KD yang tidak diobati dapat meningkatkan risiko serangan jantung. KD memiliki hasil positif ketika didiagnosis dan diobati sejak dini. Dengan pengobatan, hanya 3 hingga 5 persen dari kasus KD berkembang dengan masalah arteri koroner. Aneurisma berkembang dalam 1 persen.

Anak-anak yang menderita penyakit Kawasaki harus menerima echocardiogram setiap satu atau dua tahun untuk memeriksa masalah jantung. (lgi)

Baca juga:

Stres dan Cemas Berlebihan Bisa Menimbulkan Penyakit? Ini Kata Dokter

#Penyakit #Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - 14 menit lalu
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Indonesia
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Sekolah diminta tidak menjalankan aktivitas luar ruangan seolah kualitas udara dalam kondisi normal.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Indonesia
Presiden Prabowo Perintahkan Persingkat Antrean Layanan BPJS
Selain itu tidak boleh ada lagi diskriminasi pelayanan antara peserta BPJS Kesehatan dan pasien non-BPJS.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Presiden Prabowo Perintahkan Persingkat Antrean Layanan BPJS
Indonesia
Program Ambulans Udara Mulai Diujicobakan Pakai Helikopter
Pemerintah telah melakukan uji coba melalui latihan evakuasi medis menggunakan helikopter di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 28 September 2026
Program Ambulans Udara Mulai Diujicobakan Pakai Helikopter
Tekno
Risiko Jantung Mengintai di Balik Maraknya Fenomena 'Mendadak Atlet'
Tren olahraga ekstrem seperti lari dan Hyrox kian marak, namun fenomena mendadak atlet tanpa cek kesehatan justru memicu risiko fatal henti jantung!
Wisnu Cipto - Jumat, 25 September 2026
Risiko Jantung Mengintai di Balik Maraknya Fenomena 'Mendadak Atlet'
Kuliner
Belajar Trik Makan Mi Instan Sehat ala Gen Z Korea, Dobel Manfaat sebagai Pereda Pengar
Mi instan sebagian besar terdiri dari karbohidrat olahan, tapi rendah serat.
Dwi Astarini - Rabu, 23 September 2026
Belajar Trik Makan Mi Instan Sehat ala Gen Z Korea, Dobel Manfaat sebagai Pereda Pengar
Indonesia
Kasus ISPA di Jakarta Naik 15,7 Persen, Dinkes DKI: Bukan karena Influenza A
Kasus ISPA di Jakarta naik 15,7 persen. Namun, Dinkes DKI menegaskan bahwa penyebabnya bukan dari influenza A.
Soffi Amira - Selasa, 22 September 2026
Kasus ISPA di Jakarta Naik 15,7 Persen, Dinkes DKI: Bukan karena Influenza A
Lifestyle
Awas Musim Flu 2026 Mendekat! Cek Jadwal Vaksin dan Strain Virus yang Wajib Diwaspadai
Jangan sampai tumbang! Ancaman musim flu 2026 di depan mata. Cek panduan lengkap jadwal vaksin flu, info strain virus terbaru, dan opsi vaksin mRNA mFLUSIVA.
Angga Yudha Pratama - Jumat, 18 September 2026
Awas Musim Flu 2026 Mendekat! Cek Jadwal Vaksin dan Strain Virus yang Wajib Diwaspadai
Bagikan