Mengejutkan, Kasus Stunting Telah Diungkap dalam Naskah Sunda Kuno
Anak berisiko mengalami stunting di usia 1000 hari pertamanya. (Unsplah/Omar Lopez)
STUNTING masih menjadi isu kesehatan di Indonesia. Masalah ini ternyata tidak mengemuka saat ini saja. Beratus tahun silam, stunting pernah disinggung dalam naskah kuno Nusantara.
Menurut Dosen Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S., beberapa naskah Sunda, baik kuno (bihari) maupun peralihan/klasik (kamari), dan masa kini (kiwari) ada yang berkaitan dengan pengetahuan anti-stunting.
Baca Juga:
IDI Ungkap Kunci Persoalan Stunting Adalah Pemahaman Orang Tua Terhadap Gizi
Salah satu naskah yang menjelaskan stunting adalah Sanghyang Titisjati Pralina. Elis menjelaskan, beberapa isi dari naskah ini adalah mengungkap cara perawatan, pemeliharaan, dan penanggulangan anak sejak dalam kandungan hingga remaja.
“Salah satunya agar kondisi di mana tinggi badan seorang ‘anak’ tidak pendek dibanding tinggi badan orang lain seusianya, dalam arti agar anak tidak gagal tumbuh kembang. Hal ini pun disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang diterima oleh janin/bayi dalam kandungan, hingga masa awal anak lahir,” kata Elis, dikutip Selasa (27/6).
Naskah tersebut menjelaskan tahapan bulan kandungan disertai dengan adat dan tradisi yang mengiringinya, seperti pemijatan ibu dan bayi sejak dilahirkan hingg pemanfaatan toga ketika bayi sakit. Proses ini diharapkan menjadikan bayi/janin yang dikandung sekaligus ibunya dalam keadaan sehat dan kuat serta tidak kekurangan suatu apa pun selama kehamilan dan saat melahirkan.
Elis melanjutkan, naskah Sunda mengungkap upaya nenek moyang untuk menghindari gejala stunting, khususnya yang berkaitan dengan “teks naskah mantra pengobatan”. Hal ini disebabkan adanya keterkaitan antara penyakit yang diderita dan obat (toga) berupa teks yang dibacakan dengan jenis tanaman obat, fungsi, dosis, cara pengolahan, dan tindak pengobatan untuk mengobat ibu dan bayi, baik oleh dukun beranak (paraji) maupun dukun orang pintar.
Baca Juga:
Beberapa teks judul mantra pengobatan tersebut, di antaranya Jampe Keur Kakandungan, Jampé Tujuh Bulan, Ngajampé nu Kakandungan, Jampé ngalahirkeun/Jampé Orok Medal, Jampé Motong Tali Ari-Ari, Jampé Ngaranan Orok, Jampé Kandungan nu Elat Lahir, Jampé Tampek, Jampé Lamun Orok Ceurik baé, Jampé Lamun Orok Harééng, Jampé Meuseul Orok, Jampé Nyeri Beuteung, dan lain-lain.
Elis mengatakan, pengetahuan tentang cara merawat, memelihara, dan menangani anak sejak dalam kandungan hingga remaja yang terungkap dalam naskah Sunda itu, diharapkan anak sejak dalam kandungan hingga tumbuh dewasa menjadi selamat dan sehat, terhindar dari stunting.
“Hal ini setidaknya dapat menjadi referensi literasi untuk generasi muda di zaman teknologi canggih saat ini, yang akan berperan menjadi ‘ibu’, sebagai garda terdepan dalam pendidikan informal, dalam upaya mengurus, membimbing, mendidik, mengasuh anak, agar sehat dan kuat. Semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi ilmu lain secara multidisiplin,” kata Elis. (Imanha/Jawa Barat)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah