Melacak Peradaban Masyarakat Minangkabau Tempo Dulu
Rumah Gadang di tepi sawah. (Foto: instagram@ianpiliang)
"DARI mano asa titiak palito, di baliak telong nan batali, dari mano asa niniak moyang kito, dari lereang Gunuang Marapi." Begitilah bunyi pantun Minangkabau yang menceritakan asal nenek moyang suku tersebut dari lereng gunung merapi.
Daerah itu terletak di arah tenggara Gunung Marapi, Sumatera Barat, perkampungan Pariangan yang elok membentang menebarkan pesona alamnya. Nagari yang berada di wilayah Kabupaten Tanah Datar itu dikenal dengan sebutan Nagari Tuo.
1. Sejarah asal mula orang Minangkabau dalam Tambo
Dalam Tambo, cerita rakyat dalam tradisi lisan masyarakat Minangkabau, Pariangan merupakan daerah pertama yang menjadi permukiman masyarakat Minangkabau pada masa lampau. Dan urang awak zaman dulu juga diceritakan keturunan Iskandar Zulkarnain.
Zulkarnain memiliki tiga anak yaitu Sultan Suri Maharajo Dirajo, Sultan Maharajo Alif, dan Sultan Maharajo Depang.
Ketiganya kemudian berpisah, dan Sultan Suri Maharajo Dirajo bersama pengikutnya yang pada akhirnya berlayar hingga daerah Gunung Marapi, tempat mereka pertama kali bermukim di cikal bakal Nagari Pariangan.
2. Mempelajari Asal Masyarakat Minangkabau dari Petunjuk Arkeologis
Lain dengan versi tambo, peninggalan arkeologis di Pariangan menunjukkan daerah tersebut sudah mulai eksis sejak zaman Hindu-Buddha, sebelum Islam masuk.
Arkeolog dari Balai Arkeologi Sumatera Utara Taufiqurrahman Setiawan mengatakan daerah Pariangan menyimpan peninggalan sejarah dari zaman pra-Islam, termasuk di antaranya Prasasti Pariangan yang berada di daerah Biaro, tidak jauh dari Masjid Ishlah di Pariangan.
Bersama beberapa peneliti, Taufiq berada di Pariangan untuk menindaklanjuti laporan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat mengenai temuan bata yang diduga bagian dari bangunan tempat pemujaan di Biaro, yang menurut kajian toponimi namanya berasal dari kata biara atau wihara.
Setelah melakukan penggalian pada 11-18 September, para peneliti menemukan beberapa pecahan bata dan gerabah yang kemudian disimpan dalam dua kotak. Namun temuan itu belum bisa menjadi titik awal untuk melakukan penggalian lebih lanjut.
Bagikan
Berita Terkait
“Hati Bertali”, Lagu Bumiy yang Merangkul Duka dan Harapan di Tengah Bencana
Legislator Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Penganiayaan Lansia Pelawan Tambang di Pasaman
Badan Geologi Jelaskan Asal Mula Sinkhole di Limapuluh Kota, Sumbar, tak Terjadi Tiba-Tiba
Banjir Bandang Terjang Pasar Maninjau Agam, 40 Rumah Terdampak
Hutan di Sumbar Kian Menyusut, DPR Desak Rehabilitasi Hutan Bukit Barisan
Kabupaten Agam dan Pesisir Selatan Sumbar Belum Dialiri Listrik, Kapolda: Akses Jalan Terputus dan Potensi Bencana Susulan
Sungai di Agam Sumbar Meluap Lagi, Jembatan Darurat Buatan TNI-Polri Hanyut
Gunung Marapi Sumbar Erupsi, Kabupaten Agam Terdampak Abu Vulkanis
Waspadai Ancaman Banjir Rob Pesisir Sumbar 3-7 Desember
Gubernur Sumbar Instruksikan Manfaatkan Kunjungan Pejabat Pusat untuk Korban Banjir