Majalah yang Pernah Dibredel pada Era Soeharto

Zaimul Haq Elfan HabibZaimul Haq Elfan Habib - Kamis, 03 Mei 2018
Majalah yang Pernah Dibredel pada Era Soeharto

Ilustrasi Hari Kebebasan Pers Dunia. (Foto/search google)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

JUNI 1994, Presiden Soeharto melalui Menteri Penerangan Harmoko melakukan pembredelan 3 media sekaligus karena dianggap membahayakan "stabilitas negara". Pemberitaan adanya dugaan korupsi atas pembelian kapal perang usang milik Jerman Timur menjadi pangkal masalah pemberhentian penerbitan majalah Tempo, tabloid DeTik, dan majalah Editor.

Kasus ini tentu sangat bertentangan dengan kebebasan pers yang melarang adanya campur tangan atau perlakuan sensor dari pemerintah. Ternyata, bukan hanya terjadi pada tiga media tersebut. Masih banyak media lain pada zaman itu dibredel dengan berbagai alasan.

Berikut, merahputih.com merangkum tiga media yang pernah dibredel pada masa pemerintahan Soeharto serta alasan pembredelan;

Harian Sinar Harapan

Motto Sinar Harapan adalah “Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian berdasarkan Kasih”. Motto ini dijalankan secara konsisten oleh pengelola Sinar Harapan. Namun media ini harus menerima konsekuensinya. Sinar Harapan harus mengalami beberapa kali pembredelan oleh pemerintah.

Berawal pada 2 Oktober 1965, Sinar Harapan dibredel supaya peristiwa G.30.S/PKI tidak diekspos secara bebas oleh media. Hanya media tertentu yang boleh menerbitkan berita itu pada masanya. Selama 6 hari Sinar Harapan tak berproduksi, barulah pada 8 Oktober 1965 Sinar Harapan diperbolehkan terbit kembali.

Sinar Harapan masih berjalan sesuai motto, beberapa kali terkena pembredelan pemerintah. Puncak puncak pembredelan koran harian ini adalah pada Oktober 1986. SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan) Sinar Harapan dibatalkan oleh pemerintah Soeharto karena memuat headline “Pemerintah Akan Cabut 44 SK Tata Niaga Bidang Impor”. Bredel ini mengakibatkan 15 tahun lamanya Sinar Harapan dipaksa tidak boleh terbit.

Harian Sinar Harapan. (Foto/antikpraveda.blogspoy.com)
Harian Sinar Harapan. (Foto/antikpraveda.blogspoy.com)

Harian Indonesia Raya

Surat kabar nasional ini mengalami dua kali masa penerbitan, yakni pada masa pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru. Pada kedua masa pemerintahan tersebut harian Indonesia Raya mengalami larangan terbit. Selama masa penerbitan pertama 1949-1968, lima wartawannya pernah ditahan selama beberapa hari, bahkan ada yang sampai satu bulan.

Pada masa pemerintahan Orde Baru, atau pada tanggal 30 Oktober 1968, harian Indonesia Raya kembali terbit. Namun, kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka, antara tanggal 14 malam hingga 17 pagi Januari 1974, dan berakhir dengan apa yang disebut Peristiwa Malari menjadi biang kerok penutupan majalah ini. Puncaknya, Indonesia Raya mengalami pencabutan Surat Izin Cetak tanggal 21 Januari 1974.

Harian Indonesia Raya. (Foto/djimat.com)
Harian Indonesia Raya. (Foto/djimat.com)

Majalah Tempo

Tahun politik atau masa-masa kampanye dan prosesi Pemilihan Umum 1982, untuk pertama kalinya majalah ini dibredel. Penutupan dilakukan karena dianggap terlalu tajam mengkritik rezim Orde Baru serta kendaraan politik Soeharto, Partai Golkar. Tak berselang lama, Tempo kembali diizinkan terbit dengan syarat menandatangani semacam "janji" di atas kertas segel dengan Ali Moertopo, Menteri Penerangan saat itu.

Juni 1994, untuk kedua kalinya majalah ini dibredel oleh pemerintah. Masalahnya hampir sama, Tempo dinilai terlalu keras mengkritik Habibie dan Soeharto ihwal pembelian kapal bekas dari Jerman Timur. Kali ini pemerintah mendapat dukungan, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ikut menyetujui pembredelan tersebut. Akibatnya, Sekelompok wartawan yang kecewa pada sikap Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang menyetujui pembredelan Tempo, Editor, dan Detik, kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Majalah Tempo. (Foto/Tempo.co)
Majalah Tempo. (Foto/Tempo.co)

(Zai)

#Soeharto #Orde Baru #Media Massa #Hari Kebebasan Pers Dunia
Bagikan
Ditulis Oleh

Zaimul Haq Elfan Habib

Low Profile

Berita Terkait

Indonesia
Prabowo Berbesar Hati Capaian Stok Beras Nasional Lampaui Era Soeharto
Saat ini stok beras nasional mencapai lebih dari 3 juta ton, melampaui rekor tertinggi sebelumnya sebesar 2 juta ton di era Presiden ke-2 RI Soeharto.
Wisnu Cipto - Selasa, 06 Januari 2026
Prabowo Berbesar Hati Capaian Stok Beras Nasional Lampaui Era Soeharto
Indonesia
Komnas HAM Kecewa Soeharto Diberi Gelar Pahlawan Nasional, Minta Kasus Dugaan Pelanggaran di Masa Lalu Tetap Harus Diusut
Komnas HAM menyatakan kecewa atas pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto. Menilai keputusan itu melukai korban pelanggaran HAM berat era Orde Baru dan mencederai semangat Reformasi 1998.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 12 November 2025
Komnas HAM Kecewa Soeharto Diberi Gelar Pahlawan Nasional, Minta Kasus Dugaan Pelanggaran di Masa Lalu Tetap Harus Diusut
Indonesia
Menteri HAM Ogah Komentar Detail Soal Gelar Pahlwan Soeharto
Pigai menjelaskan Kementerian HAM tidak memberikan rekomendasi nama apa pun untuk diusulkan menjadi pahlawan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 11 November 2025
Menteri HAM Ogah Komentar Detail Soal Gelar Pahlwan Soeharto
Indonesia
Golkar Solo Bakal Gelar Tasyakuran Soeharto Jadi Pahlawan Nasional
Partai Golkar sejak awal telah mengusulkan dan mendukung beliau beserta tokoh-tokoh lainnya untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional. Kemudian tahun ini baru terwujud.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 11 November 2025
Golkar Solo Bakal Gelar Tasyakuran Soeharto Jadi Pahlawan Nasional
Indonesia
Ubedilah Badrun Sebut Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bukti Bangsa Kehilangan Moral dan Integritas
Tanda bahwa bangsa Indonesia tengah kehilangan ukuran moral dan integritas dalam bernegara. ?
Dwi Astarini - Senin, 10 November 2025
Ubedilah Badrun Sebut Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bukti Bangsa Kehilangan Moral dan Integritas
Indonesia
Soeharto & Marsinah Barengan Jadi Pahlawan Nasional, SETARA Institute Kritik Prabowo Manipulasi Sejarah
"Mana mungkin Marsinah dan Soeharto menjadi pahlawan pada saat yang bersamaan," kata Ketua Dewan Nasional SETARA Institute, Hendardi
Wisnu Cipto - Senin, 10 November 2025
Soeharto & Marsinah Barengan Jadi Pahlawan Nasional, SETARA Institute Kritik Prabowo Manipulasi Sejarah
Indonesia
Aktivis Reformasi Sebut Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto Bentuk Pengaburan dan Amnesia Sejarah Bangsa
Gelar kepahlawanan bukan sekadar bentuk penghargaan individual, melainkan mekanisme moral kolektif sebuah bangsa.
Dwi Astarini - Senin, 10 November 2025
Aktivis Reformasi Sebut Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto Bentuk Pengaburan dan Amnesia Sejarah Bangsa
Indonesia
Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Pimpinan Komisi XIII DPR Singgung Pelanggaran HAM Orde Baru
Pimpinan Komisi XIII DPR menyinggung soal pelanggaran HAM Orde Baru. Hal ini buntut dari pemberian gelar pahlawan nasional untuk Soeharto.
Soffi Amira - Senin, 10 November 2025
Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Pimpinan Komisi XIII DPR Singgung Pelanggaran HAM Orde Baru
Indonesia
Klaim tak Ada Bukti Pelanggaran HAM, Fadli Zon Justru Ungkit Jasa Besar Soeharto untuk Indonesia
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon mengklaim, bahwa tak ada bukti pelanggaran HAM yang dilakukan Soeharto.
Soffi Amira - Senin, 10 November 2025
Klaim tak Ada Bukti Pelanggaran HAM, Fadli Zon Justru Ungkit Jasa Besar Soeharto untuk Indonesia
Berita Foto
Momen Presiden Prabowo Subianto Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara
Presiden Prabowo Subianto (kiri) memberikan selamat kepada putra presiden kedua RI Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto (kanan) Bambang Trihatmodjo (kiri) dan Siti Hardijanti Hastuti Rukmana usai upacara pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto dan sembilan tokoh lainnya di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Didik Setiawan - Senin, 10 November 2025
Momen Presiden Prabowo Subianto Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara
Bagikan