MerahPutih.com - Kabar duka menyelimuti dunia seni tanah air. Maestro gamelan internasional yang juga Mantan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Prof Dr Rahayu Supanggah (71) tutup usia, Selasa (10/11), pukul 03.00 WIB.
Sosok Rahayu yang selalu lekat dengan akademisi ISI dan seniman besar tersebut lahir di Boyolali, 29 Agustus 1949, meninggal di Rumah Sakit Brayat Minulya Solo, Jawa Tengah.
Sang maestro selama hidup dikenal sebagai komposer yang sudah melanglang buana di dunia pertunjukan internasional. Bahkan, almarhum yang kali pertama mengenalkan gamelan sebagai budaya Indonesia di kancah internasional dengan menggelar berbagai pertunjukkan di luar negeri.
Baca Juga:
Anak angkat Rahayu, Peni Candrarini, mengukakan almarhum Rahayu sudah lama menderita sakit stroke sejak 3 tahun lalu. Sebelum meninggal kondisi kesehatannya menurun sampai akhirnya menghempuskan napas terakhir pada Selasa dini hari.
"Dalam setahun terakhir ayah (Rahayu) lebih banyak beristirahat di rumah. Seingat saya terakhir tampil dalam event Pekan Kebudayaan Nasional tahun 2019," kata dia.
Ia menambahkan jenazah almarhum Rahayu dimakamkan di Astanalaya Benowo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah siang ini. Pemberangkatan pemakaman dari rumah duka di Dukuh Benowo RT 06 /RW 08, Desa Ngringo, Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Wakil Rektor I ISI Solo, I Wayan Kirna menambahkan, Almarhum Rahayu Supanggah menyelesaikan tugas sebagai guru besar sejak September 2019. Selama masa pengabdiannya, dia dianggap sebagai sosok panutan di kampus.
"Kami sangat kehilangan. Beliau betul-betul panutan kami, baik para pengajar maupun mahasiswa," ujar Wayan.
Baca Juga:
Dikatakannya, sosok almarhum menelurkan berbagai karya selama berkecimpung di dunia musik, terutama seni karawitan. Tak hanya di daerah ataupun nasional, Panggah sudah membawa karyanya mendunia.
"Karya besar almarhum diantaranya I La Galigo. Karya sastra Bugis yang dipentaskan dalam bentuk teater," kata dia.
Diketahui, Rahayudikenal sebagai komposer yang mampu menyajikan musik spektakuler. Karyanya bertajuk I La Galigo mulai digarap sejak 2001 dan baru dipentaskan secara perdana pada 2004 di Singapura. Selain Singapura, karya tersebut juga dipentaskan ke sejumlah negara lain.
Panggah juga sempat berkolaborasi dengan sejumlah seniman dunia, seperti Peter Brook, Toshi Tsuchitori, dan Sardono W Kusumo. Penghargaan yang dia raih, antara lain Penata Musik terbaik FFI untuk film 'Opera Jawa' (2006) dan The Best Composer Hong Kong International Film Festival 2007. (Ismail/Jawa Tengah)
Baca Juga:
Internasional Gamelan Festival 2018, Pamerkan Seni Rupa Kontemporer