MerahPutih.com - Memasuki penyelenggaraan ke-11 pada 2026, Synchronize Festival kembali menggandeng seorang perupa, ilustrator, sekaligus desainer untuk berkolaborasi merumuskan identitas visual festival.
Kolaborasi ini menjadi ruang kreatif untuk berdiskusi dan bereksperimen, sekaligus menyampaikan gagasan bahwa festival musik tidak hanya berbicara melalui panggung dan suara, tetapi juga melalui bahasa visual yang dapat berinteraksi dengan publik.
Pada edisi kali ini, Synchronize Festival bekerja sama dengan Marishka Soekarna, seorang seniman multidisiplin yang telah lebih dari dua dekade mengeksplorasi berbagai medium visual dalam praktik artistiknya.
Dalam banyak karyanya, Marishka dikenal menghadirkan visual yang memotret kegelisahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Nuansa yang muncul sering kali terasa dingin dan ganjil, namun tetap menghadirkan rasa yang akrab.
Perpaduan tersebut menciptakan kontras antara keramaian yang tampak meriah dengan gestur visual yang menyimpan rasa getir.
Tim Synchronize Festival menilai pendekatan visual Marishka mampu merepresentasikan sekaligus menyuarakan berbagai rasa cemas, ketidakpastian, dan kegelisahan yang tengah dirasakan masyarakat saat ini.
Kombinasi emosi yang kompleks serta sentuhan ironi dalam karya-karyanya dianggap relevan dengan situasi sosial, ekonomi, hingga politik yang berkembang di Indonesia.
Baca juga:
Dari Pengelolaan Sampah hingga Penanaman Mangrove, Synchronize Fest Tegaskan Komitmen Hijau
Marishka Soekarna merupakan seniman visual asal Indonesia yang saat ini menetap di Belanda. Ia memiliki latar belakang pendidikan Seni Murni dengan konsentrasi pada seni grafis.
Praktik artistiknya mencakup beragam medium, mulai dari gambar, lukisan, cetak grafis, karya digital, mural, hingga video dan instalasi.
Dalam sejumlah karyanya, tubuh perempuan kerap menjadi medium untuk menyampaikan cerita sekaligus menghadirkan ruang yang intim. Melalui pendekatan ini, ia membangun pertemuan antara memori, refleksi, serta respons personal terhadap berbagai pengalaman hidup.
Marishka juga memiliki kedekatan emosional dengan alam. Baginya, alam menghadirkan dualitas: di satu sisi memberikan ketenangan, tetapi di sisi lain juga menimbulkan rasa takut dan ketidakberdayaan ketika kekuatannya muncul.
Pendekatan surealisme kemudian menjadi cara yang digunakan Marishka untuk membangun narasi visual. Alih-alih menjelaskan secara literal, ia lebih memilih menghadirkan simbol dan elemen samar yang mampu membangkitkan rasa serta interpretasi yang lebih luas.
Baca juga:
Synchronize Fest 2026 Mulai Jual Tiket Early Bird, Bawa Misi Tanam Mangrove
Di luar praktik seni visual, Marishka juga memiliki ketertarikan pada musik, khususnya koleksi piringan hitam.
Ketertarikan tersebut kemudian membawanya membentuk duo selektor bersama saudaranya pada 2016 dengan nama Iramamama.
Melalui proyek ini, ia kerap terlibat dalam berbagai kegiatan musik, mulai dari acara pertunjukan, siaran radio, hingga pembukaan pameran seni.
Kolaborasi antara Synchronize Festival dan Marishka Soekarna ini diharapkan dapat menghadirkan identitas visual yang tidak hanya kuat secara estetika, tetapi juga mampu merefleksikan dinamika emosi dan realitas sosial yang tengah dihadapi masyarakat. (Far)

