MerahPutih.com - Seniman bunyi independen asal Samarinda, Theo Nugraha, mencatat pencapaian baru di kancah musik eksperimental dan ekstrem internasional.
Berkarya secara mandiri dari Kalimantan, Theo berhasil terlibat dalam sebuah rilisan yang mempertemukannya dengan sejumlah nama penting dari skena musik ekstrem dunia.
Pencapaian tersebut hadir lewat album split empat arah bertajuk Prosthetic Reality yang dirilis oleh label asal Zaragoza, Spanyol, Drama Recorder.
Album ini mulai dirilis secara global hari ini dan tersedia dalam dua format fisik edisi terbatas, yakni 100 kopi piringan hitam 12 inci 180 gram dengan warna marble serta 50 kopi kaset analog handmade C-40 Ferro.
Baca juga:
Phum Viphurit Ceritakan Inspirasi Di Balik Trek Instrumental 'Balter Baby'
Theo Nugraha Bertemu Iggor Cavalera
Salah satu hal yang membuat rilisan ini menarik adalah keterlibatan Iggor Cavalera, musisi asal Brasil yang dikenal sebagai mantan drummer sekaligus salah satu pendiri band metal legendaris Sepultura.
Kolaborasi tersebut menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya Iggor Cavalera merilis album fisik bersama seorang sound artist asal Indonesia.
Prosthetic Reality diproduseri oleh Theo Nugraha bersama Antonio Drama. Theo juga terlibat langsung dalam pengerjaan visual untuk sampul depan album.
Rilisan ini mempertemukan empat nama dari berbagai negara dengan karakter musik ekstrem yang berbeda.
Empat Materi dari Empat Nama
Sisi A dibuka oleh Black Leather Jesus dari Amerika Serikat melalui lagu Manic Men berdurasi 9 menit 46 detik.
Materi tersebut melibatkan Sean E. Ramirez, Richard Ramirez, Thomas Puopolo, Anjilla Ulfhednar, Scott Kindberg, Kevin Novak, dan Domokos.
Berikutnya ada Incapacitants dari Jepang dengan lagu Release of Demon Rice yang berdurasi 9 menit 57 detik.
Proyek tersebut digarap oleh T. Mikawa pada elektronik dan vokal serta F. Kosakai pada elektronik dan vokal.
Sisi B menghadirkan Iggor Cavalera lewat Present to be Absent yang memiliki durasi 10 menit 53 detik.
Materi ini direkam di London pada Februari 2026, kemudian melalui proses mixing dan mastering oleh BOT di balancemixingandmastering.
Baca juga:
Raymondus Ciptakan Senandung Instrumentalia Dub Reggae Lewat 'Rasa Yava'
Sementara itu, Theo Nugraha berkolaborasi dengan Savage Doctrine dari Spanyol melalui lagu Distortion Storm berdurasi delapan menit.
Theo menangani elektronik dan field recording, sedangkan Savage Doctrine mengerjakan mixing suara elektronik berlapis.
Keduanya juga terlibat dalam proses komposisi dan rekaman, dengan mixing serta mastering dikerjakan oleh Savage Doctrine pada 2026.
Dari Samarinda Terhubung ke Jaringan Musik Global
Kehadiran Theo dalam rilisan internasional ini menunjukkan bahwa musisi dari luar pusat industri musik tetap memiliki peluang untuk terhubung dengan jaringan musik global.
Dengan mengandalkan skena independen dan semangat D.I.Y. (Do It Yourself), jarak antara Samarinda dan pusat-pusat musik dunia bukan lagi menjadi penghalang.
Dari ruang kerjanya di Samarinda, Theo membuktikan bahwa karya yang lahir dari daerah juga dapat menemukan jalannya menuju pendengar dan musisi dari berbagai belahan dunia.
Kolaborasi dalam Prosthetic Reality sekaligus menjadi contoh bagaimana jaringan musik bawah tanah dapat mempertemukan seniman lintas negara tanpa harus bergantung sepenuhnya pada industri musik arus utama.
Bagi Theo, pencapaian ini menjadi penanda bahwa Samarinda juga memiliki tempat dalam percakapan musik eksperimental global. (Far)