MerahPutih.Com - Ketua DPP Partai Gerindra, Sodik Mudjahid mengakui bahwa kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 belum menghadirkan isu-isu yang substansial.
Hal itu tercermin dari munculnya istilah 'politik genderuwo', 'politisi sontoloyo', hingga 'Tampang Boyolali'. Teranyar justru keluar penyataan dari calon wakil presiden tentang 'budek-buta' dan klaim santri.
"Ya, saya setuju begitu. Saya hari ini banyak ditanya soal makam, soal Boyolali," kata Sodik di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (13/11).
Karena itu, anggota Komisi VIII DPR ini meminta semua pihak mengedepankan isu-isu substansial seperti masalah ekonomi yang menyentuh langsung kehidupan rakyat.
"Saya mengajak kepada semua teman-teman di Sandi-Prabowo dan juga teman-teman Jokowi kemarin supaya kita jangan terlalu merepotkan, meramaikan hal-hal yang kecil-kecil," jelas Sodik Mudjahid.
Menurut Sodik, pihaknya siap memakai isu substansial dalam kontestasi Pilpres 2019. Dia mengklaim, calon presiden nomor urut 2 yang juga Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto selalu mengajarkan kadernya untuk kedepankan isu ekonomi.
"Kami, diajarkan oleh Prabowo tentang visi ini. Sudah dari awal kami lontarkan tentang paradoks indonesia. Kami keluarkan visi dan misi. Tapi sering kami dikagetkan oleh hal yang tidak substansi ini. Maka marilah kedua belah pihak harus fair, harus jujur, harus komit kita didik bangsa kita mulai pilpres yang lebih bermutu dan juga diskusi-diskusi yang visioner yang terprogram," ucap dia.
Sebelumnya, pengamat politik, Ujang Komarudin menganggap kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 belum pada taraf membicarakan hal substansial. Menurutnya, yang dibicarakan sebatas prosudral tanpa menyentuh isu terkait kepentingan rakyat.
"Kampanye Pilpres masih sebatas saling serang dan saling menjatuhkan dan belum mengarah pada perdebatan adu gagasan dan ide serta visi, misi, dan program-program terbaik," kata Ujang Komarudin di Jakarta, Selasa (13/11).
Menurut Ujang sebagaimana dilansir Antara, selama dua bulan kampanye Pilpres masih diwarnai berbagai perdebatan dan isu-isu yang kurang substantif.
Ujang mengatakan kalaupun muncul perdebatan mengenai gagasan dan program, sifatnya hanya sebentar karena cepat tertutup dengan kampanye yang saling serang.
"Kampanye hanya dijalankan sebatas memenuhi dan mengisi ruang dalam menjalankan demokrasi prosedural, belum mengarah pada demokrasi yang substantif," ujar Ujang.(Pon)
Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Pantau Titik Banjir di Jakarta, Anies Kerahkan 1.400 Relawan

