MerahPutih.com - Momen Lebaran 2025 dianggap menjadi salah satu yang tersulit lantaran tingginya persoalan ekonomi di masyarakat. Warga banyak yang menahan belanja, pedagang ritel merasakan penurunan penjualan, sementara pemudik terpaksa mengurungkan niat kembali ke kampung halaman.
Apalagi, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 diperkirakan 4,5-4,7 persen, lebih rendah dibandingkan 2022-2024. Ekonom Achmad Nur Hidayat menilai, penurunan tersebut dipicu berbagai faktor.
“Antara lain daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih setelah gelombang PHK massal dan tekanan inflasi pada 2024,” kata Achmad kepada wartawan di Jakarta dikutip, Minggu (23/3).
Baca juga:
Jadwal dan Lokasi Contraflow, One Way, dan Ganjil Genap Arus Mudik Lebaran 2025 di Tol Trans Jawa
Menurut dia, ada kecenderungan masyarakat mengalokasikan pencairan THR bukan untuk belanja lebaran jadi pemicu lain. “Uang sebagian besar justru dialokasikan untuk membayar utang dan menambah tabungan, turut memperburuk situasi,” tuturnya
Ekonom dari UPN Veteran Jakarta itu menyebut, Lebaran 2025 membuktikan konsumsi musiman tidak cukup menjadi motor pertumbuhan. “Jika tidak diimbangi dengan produktivitas dan proteksi industri dalam negeri, Lebaran hanya menjadi euforia sesaat,” imbuhnya
Achmad mengingatkan, Ramadan dan Lebaran tahun ini menjadi cermin kehati-hatian, dengan berpesan berhemat menjadi kata kunci. “Masyarakat memutar otak untuk bertahan, menunggu janji pemerintah dan berharap badai segera berlalu,” tutupnya. (Knu)