KPCDI Kritik Pemerintah, Pasien Gagal Ginjal Minim Informasi Alternatif selain Hemodialisis

Soffi AmiraSoffi Amira - Kamis, 12 Maret 2026
KPCDI Kritik Pemerintah, Pasien Gagal Ginjal Minim Informasi Alternatif selain Hemodialisis

Ilustrasi. (Foto: Pexels/Frank Meriño)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menilai, pemerintah gagal memberikan transparansi informasi mengenai pilihan terapi pengganti ginjal.

Kondisi ini mengakibatkan pasien terjebak dalam layanan mesin cuci darah (Hemodialisis/HD) dan memicu pembengkakan anggaran BPJS Kesehatan yang tidak terkendali.

Ketua Umum KPCDI, Tony Richard Samosir menjelaskan, data Indonesian Renal Registry (IRR) 2024 menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan dari 136.793 pasien aktif dan 60.034 pasien baru, sekitar 98 persen pasien hanya menjalani HD.

Sementara itu, terapi alternatif yang lebih mandiri seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) hanya mencakup 2 persen. Lalu, angka transplantasi ginjal yang secara medis merupakan solusi terbaik masih tertahan di bawah 1 persen.

"Di Indonesia, pasien gagal ginjal seolah digiring langsung ke mesin cuci darah tanpa penjelasan utuh mengenai opsi lain seperti CAPD atau transplantasi ginjal. Ini bukan sekadar masalah medis, ini adalah pelanggaran hak pasien atas informasi," tegas Tony di Jakarta, Kamis (12/3).

Baca juga:

Reaktivasi PBI JKN 200 Ribuan Pasien Cuci Darah Rp 15 Miliar, Menkeu Janji Cairkan

Buruknya transparansi informasi ini mencerminkan kegagalan pemerintah membangun kebijakan yang mendorong diversifikasi terapi ginjal.

Ketergantungan hampir total pada mesin cuci darah membuat Indonesia bergerak menuju krisis layanan HD pasien terus bertambah, kapasitas layanan tidak mampu mengejar, antrean pasien terapi semakin panjang, dan beban anggaran kesehatan berpotensi meledak.

Berdasarkan data BPJS Kesehatan pada 2019, beban biaya penyakit ginjal mencapai Rp 6,5 triliun dan melonjak tajam mencapai Rp 11 triliun pada 2024.

Angka ini menunjukkan bahwa jika tidak dilakukan perubahan strategi layanan ginjal nasional, tekanan terhadap sistem pembiayaan kesehatan berpotensi meningkat secara signifikan dalam 10–20 tahun ke depan.

Tidak hanya itu, dari sisi kualitas hidup, terapi HD juga diketahui memiliki tingkat kesejahteraan pasien yang lebih rendah dibandingkan terapi pengganti ginjal lainnya.

Baca juga:

BPJS Kesehatan PBI Nonaktif, DPR Desak Jaminan Pasien Penyakit Kronis

Data Indonesian Renal Registry (IRR) menunjukkan, angka kematian pasien HD masih sangat tinggi lebih dari 90 ribu jiwa pada 2023 dan sekitar 50 ribu jiwa pada 2024.

Lebih lanjut, jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kebutuhan infrastruktur layanan juga akan meningkat secara signifikan.

Penambahan pasien gagal ginjal setiap tahun menuntut pula penambahan mesin HD, ruang layanan, dan tenaga kesehatan terlatih, jika peningkatan jumlah pasien tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas layanan kesehatan serta tersedianya pilihan terapi bagi pasien, maka lagi dan lagi nyawa pasien akan menjadi taruhan.

"Selama bertahun-tahun ketimpangan informasi terapi pengganti ginjal sangat minim. Bahkan banyak pasien baru mengenal CAPD atau transplantasi dari sesama pasien di komunitas bukan dari tenaga medis atau sistem layanan kesehatan resmi," ujarnya.

Bersamaan momentum Hari Ginjal Sedunia tahun ini, KPCDI mendesak pemerintah untuk segera melakukan reformasi sistem layanan ginjal nasional. Ke depan, pasien harus menjadi subjek yang menentukan nasibnya sendiri, bukan sekadar objek pengobatan seumur hidup.

Baca juga:

Pasien Kronis Cuci Darah Terdampak Penonaktifan PBI JKN Makin Bertambah, PDIP: Keselamatan Harusnya Diutamakan

Ketika informasi terapi disembunyikan atau dipersulit aksesnya, maka ini bukan lagi soal kesehatan, melainkan soal ketidakadilan dalam pelayanan kesehatan.

Jadi, pemerintah dan tenaga kesehatan wajib memastikan setiap pasien mendapatkan edukasi lengkap mengenai seluruh pilihan terapi HD, CAPD, maupun transplantasi ginjal sebelum dialisis pertama dimulai.

Pada saat yang sama, akses transplantasi harus diperluas dan hambatan biaya diturunkan agar pasien memiliki peluang hidup yang lebih baik, bukan terjebak seumur hidup pada mesin cuci darah. (Asp)

#Pasien Cuci Darah #Penyakit #Ginjal #Hari Ginjal Sedunia
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Pasien Cuci Darah Makin Muda, Dinkes DKI Ingatkan Warga Tak Sembarangan Beli Obat
Dinkes DKI Jakarta menyoroti pasien cuci darah yang semakin muda. Safitri Handayana menyebut pasien berusia 20 tahun sudah banyak mengakses layanan cuci darah.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 25 September 2026
Pasien Cuci Darah Makin Muda, Dinkes DKI Ingatkan Warga Tak Sembarangan Beli Obat
Indonesia
Kasus ISPA di Jakarta Naik 15,7 Persen, Dinkes DKI: Bukan karena Influenza A
Kasus ISPA di Jakarta naik 15,7 persen. Namun, Dinkes DKI menegaskan bahwa penyebabnya bukan dari influenza A.
Soffi Amira - Selasa, 22 September 2026
Kasus ISPA di Jakarta Naik 15,7 Persen, Dinkes DKI: Bukan karena Influenza A
Lifestyle
Awas Musim Flu 2026 Mendekat! Cek Jadwal Vaksin dan Strain Virus yang Wajib Diwaspadai
Jangan sampai tumbang! Ancaman musim flu 2026 di depan mata. Cek panduan lengkap jadwal vaksin flu, info strain virus terbaru, dan opsi vaksin mRNA mFLUSIVA.
Angga Yudha Pratama - Jumat, 18 September 2026
Awas Musim Flu 2026 Mendekat! Cek Jadwal Vaksin dan Strain Virus yang Wajib Diwaspadai
Indonesia
110 Ribu Warga Masih Mengungsi akibat Gempa NTT, Ancaman Penyakit Mulai Mengintai
Sebanyak 110 ribu pengungsi gempa di NTT kini terancam terkena penyakit. Air bersih dan sanitasi pun terbatas.
Soffi Amira - Selasa, 25 Agustus 2026
110 Ribu Warga Masih Mengungsi akibat Gempa NTT, Ancaman Penyakit Mulai Mengintai
Olahraga
Wabah Ebola Bikin Kacau Persiapan Piala Dunia 2026, Laga RD Kongo vs Chili Resmi Dibatalkan
Wabah Ebola mengacaukan persiapan Piala Dunia 2026. Laga RD Kongo vs Chili pun harus dibatalkan akibat wabah tersebut.
Soffi Amira - Rabu, 03 Juni 2026
Wabah Ebola Bikin Kacau Persiapan Piala Dunia 2026, Laga RD Kongo vs Chili Resmi Dibatalkan
Dunia
Senggolan Bawa Petaka! Kemenkes Uganda Haramkan Warga Jabat Tangan Demi Cegah Penularan Wabah Ebola
Data terbaru otoritas DRC mencatat 131 kematian akibat virus tersebut terjadi di negara tetangga Uganda
Angga Yudha Pratama - Rabu, 20 Mei 2026
Senggolan Bawa Petaka! Kemenkes Uganda Haramkan Warga Jabat Tangan Demi Cegah Penularan Wabah Ebola
Indonesia
BRIN Jelaskan Cara Penularan hingga Pencegahan Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu
BRIN mengimbau masyarakat untuk memahami penularan hantavirus. Virus ini berasal dari hewan pengerat atau tikus liar.
Soffi Amira - Rabu, 13 Mei 2026
BRIN Jelaskan Cara Penularan hingga Pencegahan Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu
Indonesia
Hantavirus Ancam Dunia, DPR Desak Pemerintah Siapkan Deteksi Dini
Kasus hantavirus kini sudah muncul di Indonesia. Komisi IX DPR pun meminta pemerintah untuk memperkuat deteksi dini.
Soffi Amira - Senin, 11 Mei 2026
Hantavirus Ancam Dunia, DPR Desak Pemerintah Siapkan Deteksi Dini
Lifestyle
Dokter Tirta Sebut Hantavirus Sulit Jadi Pandemi Global, ini Alasannya
Dokter Tirta buka suara soal Hantavirus. Ia menyebutkan, bahwa penularannya sangat sulit.
Soffi Amira - Jumat, 08 Mei 2026
Dokter Tirta Sebut Hantavirus Sulit Jadi Pandemi Global, ini Alasannya
Indonesia
Jemaah Calon Haji Indonesia yang Wafat Bertambah Jadi 12 Orang, Kemenhaj Ungkap Penyebab
Dua jemaah calon haji Indonesia wafat di Arab Saudi. Kini, total calon haji yang meninggal dunia mencapai 12 orang.
Soffi Amira - Kamis, 07 Mei 2026
Jemaah Calon Haji Indonesia yang Wafat Bertambah Jadi 12 Orang, Kemenhaj Ungkap Penyebab
Bagikan