MERAHPUTIH.COM - KONFLIK Iran dan Israel membuat harga plastik dalam negeri melonjak signifikan. Situasi ini kian mencekik pelaku usaha yang bergerak di banyak sektor.
Hal itu mengingat plastik merupakan salah satu hasil industri yang banyak digunakan di berbagai sektor. Bukan hanya di bidang makanan dan minuman, industri kosmetik sampai jasa juga merasakan efek kenaikan harga plastik yang mengurangi keuntungan pengusaha.
Seperti dilansir ANTARA, kenaikan harga plastik di pasaran bahkan mencapai hingga 50 persen, tergantung pada jenis ukuran dan kualitas plastiknya. Sebagai contoh, jenis kantong plastik semula berharga normal, kini naik hingga Rp 5.000 bahkan Rp 10 ribu.
Dampak itu tak lepas dari tensi yang ada di Iran, dengan 99 persen plastik berasal dari bahan bakar fosil. Konflik Iran dan Israel menimbulkan energi lebih tinggi segera meningkatkan biaya produksi yang menyebabkan kenaikan harga dua digit untuk material seperti polietilen (PE) dan polipropilen.
Baca juga:
Air Hujan di Solo Terkontaminasi Microplastik, Bahayakan Kesehatan
Reuters menyebut kenaikan harga plastik memukul indsutri kecantikan juga. Ada tiga alasan kenaikan harga plastik berpengaruh terhadap industri kecantikan. Pertama, adanya kenaikan biaya di wadah plastik atau tabung plastik hingga transportasi.
Kedua, membengkaknya biaya bahan baku dan transportasi karena kenaikan harga minyak dan gangguan pengiriman.
Ketiga, melemahnya daya beli dari masyarakat karena harganya yang sudah tidak terjangkau krena inflasi.
"Kami mulai melihat peningkatan biaya yang didorong inflasi harga energi, diperparah keterlambatan pengiriman," kata Simone Dominici, CEO grup kosmetik Italia Kiko, yang memperkirakan biaya tambahan terkait logistik sekitar 1,5 juta euro (USD 1,7 juta) untuk grup tersebut selama setahun, dikutip Senin (6/4).(TKA)
Baca juga:
Kurangi Polusi Mikroplastik, Pemprov DKI Bangun RDF Plant dan PSEL