Penulis: Immanuel B.B Hutasoit. Ketua Ikatan Alumni StuNed (Studeren in Nederland)
Catatan: Seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
MERAHPUTIH.COM - Beberapa hari terakhir, jagat media sosial kita diramaikan oleh sebuah pernyataan tentang kewarganegaraan. Seorang penerima beasiswa negara mengungkapkan sesuatu yang memantik perdebatan panjang di ruang publik. Bukan soal benar atau salahnya pernyataan itu yang ingin dibahas di sini, namun penulis tergerak dan terdorong untuk berbagi refleksi tentang apa artinya menerima kepercayaan sebuah bangsa, dan apa yang seharusnya kita lakukan dengan kepercayaan itu.
Penulis jugalah seorang penerima program beasiswa. Program beasiswa itu bernama StuNed, Studeren in Nederland. Sebuah program kerjasama antara pemerintah Belanda dan Indonesia, yang telah menghasilkan lebih dari 4.600 alumni dari seluruh penjuru Nusantara.
Karena program ini lahir dari kerjasama khusus kedua negara, maka sebagai persyaratan, sebelum berbicara soal kemampuan bahasa asing, sebelum urusan Letter of Acceptance, serta segala persyaratan teknis yang lazim ada pada seleksi beasiswa, ada satu syarat yang tertulis paling atas. Syarat yang terkesan paling sederhana, namun menyimpan makna yang paling dalam, yaitu harus Warga Negara Indonesia.
Saat pertama membacanya, syarat itu hampir terlewat begitu saja. Toh, rasanya seperti hal yang sudah semestinya. Tapi makin ke sini, makin terasa dan perlu diresapi bahwa syarat itu adalah sebuah harapan yang dititipkan dengan sengaja. Bahwa siapapun yang terpilih, suatu hari nanti, diharapkan akan turut membangun Indonesia yang lebih baik. Bukan karena diwajibkan, bukan karena diperintahkan, tetapi karena layak untuk dipercaya. Dan kepercayaan itu tentulah bukan perkara kecil.
Baca juga:
Perantauan adalah Cermin Diri
Ada sesuatu yang tidak bisa diajarkan di dalam kelas manapun. Sesuatu yang hanya bisa ditemukan ketika kita jauh dari rumah, jauh dari bahasa ibu, jauh dari segala hal yang selama ini membuat kita merasa aman dan nyaman.
Di perantauan, tanpa disadari, sejatinya kita sedang belajar tentang diri kita sendiri. Perbedaan budaya, perbedaan bahasa, perbedaan tata krama dan cara berpikir, semuanya seperti cermin besar yang memantulkan siapa kita sesungguhnya. Seberapa tangguh kita, seberapa lentur menghadapi tantangan, seberapa jauh resiliensi yang selama ini kita kira miliki, apakah benar-benar ada ketangguhannya, atau justru tidak ada sama sekali.
Di Belanda, dan dari banyak kisah sesama perantau di berbagai negara, ada satu hal yang selalu terasa berbeda. Di sana, setiap orang didorong untuk berpendapat. Bukan sekadar diperbolehkan, tapi memang diharapkan untuk berpendapat. Ruang diskusi tidak dianggap hidup jika hanya satu atau dua suara yang berbicara. Ide harus sebanyak mungkin ditaruh di meja tengah, diadu, dipertajam, lalu disepakati bersama.
Hal ini berbeda dengan kebiasaan yang tanpa sadar banyak kita bawa dari kecil. Sejak dini, banyak dari kita tumbuh dalam budaya menurut. Bukan salah siapapun, memang begitulah yang diwarisi. Dan perlahan hal itu terbawa hingga dewasa, hingga ke meja kerja, dimana acap kali kita merasa lebih nyaman untuk diam dan menyimpan pendapat untuk diri sendiri.
Baca juga:
Baru 1,1 Juta Mahasiswa Dapat Beasiswa, Presiden Prabowo Ingin Diperbanyak
Padahal sejatinya, bangsa yang maju lahir dari warganya yang berani berpendapat, bukan dari mereka yang pandai mengangguk.
Perantauan mengajarkan keberanian itu. Dan pertanyaan yang kemudian tidak bisa lepas dari benak adalah: apakah pelajaran ini hanya menjadi milik kita sendiri, ataukah bisa kita bagikan kepada orang-orang di sekitar?
Jembatan yang Hidup
Mendapat kesempatan belajar di luar negeri bukan sekadar soal gelar atau ilmu yang dibawa pulang. Tanpa disadari, setiap penerima beasiswa otomatis menjadi apa yang dalam diplomasi kerap disebut sebagai living bridge, jembatan yang hidup. Bukan jembatan besi yang diam dan kaku, melainkan jembatan manusia yang bergerak, berbicara, dan menghubungkan dua dunia.
Di satu sisi, kita menjadi jembatan antara dua negara. Kita memahami cara berpikir orang setempat, mengerti konteks sosial dan budayanya, sekaligus membawa perspektif Indonesia ke dalam setiap interaksi di sana. Relasi yang terbangun selama masa studi, jaringan yang terbentuk di kampus dan komunitas, semua itu adalah aset diplomatik dan kultural yang nilainya tidak bisa diukur hanya dengan lembar ijazah.
Di sisi lain, dan ini yang sering terlupakan, kita adalah juga jembatan kemajuan untuk negeri sendiri. Setiap ide baru yang diperkenalkan, setiap keberanian berpendapat yang ditularkan, setiap pintu yang dibuka agar orang lain bisa merasakan kesempatan yang sama, semua itu adalah kerja-kerja jembatan yang nyata. Sepulang dari perantauan, itulah yang paling penting untuk diwujudkan, agar akses yang pernah terbuka untuk satu orang, bisa terbuka juga untuk orang-orang di sekitarnya. Sebab kemajuan memang seharusnya digetok-tularkan, bukan dimonopoli.
Baca juga:
150 Ribu Guru Bakal Dapat Beasiswa, Diberi Rp 3 Juta Per Semester
Kemana Arah Menghadap
Sejarah mencatat, Bung Hatta menghabiskan waktunya bertahun-tahun di Belanda sebelum akhirnya pulang ke tanah air. Bukan karena ia tidak cinta Indonesia. Justru sebaliknya, dari tanah Eropa itulah ia berjuang, berpikir, menulis, dan membangun fondasi kemerdekaan yang kelak menjadi warisan bagi seluruh bangsa. Ketika ia rasa saatnya tiba untuk melanjutkan perjuangan dari tanah air, barulah ia pulang.
Yang penting bukan kapan pulangnya. Yang penting, ke mana hatinya mengabdi.
Hari ini, ada ribuan diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Tidak sedikit dari mereka yang justru dari luar negeri membangun jembatan, membuka akses, dan memastikan bahwa kemajuan yang dirasakan juga bisa dinikmati oleh generasi berikutnya di tanah air. Setiap beasiswa pun memiliki ketentuan dan semangat yang berbeda-beda, ada yang mewajibkan kembali, ada yang tidak. Namun apapun ketentuannya, semangat yang seharusnya menyatukan semua alumni adalah satu, jangan putus dari tanah air, meski ragamu jauh darinya. Bukan di mana kita berdiri, tapi ke arah mana kita menghadap, itu yang penting.
Bagi yang sedang membawa nama Indonesia, yang sedang mengemasi koper menuju negeri orang, atau yang baru saja pulang dengan ijazah di tangan, pahamilah bahwa kita bukan sekadar penerima beasiswa, kita adalah penerima kepercayaan. Di balik setiap lembar dokumen seleksi yang dilalui, ada harapan yang dititipkan oleh banyak pihak. Harapan itu tidak selalu menuntut untuk langsung pulang, langsung bekerja di instansi tertentu, atau langsung melakukan hal-hal yang terlihat besar. Harapan itu hanya menuntut satu hal yang sederhana: jangan nikmati sendiri kemajuan itu. Bagikan ilmunya. Buka pintunya. Jadilah jembatan yang hidup, bukan sekadar alumni yang bergelar.
Baca juga:
Beasiswa dan Tunjangan Guru di Bawah Kementerian Agama Bakal Ditambah
WNI Adalah Panggilan Hidup
Dalam pidato Presiden Prabowo di Pembukaan Kongres ke-XVIII Muslimat Nahdlatul Ulama di Surabaya, 10 Februari 2025, ditegaskan dengan lantang: “Tugas ke luar negeri, tugas belajar boleh, tugas untuk atas nama negara boleh. Jangan tugas yang dicari-cari untuk jalan-jalan. Kalau mau jalan-jalan pakai uang sendiri.”
Sebagaimana kita tahu, pernyataan itu lahir dari konteks efisiensi anggaran, namun tanpa disadari statement itu juga menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Bahwa kepergian ke luar negeri, apalagi dengan beasiswa negara, bukanlah privilege yang patut dinikmati sendiri. Itu adalah mandat, dan mandat hanya bermakna jika hasilnya dikembalikan kepada bangsa, dalam bentuk apapun yang bisa dilakukan.
Penguatan SDM Indonesia merupakan salah satu pilar utama dalam visi Bersama Indonesia Maju, Menuju Indonesia Emas 2045. Cita-cita besar itu tidak akan terwujud hanya dari kebijakan dan anggaran. Ia akan terwujud dari manusia-manusia yang pulang membawa lebih dari sekadar ilmu, yang datang dengan keyakinan bahwa kemajuan yang mereka rasakan adalah titipan, bukan kepemilikan pribadi.
Di tengah perdebatan yang sedang ramai, rasa-rasanya tidak perlu ikut berteriak. Cukup duduk sejenak dan mengajak siapapun untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah kemajuan yang kita rasakan, juga kita bawa untuk orang-orang di sekitar kita?
WNI bukan status, WNI bukan sekadar syarat administrasi yang harus dipenuhi sebelum mengisi formulir beasiswa. WNI adalah panggilan hidup, dan panggilan itu tidak pernah kedaluwarsa.(*)
Penulis: Immanuel B.B Hutasoit. Ketua Ikatan Alumni StuNed (Studeren in Nederland)

