MerahPutih.com - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Jubir Kemlu) RI, Yvonne Mewengkang, mengaku menerima pesan pribadi dari seorang WNI yang diduga bergabung dengan militer Rusia.
Pesan itu dititipkan kepadanya untuk disampaikan Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, meski belum ada surat resmi yang masuk.
Baca juga:
8 Orang WNI Bergabung di Perang Ukraina-Rusia, Pemerintah Bakal Dengarkan Rusia
WhatsApp Langsung ke Nomor Pribadi Jubir Kemlu
Dalam taklimat media, Kamis (17/9), Yvonne mengungkapkan pesan via WhatsApp itu masuk langsung ke nomor pribadinya.
“Ada satu pesan WhatsApp yang notabene berasal dari WNI tersebut yang masuk ke nomor pribadi saya sebagai juru bicara untuk disampaikan kepada menteri luar negeri,” ujarnya.
Namun, Yvonne menolak membuka identitas pengirim maupun detail isi pesan. Jubir Kemlu itu hanya menegaskan komunikasi dari WNI yang berada di Rusia itu nyata dan sedang ditindaklanjuti.
Yvonne menegaskan terus berkoordinasi dengan KBRI Moskow, KBRI Kiev, serta kementerian dan lembaga terkait untuk memverifikasi identitas dan kondisi para WNI yang disebut bergabung ke tentara Rusia.
Fokus investigasi mencakup kontrak kerja, satuan militer, lokasi penugasan, hingga aktivitas harian para WNI itu di Rusia.
Poin penting yang ditekankan Yvonne kemungkinan adanya penipuan, eksploitasi, atau perekrutan melalui tawaran kerja menyesatkan.
“Apabila terdapat WNI yang menjadi korban, tentunya kami akan mengambil langkah pelindungan yang diperlukan,” tandasnya.
Baca juga:
Dasco dapat Info 8 WNI Gabung Militer Rusia Awalnya Daftar Lowongan Satpam
Dokumen Intelijen Ukraina Bongkar Pola Perekrutan WNI Masuk Militer Rusia
Diberitakan dari Antara, Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU) sebelumnya mengklaim telah menemukan dokumen perekrutan sedikitnya delapan WNI ke militer Rusia.
Nama-nama yang disebut antara lain Yuda Putra Pratama, Haryanto Dwi Kencana, Erwanda, Ngangun Hudri Fadli, Muhammad Syaripudin, M Hadi Maulana, Wahyu Oktavian Iskandar, dan Helmi Nuraha Hakim.
Laporan itu menyebutkan, para WNI awalnya dijanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi, tugas nontempur, percepatan memperoleh kewarganegaraan Rusia, serta berbagai tunjangan sosial. (*)