Ketahui Lebih Jauh Tentang 'Menstrual Cup' yang Tengah Viral
Ketahui fakta tentang menstrual cup yang tengah viral (Foto: Instagram @gittemary)
SETIAP bulan perempuan mengalami siklus menstruasi atau haid. Melansir laman alodokter, siklus ditandai dengan penebalan dinding rahim (endometrium) yang berisi pembuluh darah. Jika tidak terjadi pembuahan, endometrium akan mengalami peluruhan dan keluar bersama darah melalui bagian intim perempuan. Untuk menahan supaya darah dari siklus haid, para perempuan di Indonesia biasanya menggunakan pembalut.
Namun karena pembalut kini dianggap tidak ramah lingkungan, banyak perempuan yang mulai mencari alternatif lain. Beberapa alternatif yang dapat digunakan antara lain seperti pembalut kain, tampon, atau yang kini tengah populer, menstrual cup atau cawan menstruasi.
Baca juga:
Kenapa Haid Bisa Sangat Menyakitkan?
Apa sih itu menstrual cup? Adalah alat berupa corong yang dimasukkan ke dalam organ intim perempuan dan bertugas menahan darah menstruasi yang keluar. Menstrual cup dibuat dari bahan karet, silikon, latex, atau elastomer. Bahan-bahan tersebut dipilih karena sifat mereka yang dianggap lentur, steril dan mudah dibersihkan agar dapat digunakan kembali. Dilansir dari Medical News Today, menstrual cup dapat digunakan sampai 10 tahun.
Namun masih banyak perempuan yang ragu menggunakan menstrual cup. Kurangnya informasi tentang cara pemakaian menstrual cup dan juga ketakutan memasukkan 'benda yang mereka tak kenal' ke dalam organ intim mereka menjadi alasan kenapa mereka tidak mau mencoba menggunakan menstrual cup. Selain itu, beberapa wanita juga takut terjadi kebocoran ketika menggunakan menstrual cup.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh The Lancet Public Health, tingkat kebocoran menstrual cup setara dengan produk lainnya. Bahkan dalam beberapa kasus, tingkat kebocoran menstrual cup lebih rendah dibanding produk lainnya. 70% persen perempuan yang telah mengerti cara pemakaian menstrual cup merasa puas dan ingin lanjut menggunakan alat tersebut.
Faktor lain yang masih menjadi pertimbangan para perempuan untuk beralih ke penggunaan menstrual cup adalah resiko perkembangan bakteri. Para peneliti dari The Lancet Public Health menemukan bahwa resiko dari menstrual cup tidak berbeda jauh dari produk lain. Namun, mereka juga belum dapat memastikan tentang kasus toxic shock syndrome (TSS) yang biasanya dihubungkan dengan penggunaan tampon.
Baca juga:
Tak Perlu Repot Meghitung Tanggal, 3 Aplikasi Ini Bisa Bantu Pantau Siklus Haid
Menurut salah satu dokter kandungan-ginekologi, Jennifer Wu, selama peneliti dapat mencari hubungan dan resiko antara TSS dengan penggunaan menstrual cup, produk yang satu ini sangat aman dan pantas menjadi alternatif ketika sedang haid. Disarankan pengguna rajin membersihkan menstrual cup, sebisa mungkin 8 jam sekali ketika tengah digunakan. (sep)
Bagikan
Ananda Dimas Prasetya
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Dian Sastrowardoyo: Peran Perempuan Krusial di Tengah Disrupsi Teknologi AI
Pemprov DKI Luncurkan Kanal Aduan Lengkap untuk Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak