Kepulauan Indonesia Terbentuk 50 juta Tahun Lalu

P Suryo RP Suryo R - Kamis, 14 Oktober 2021
Kepulauan Indonesia Terbentuk 50 juta Tahun Lalu

Indonesia terdiri dari banyak pulau yang terbentuk 50 juta tahun lalu. (Foto: Pexels/ahmad syahrir)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

EVOLUSI pembentukan Kepulauan Indonesia dimulai sejak 50 juta tahun di masa Eosen awal sampai 5 juta tahun lalu di masa Pliosen awal.

Pembentukan Kepulauan Indonesia diungkap Tubagus Solihuddin, peneliti madya di Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan RI.

Baca Juga:

Cantiknya, Pohon Bakau 'Menari' di Pulau Sumba

indonesia
Pemaparan evolusi pembentukan Kepulauan Indonesia dalam kuliah umum di ITB. (Foto: dok. ITB)

“Pembentukan (Kepulauan Indonesia) ini tak lepas dari berbagai teori yang disampaikan para ahli. Batuan yang membeku merekam sifat magnetik saat proses pembentukannya yang menguatkan teori pengapungan benua Alfred Wegener. Selanjutnya, Harry Hess menggambarkan pemekaran dasar samudera dengan menentukan umur batuan dan paleoseanografi. Selain itu, pergerakan lempeng bumi juga memberikan pengaruh,” terang Tubagus Solihuddin.

Tubagus Solihuddin menyampaikan hal tersebut dalam kuliah umum dengan topik bahasan Paleogeografi Kepulauan Indonesia yang digelar Program Studi Oseanografi ITB, akhir pekan kemarin.

Ia melanjutkan, berbagai proses pembentukan Kepulauan Indonesia akhirnya membentuk gugusan kepulauan sedemikian rupa. Bentuk fisik alam Indonesia sangat dipengaruhi proses tektonik yang terjadi. Indonesia berada di antara empat benturan lempeng tektonik yang membuatnya dianugerahi banyak gunung api.

“Aktivitas seismik dari gunung api ini dikontrol oleh pola tektonik. Proses ini juga memicu beberapa patahan aktif yang dapat dipetakan oleh para ahli,” ungkapnya.

Baca Juga:

Yanjin, Kota Tersempit di Dunia

indonesia
Benturan lempeng tektonik yang membuatnya dianugerahi banyak gunung api. (Foto: Pexels/Capung Purnomo)

Selanjutnya, ia menerangkan tentang sea level dan dinamika pesisir. Dia memaparkan bahwa 14 ribu tahun yang lalu, Paparan Sunda dan Paparan Sahul adalah daratan yang terhubung. Begitu juga dengan Papua dan Australia. Ketinggian muka laut di zaman itu masih berada 120 meter lebih rendah daripada kondisi saat ini.

“Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi perubahan muka air laut, seperti mencairnya es di Kutub, kenaikan suhu air laut, deformasi, penurunan, ataupun pengangkatan dasar samudera, dan pertukaran air permukaan dengan air tanah,” tuturnya

Mangrove dan terumbu karang dapat menjadi indikator perubahan sea level ini. Mangrove dan terumbu karang akan mengalami adaptasi dengan kenaikan muka air laut. Ada sebagian yang akan bertahan, sebagian lainnya akan sulit mengimbangi perubahan.

Kuliah umum tersebut dibuka Ayi Tarya selaku Ketua Program Studi Oseanografi. Ia menyampaikan gagasan penyelenggaraan kuliah umum pertama ini berkaitan dengan rangkaian Program Nusantara yang merupakan Skema Riset Kemitraan Dasar 2021.

“Keberlangsungan kegiatan ini tidak lepas dari kolaborasi yang dilakukan bersama Université de Nantes, Institut des Sciences de la Terre, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, dan program Kampus Merdeka dari Kemdikbud,” ucapnya. (Imanha/Jawa Barat)

Baca Juga:

Toyoni, Danau Bentuk Hati Alami di Jepang

#Sains
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

P Suryo R

Stay stoned on your love
Show More

Berita Terkait

Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Dunia
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Badan antariksa Amerika Serikat NASA mengumumkan misi antariksa Artemis II akan membawa kru manusia meluncur ke bulan.
Dwi Astarini - Kamis, 02 April 2026
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Lifestyle
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Kerangka itu ditemukan terkubur di sebuah makam di depan altar Gereja St Peter and Paul di Kota Maastricht, Belanda Selatan.
Dwi Astarini - Selasa, 31 Maret 2026
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Bagikan