EVOLUSI pembentukan Kepulauan Indonesia dimulai sejak 50 juta tahun di masa Eosen awal sampai 5 juta tahun lalu di masa Pliosen awal.
Pembentukan Kepulauan Indonesia diungkap Tubagus Solihuddin, peneliti madya di Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan RI.
Baca Juga:
“Pembentukan (Kepulauan Indonesia) ini tak lepas dari berbagai teori yang disampaikan para ahli. Batuan yang membeku merekam sifat magnetik saat proses pembentukannya yang menguatkan teori pengapungan benua Alfred Wegener. Selanjutnya, Harry Hess menggambarkan pemekaran dasar samudera dengan menentukan umur batuan dan paleoseanografi. Selain itu, pergerakan lempeng bumi juga memberikan pengaruh,” terang Tubagus Solihuddin.
Tubagus Solihuddin menyampaikan hal tersebut dalam kuliah umum dengan topik bahasan Paleogeografi Kepulauan Indonesia yang digelar Program Studi Oseanografi ITB, akhir pekan kemarin.
Ia melanjutkan, berbagai proses pembentukan Kepulauan Indonesia akhirnya membentuk gugusan kepulauan sedemikian rupa. Bentuk fisik alam Indonesia sangat dipengaruhi proses tektonik yang terjadi. Indonesia berada di antara empat benturan lempeng tektonik yang membuatnya dianugerahi banyak gunung api.
“Aktivitas seismik dari gunung api ini dikontrol oleh pola tektonik. Proses ini juga memicu beberapa patahan aktif yang dapat dipetakan oleh para ahli,” ungkapnya.
Baca Juga:
Selanjutnya, ia menerangkan tentang sea level dan dinamika pesisir. Dia memaparkan bahwa 14 ribu tahun yang lalu, Paparan Sunda dan Paparan Sahul adalah daratan yang terhubung. Begitu juga dengan Papua dan Australia. Ketinggian muka laut di zaman itu masih berada 120 meter lebih rendah daripada kondisi saat ini.
“Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi perubahan muka air laut, seperti mencairnya es di Kutub, kenaikan suhu air laut, deformasi, penurunan, ataupun pengangkatan dasar samudera, dan pertukaran air permukaan dengan air tanah,” tuturnya
Mangrove dan terumbu karang dapat menjadi indikator perubahan sea level ini. Mangrove dan terumbu karang akan mengalami adaptasi dengan kenaikan muka air laut. Ada sebagian yang akan bertahan, sebagian lainnya akan sulit mengimbangi perubahan.
Kuliah umum tersebut dibuka Ayi Tarya selaku Ketua Program Studi Oseanografi. Ia menyampaikan gagasan penyelenggaraan kuliah umum pertama ini berkaitan dengan rangkaian Program Nusantara yang merupakan Skema Riset Kemitraan Dasar 2021.
“Keberlangsungan kegiatan ini tidak lepas dari kolaborasi yang dilakukan bersama Université de Nantes, Institut des Sciences de la Terre, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, dan program Kampus Merdeka dari Kemdikbud,” ucapnya. (Imanha/Jawa Barat)
Baca Juga: