Kenali Sejumlah Penyebab Krisis Air Global

Raden Yusuf NayamenggalaRaden Yusuf Nayamenggala - Jumat, 10 September 2021
Kenali Sejumlah Penyebab Krisis Air Global

Ada sejumlah faktor yang bisa menyebabkan krisis air global (Foto: Pixabay/3345308)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

TIDAK perlu ahli hidrologi untuk menyadari bahwa ada krisis air global yang berkembang. Setiap bulan Agustus, sejumlah ahli air, inovator industri hingga peneliti berkumpul di Stockholm untuk Pekan Air Dunia, guna mengatasi masalah air yang paling darurat di Bumi.

Adapun sejumlah tanda-tanda krisis air global yang bisa terjadi akibat sejumlah perubahan yang dilakukan oleh manusia, seperti yang dilansir dari laman wri.org.

Baca Juga:

Senjata Rahasia Turunkan Berat Badan: Air

Sejumlah daerah menjadi lebih kering dan curah hujan tidak menentu (Foto: Pixabay/steveofstonehenge)

Pertama yakni daerah yang kering menjadi lebih kering, serta curah hujan lebih bervariasi dan cenderung ekstrem. Perubahan iklim tersebut menghangatkan bumi, dan membuat bumi semakin terik.

Pada saat yang sama, awan pun bergerak menjauh dari ekuator menuju kutub, akibat fenomena yang didukung oleh perubahan iklim. Hal itu menghilangkan daerah khatulistiwa seperti Afrika sub-Sahara, Timur Tengah dan Amerika Tengah dari air hujan yang memberi kehidupan.

Paradoksnya, perubahan iklim tersebut meningkatkan curah hujan pada daerah lain, dan merugikan orang-orang yang tinggal di dekat aliran sungai.

Saat ini setidaknya ada 21 juta orang di seluruh dunia berisiko mengalami banjir sungai setiap tahun. Jumlah tersebut bisa meningkat menjadi 54 juta di 2030.

Faktor kedua yakni jumlah populasi masyarakat yang meningkat. Istilahnya 'Lebih banyak orang dan lebih banyak uang, maka lebih banyak permintaan air'.

Populasi dunia yang ada sekitar 7,5 miliar, diproyeksikan akan menambah sekitar 2,3 miliar orang di tahun 2050. Tentunya, semakin banyak orang yang membutuhkan air.

Baca Juga:

Perbedaan Antara Green Tourism, Ecotourism dan Sustainable Tourism

Jumlah populasi yang meningkat membuat kebutuhan air kian meningkat (Foto: Pixabay/geralt)

Faktor ketiga yaitu air tanah yang sedang dikuras. Sekitar 30 persen air tawar bumi terletak jauh di bawah tanah di akuifer. Air tersebut diekstraksi setiap hari untuk pertanian, minum hingga industri.

Kerap kali pada tingkat yang berbahaya dan berkelanjutan. Seperti halnya di India, yang menghabiskan lebih banyak air tanah dibanding negara lain.

Sebanyak 54 persen sumur air tanah India berkurang. Itu artinya, air digunakan lebih cepat daripada diisi ulang. Bila pola itu tidak berubah, dalam 20 tahun, 60 persen akuifer India akan berada pada kondisi kritis.

Berbeda halnya dengan danau yang mengering, kamu tidak bisa melihat dengan mata telanjang ketika cadangan air tanah di akuifer menurun. Karena itu, pasokan air global rentang dengan ancaman yang 'tersembunyi' dan terus berkembang itu.

Faktor keempat yakni infrastruktur air dalam keadaan rusak. Memiliki cukup air untuk berkeliling hanyalah permulaan. Tapi air jgua perlu diangkut, diolah dan dibuah.

Di dunia, infrastruktur air, instalasi pengolahan pipa, dan sistem pembuangan berada dalam kondisi rusak. Di Amerika Serikat, 6 miliar galon air yang diolah hilang per hari akibat kebocoran pipa.

Baca Juga:

Jangan Cuci Peralatan Masak Berminyak dengan Air Panas

Banyak air yang terbuang sia-sia (Foto: Pixabay/publicdomainpictures)

Infrastuktur yang dibangung dikenal mahal untuk dipasang dan diperbaiki. Itu berarti, banyak daerah mengabaikan masalah infrastuktur yang berkembang, hingga terjadinya bencana.

Faktor kelima yakni air yang terbuang. Kendati benar bahwa air merupakan sumber daya yang terbarukan, tapi air kerap kali terbuang sia-sia.

Hal itu diakibatkan oleh praktik yang tidak efisien, seperti irigasi banjir serta pendinginan basah intensif air di pembangkit listrik termal, menggunakan lebih banyak air daripada yang diperlukan.

Selain itu, karena ulah manusia yang mencemari air pada tingkat menghawatirkan, manusia pun gagal mengolahnya. Ada sekitar 80 persen air limbah dunia dibuang kembali alam tanpa pengolahan lebih lanjut, atua penggunaan kembali.

Di Sejumlah negara, lebih banyak menerima air minum bersih, dibanding mengolah dan membuang air limbah yang mengakibatkan pemborosan air.

Baca Juga:

Air Bersih, Salah Satu Masalah Global yang Semakin Buruk

Harga air banyak diremehkan di sejumlah negara (Foto: Pixabay/bru-no)

Faktor krisis air yang terakhir yakni harga yang salah. Secara global air sangat diremehkan. Harga air tak mencerminkan biaya total layanan yang sebenarnya. Dari mulai transportasi lewat infrastuktur, hingga perawatan dan pembuangan.

Hal itu tentunya menyebabkan misalokasi air, serta kurangnya investasi pada infrastuktur dan teknologi air baru, yang menggunakan air lebih efisien.

Terlebih pemerintah atau perusahaan memilih investasi pada teknologi hemat air yang mahal. Padahal, ketika air lebih murah daripada teknologi yang dimaksud dan ketika harga penerimaan, harga air bersih lebih dekat dengan biaya layanan sebenarnya, penggunaan air yang efisien bisa dilakukan.

Tapi saat ini belum terlalu terlambat, karena dari sekian faktor yang bisa menyebabkan krisis air global. Pemerintah, bisnis, universitas dan warga di dunia sadar akan tantangan air, dan mulai mengambil tindakan. (Ryn)

Baca Juga:

Hotel Terbaik Dunia dengan Konsep Sustainable

#Lipsus Bulan September #Pemanasan Global #Krisis Air
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Raden Yusuf Nayamenggala

I'm not perfect but special
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Cuaca Panas Ekstrem Bahayakan Ibu Hamil dan Newborn
suhu panas ekstrem yang terjadi selama kehamilan makin terikat dengan kelahiran prematur, bayi lahir mati, berat rendah, serta komplikasi maternal pada ibu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
  Cuaca Panas Ekstrem Bahayakan Ibu Hamil dan Newborn
Dunia
15 Pulau Anyar Muncul Kawasan Arktik Akibat Pemanasan Global
Pemanasan global menyebabkan bagian depan gletser, yang dikenal sebagai gletser outlet, mengalami penyusutan
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
15 Pulau Anyar Muncul Kawasan Arktik Akibat Pemanasan Global
Dunia
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Pemanasan global telah merusak stabilitas ekologi Himalaya yang rapuh, melelehkan permafrost serta gletser, dan mempercepat timbulnya berbagai bahaya.
Dwi Astarini - Jumat, 25 September 2026
Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis
Dunia
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya
Sebanyak 12,5 triliun ton es kutub mencair sejak 1970-an akibat pemanasan global. Simak data satelit terbaru dan dampak mengerikan kenaikan permukaan laut di sini
Angga Yudha Pratama - Kamis, 24 September 2026
Kiamat Es Greenland dan Antartika: 12,5 Triliun Ton Lenyap, Ini Dampak Mengerikannya
Indonesia
Politisi AS dan Uni Eropa Siapkan Teknologi Rekayasa Iklim
Para aktivis lingkungan menentang keras penggunaan teknologi tersebut karena berisiko merusak lapisan ozon pelindung bumi
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
Politisi AS dan Uni Eropa Siapkan Teknologi Rekayasa Iklim
Indonesia
Krisis Air Bersih Melanda Jaksel, BPBD Kerahkan Mobil Tangki 5.000 Liter
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Selatan mengerahkan mobil tangki berkapasitas 5.000 liter untuk memasok air bersih kepada warga terdampak.
Yusuf Abdillah - Selasa, 15 September 2026
Krisis Air Bersih Melanda Jaksel, BPBD Kerahkan Mobil Tangki 5.000 Liter
Dunia
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Terjadi persis seperti yang telah diperkirakan para ilmuwan sejak puluhan tahun lalu.
Dwi Astarini - Jumat, 11 September 2026
Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, Perubahan Iklim dan El Nino Penyebabnya
Indonesia
12 Kecamatan di Tangerang Alami Krisis Air Akibat Kekeringan
BPBD juga terus memantau perkembangan cuaca bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 30 Juli 2026
12 Kecamatan di Tangerang Alami Krisis Air Akibat Kekeringan
Indonesia
Munich Darurat Air, Nyuci Mobil Sendiri Bisa Bikin Rekening Tabungan Langsung Jebol
Aturan baru ini melarang warga mengisi atau mengoperasikan kolam renang pribadi, air mancur pribadi, serta fasilitas bermain air
Angga Yudha Pratama - Rabu, 15 Juli 2026
Munich Darurat Air, Nyuci Mobil Sendiri Bisa Bikin Rekening Tabungan Langsung Jebol
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Bagikan