Kembangkan Kemampuan Motorik dan Berpikir Strategis Anak lewat Sepak Bola
Sepak bola berikan banyak manfaat bagi anak. (Foto: Unsplash/Omar Ram)
SEGERA kenalkan anak kamu ke sepak bola. Ketua Ikatan Psikolog Klinis Wilayah DKI Jakarta Anna Surti Ariani mengatakan olahraga sepak bola memiliki banyak manfaat untuk anak-anak dalam mengembangkan kemampuan motorik dan berpikir strategis mereka.
Seperti diberitakan Antara, Kamis (3/11), Anna menjelaskan bahwa dalam proses tumbuh kembang, ada dua hal penting yang dilatih ketika anak bermain sepak bola, yakni kerja sama dan kedisiplinan. Saat bermain bola, khususnya yang mengembangkan hobi tersebut secara profesional, anak dituntut selalu disiplin agar dapat meningkatkan kemampuan.
Berlatih tiap hari, pantang menyerah, dan tekun untuk mencapai tujuan yang diinginkan, bisa jadi nilai-nilai yang baik yang ditanamkan pada anak lewat olahraga sepak bola. Bermain sepak bola, menurut Anna, juga dapat memberikan sejumlah manfaat psikologis lainnya.
Baca juga:
Apa Saja Sih Manfaat Bermain Bowling?
Misalnya, anak menjadi lebih percaya diri, sehingga dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi, membaca situasi, dan berpikir untuk menyelesaikan masalah serta mencari strategi. Seluruh kemampuan tersebut, menurut Anna, akan berguna di masa mendatang meski tak jadi pemain bola profesional.
"Dari situ dia bisa percaya bahwa untuk mencapai sesuatu harus ada kerja sama tim, berbagi komunikasi, kesempatan, dan tugas. Kita butuh kerja sama untuk untuk berbagai kegiatan kehidupan masyarakat dan itu bisa dikembangkan lewat sepak bola," terang alumni Universitas Indonesia itu.
Lebih lanjut, psikolog klinis itu mengatakan bermain sepak bola juga dapat membuat anak belajar berbagai macam hal baru dari rekan sepermainannya. Tak hanya itu, dalam sebuah permainan bola, anak juga akan saling mengingatkan untuk tidak membuat kesalahan.
Baca juga:
Mini Soccer, Trend Baru Bermain Sepak Bola
Kebiasaan tersebut secara tidak langsung dapat membantu anak untuk menyebarkan kebaikan dan menanam kebiasan baik di dalam dirinya. Menurut Anna, proses belajar seperti itu disebut sebagai peer-to-peer learning. "Ini bagus banget untuk perilaku yang baik. Ketika anak-anak udah punya kebiasaan itu, mereka bisa jadi agent of change," terangnya.
Anna menambahkan, semakin dini kebiasaan-kebiasaan baik itu ditanamkan, maka akan semakin baik pula hasilnya pada anak. Sebab, menurutnya, efek tersebut akan sangat terlihat saat anak mulai beranjak dewasa.
"Segala pembentukan kebiasaan memang harus dimulai sejak dini. Kalau baru diajarkan saat dewasa, efeknya tidak akan terbentuk dan apa yang diajarkan menumpuk begitu saja," tandasnya. (waf)
Baca juga:
Kenali Perbedaan Anak Laki-Laki dan Perempuan
Bagikan
Andrew Francois
Berita Terkait
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah