Kampanye ‘Ayo Imunisasi STOP Pneumonia’ untuk Hari Anak Nasional
Kampanye Ayo Imunisasi Stop Pneumonia secara online dihadiri kurang lebih 400 orang. (Foto: Istimewa)
MEMPERINGATI Hari Anak Nasional 2021, Save the Children bersama dengan dukungan Pfizer Indonesia mengadakan kampanye daring Ayo Imunisasi STOP Pneumonia. Kegiatan kampanye ini dilakukan sekaligus untuk meluncurkan lagu STOP Pneumonia yang telah memperoleh penghargaan sebagai lagu tentang pneumonia pertama di di Indonesia.
Sebanyak kurang lebih 400 peserta hadir dalam kampanye Ayo Imunisasi STOP Pnemonia. Turut hadir Menteri Kesehatan dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam kampanye yang digelar daring tersebut.
Bambang Chriswanto selaku Policy and Public Affairs Director Pfizer Indonesia, turut bangga menjadi bagian
dari kegiatan kampanye STOP Pneumonia yang diadakan oleh Save the Children. Ia berharap keterlibatannya
memberikan konstribusi yang positif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya pnemonia.
Baca juga:
Enak, 4 Snack Sehat ini Disukai Anak-Anak
“Kami bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan dukungan Pfizer melalui acara kampanye Ayo Imunisasi STOP Pneumonia, mengajak pemangku kepentingan dan orangtua untuk menjadikan Hari Anak Nasional 2021 dan pencanangan vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) oleh Kemenkes di 2021 sebagai upaya bersama dalam mencegah kematian anak akibat pneumonia," ujar CEO Save the Children Indonesia, Selina Sumbung.
Membangun kesadaran akan pentingnya pemberian imunisasi secara penuh sebagai bentuk penyelamatan dan kelangsungan hidup anak, yang mana adalah hak utama anak. "Kami berharap, pneumonia 'the silent killer' pada anak dapat berkurang ke depannya," tambahnya.
Pneumonia merupakan penyakit yang menyebabkan peradangan pada paru-paru. Pneumonia juga memiliki memiliki ungkapan dengan 'the sillent killer' atau 'the forgotten killer'. Hal ini menjadi perhatian penting karena dalam situasi pandemi COVID-19, kesehatan harus dijaga. Mengingat gejala yang muncul ketika terpapar virus tersebut yakni di pernapasan.
Perlu diketahui bahwa pneumonia ini tidak hanya dialami oleh anak, penyakit ini juga kerap diderita oleh lansia
dan sering terlambat disadari. Hal ini dikarenakan gejala awal yang dialami penderita sulit dibedakan dengan penyakit pernapasan lain yang ringan seperti pilek dan selesma.
Berbagai faktor yang menjadi penyebab pneumonia pada anak, seperti belum terpenuhinya ASI eksklusif (54%), berat badan lahir rendah (10,2%), belum imunisasi lengkap (42,1%), serta polusi udara di ruang tertutup dan rumah yang padat. (Cil)
Baca juga:
Bagikan
Ananda Dimas Prasetya
Berita Terkait
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk